Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Di Balik Cadar dan Kitab Kuning: Menyaksikan Semangat Santriwati di PPS Al Madani Silaut

Adriyanto Syafril • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:35 WIB
Santri PPS Al Madani sedang belajar di ruang kelas beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Santri PPS Al Madani sedang belajar di ruang kelas beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Elvis Betrizon - Asesor, Satuan Pendidikan TK/PAUD, dan PPS. 

Tanggal 20–21 Mei 2026 menjadi pengalaman yang cukup membekas bagi saya. Bersama Yasril Harfi, saya mendapat tugas dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah  Provinsi Sumatera Barat untuk melaksanakan visitasi ke PPS Al Madani yang berlokasi di Jalan Poros Trans Silaut, Nagari Sungai Sarik, Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan. Pondok pesantren ini dipimpin oleh Ust. Syafi’i Sulaiman, sosok yang tampak tenang dan kharismatik, namun memiliki perhatian besar terhadap pembinaan ilmu, adab, serta kedisiplinan para santri.

Perjalanan menuju pondok terasa cukup panjang. Kami berangkat dari Padang selepas Magrib dan baru tiba menjelang pukul tiga dini hari di kawasan tapal batas Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Bengkulu, tepatnya wilayah yang berdekatan dengan Kabupaten Mukomuko. Sepanjang perjalanan,  suasana malam terasa semakin hening dan damai. Namun justru di tempat yang relatif jauh dari pusat keramaian itulah saya menemukan denyut pendidikan Islam yang hidup, tumbuh, dan berjalan dengan disiplin yang begitu kuat.

Sejak pertama memasuki lingkungan pondok, saya langsung merasakan suasana yang berbeda. Di kampung saya, pondok biasanya identik dengan santri putra. Aktivitas keagamaan, kajian kitab, hingga kehidupan asrama lebih banyak didominasi laki-laki. Akan tetapi di PPS Al Madani, kondisinya justru berbeda.

Mayoritas penghuni pondok adalah santriwati. Mereka menjadi wajah utama kehidupan pesantren.

Meski demikian, aturan pemisahan antara putra dan putri diterapkan sangat ketat. Tidak boleh ada lelaki yang sembarangan masuk ke area putri, demikian pula sebaliknya. Baik santri maupun guru menjaga batas-batas itu dengan penuh kedisiplinan. Suasana pondok terasa tertib, sederhana, dan penuh kehati-hatian dalam menjaga adab pergaulan.

Kebetulan, karena kebutuhan observasi, saya memperoleh akses untuk melihat langsung area santriwati, termasuk asrama dan ruang belajar mereka. Dari situlah saya mulai menyaksikan kehidupan para santriwati di pondok ini dari dekat. Saya melihat rutinitas yang tidak ringan, tetapi dijalani dengan kesungguhan yang luar biasa.

Jam empat pagi kehidupan pondok sudah dimulai. Dalam udara Silaut yang masih dingin dan gelap, para santriwati bangun untuk melaksanakan tahajud.

 Setelah itu mereka mengikuti istighosah, salat Subuh berjamaah, lalu dilanjutkan dengan program kitab, tahfidz, dan berbagai amalan harian lainnya. Aktivitas berjalan nyaris tanpa jeda hingga pukul 21.00 WIB. Ritme kehidupan mereka tampak begitu teratur dan disiplin.

Yang menarik perhatian saya bukan hanya jadwal mereka yang padat, tetapi juga kesungguhan cara hidup yang mereka jalani. Para santriwati berpakaian gelap dan bercadar. Mereka berjalan tenang, tertib, dan menjaga adab. Dari luar, sebagian orang mungkin membayangkan kehidupan yang tertutup dan kaku. Namun setelah melihat langsung proses belajar mereka, saya justru menemukan gairah intelektual yang kuat. Dalam sesi dokumentasi, saya mengajak para santriwati untuk tetap tampil percaya diri, santun, dan inspiratif melalui foto dengan gaya kekinian.

Sebagaimana santri putra, para santriwati juga mengikuti program alim dan program tahfidz. Mereka menghafal Al-Qur’an sekaligus mendalami kitab kuning.

Dalam sehari, minimal wajib setor  delapan ayat. Di ruang belajar, saya melihat mereka duduk rapi dengan kitab di tangan, menyimak penjelasan, mencatat makna demi makna, lalu mengulang pelajaran dengan serius. Tradisi belajar klasik pesantren tetap hidup di sana.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah proses pembelajaran kitab kuning itu sendiri. Sebelumnya saya pernah melakukan visitasi ke sebuah pondok pesantren di Kayutanam. Padang Pariaman. Di sana, santriwati juga belajar kitab kuning, tetapi pengajarnya masih ustaz laki-laki. Di PPS Al Madani Silaut, para santriwati belajar langsung kepada ustazah. Ada kesinambungan pendidikan perempuan yang terasa sangat kuat.

Saya melihat bagaimana ustazah mengajar dengan penuh ketekunan dan kewibawaan. Santriwati menyimak dengan hormat dan disiplin. Suasana belajar berlangsung sederhana, tetapi menghadirkan kesan mendalam. Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, pondok ini tetap menjaga tradisi keilmuan Islam klasik sambil membangun pendidikan perempuan dengan serius.

Dari berbagai percakapan selama visitasi, saya juga menangkap bagaimana Ust. Syafi’i Sulaiman berupaya menjaga keseimbangan antara pendidikan ilmu agama, pembentukan karakter, dan kedisiplinan hidup santri. Pondok tidak hanya diarahkan untuk mencetak penghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak, ketahanan hidup, dan kemampuan memahami agama secara mendalam.

Visitasi ini membuat saya menyadari bahwa pesantren hari ini tidak lagi bisa dipandang dengan cara lama. Perempuan di lingkungan pesantren bukan sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi ilmu dan pendidikan Islam. Mereka bukan hanya diajarkan menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang memahami kitab, menjaga adab, dan siap menjadi penerus tradisi keilmuan.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat para santriwati itu berjalan menuju ruang belajar saat hari masih sangat pagi. Dalam kesunyian pondok, mereka memulai hari dengan tahajud, zikir, hafalan, dan kitab. Di balik cadar yang mereka kenakan, tersimpan semangat belajar yang kuat. Di balik suasana pondok yang tampak tenang, ada kehidupan ilmu yang terus bergerak sejak dini hari hingga malam.

Bagi saya, tugas visitasi ini akhirnya bukan sekadar kegiatan asesmen kelembagaan. Ada pengalaman batin yang ikut saya bawa pulang. PPS Al Madani Silaut memperlihatkan bahwa di tempat yang jauh dari keramaian kota, pendidikan tetap tumbuh dengan kuat. Di sana, para santriwati sedang menyiapkan masa depan mereka melalui hafalan Al-Qur’an, kitab kuning, ibadah, dan kedisiplinan hidup.

Dan mungkin, dari tempat sunyi seperti itulah lahir generasi perempuan yang kelak akan menjaga ilmu, adab, dan peradaban. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat