Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kurikulum Berganti, Guru Tetap Nahkoda

Adriyanto Syafril • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)
Ilustrasi. (REZA FEBRINO/PADEK)

Penulis : Yuliana Putri, S.Pd - Guru Bahasa Indonesia UPT SMPN 1 X Koto

Dunia pendidikan terus mengalami perkembangan. Dapat dikatakan, dunia pendidikan selalu mengalami perubahan. Perubahanyang terjadi bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. 

Perubahan dalam dunia pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan zaman, kurikulum terus diperbaharui untuk menjawab tantangan masa depan. Perubahan tersebut bukan berarti tanpa tujuan, kurikulum dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan murid dengan perkembangan teknologi dan kehidupan sosial yang terus bergerak cepat.

Namun, kondisi ini juga menimbulkan polemik bagi pendidik khususnya. Belum selesai masa penyesuian dengan satu kebijakan, muncul lagi kebijakan baru.

Pada kenyataannya, tengah asik dengan satu kurikulum, muncul lagi kurikulum dengan segala bentuk perubahannya. Kurikulum berubah, istilah berubah, pendekatan berubah, format administrasi berubah, bahkan format penilaian pun ikut berubah. Namun, kembali pada tujuan pendidikan kita, bahwa dunia pendidikan perlu berbenah dengan harapan kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

Sebagian dari guru menyambut perubahan ini dengan optimisme, tetapi tidak sedikit pula yang merasa lelah. Lelah di sini adalah dalam hal penyesuaian kembali terkait dengan perubahan yang ada. Ada yang khawatir tidak akan sanggup untuk mengikuti dan menjalankan tugas sesuai dengan perubahan, ada yang merasa cemas kalau-kalau yang dilakukan di kelas tidak sesuai dengan kebijakan, bahkan ada juga yang pusing mau apa nantinya di kelas. Hal ini sebenarnya adalah kondisi yang wajar, karena perubahan yang terjadi tentu menuntut guru untuk memberikan sesuatu yang lebih juga dari perlakuan sebelumnya.

Salah satu perubahan yang berlaku sekarang adalah, mengajar tidak bisa hanya mengandalkan satu buku saja sebagai sumber belajar. Perkembangan teknologi yang semakin maju, juga harus diikuti guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas. Guru harus mampu mengoperasikan perangkat digital untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru juga diharapkan dapat lebih kreatif dalam pembelajaran, sehingga apa yang diharapkan kurikulum dapat tercapai dengan maksimal.

Terlepas dari kekhawatiran dan kecemasan terkait perubahan yang ada, satu hal yang tidak akan pernah berubah, yaitu bagaimanapun dan apapun bentuk perubahan dari kurikulum dan pendekatan yang digunakan, tetap saja guru adalah nahkodanya. Mengapa demikian? Bagaimanapun perubahan yang terjadi, tetap guru adalah penentu utama hidupnya pembelajaran di kelas. Kurikulum dapat diibaratkan sebuah peta. Sedangkan guru adalah nahkoda yang menentukan bagaimana perjalanan itu berlangsung hingga mencapai tujuan.

Seorang nahkoda tidak hanya memahami tujuan perjalanan, tetapi juga mampu membaca situasi, menyesuaikan strategi, dan memastikan semua penumpang sampai dengan tujuan dengan baik. Begitu pula seorang guru, guru bukan hanya sekadar penyampai materi, melainkan pemimpin pembelajaran yang menentukan bagaimana suasana belajar terbentuk di kelas.

Sebagus apapun kurikulum yang dirancang, pembelajaran tidak akan bermakna tanpa sentuhan seorang guru. Sebaliknya, guru yang kreatif dan inovatif akan menyulap ruangan kelas menjadi ruang yang penuh dengan semangat dan antusias murid untuk belajar. Untuk itu seorang guru perlu memutar otak untuk menciptakan ruangan kelas yang dapat memberikan kebermaknaan pada murid dan mengantarkan murid pada pembelajaran yang menyenangkan.

Upaya yang dapat dilakukan agar dapat menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, tetapi tetap bermakna adalah dengan memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat. Apalagi untuk sekarang ini, guru tidak terlalu sulit untuk membuat media pembelajaran karena sudah ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Nah di sinilah peran guru sebagai penentu di kelas dimulai. Guru memikirkan bagaimana cara agar selama perjalanan murid terarah, bergembira, dan mencapai hasil yang maksimal.

Hal yang dapat dilakukan guru diantaranya: pertama, guru perlu membangun pembelajaran yang dekat dengan kehidupan murid. Pelajaran akan mudah dipahami murid apabila dikaitkan dengan kondisi nyata mereka sehari-hari. Contoh dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat mengaitkan materi teks deskripsi dengan mengajak murid untuk menggambarkan lingkungan tempat tinggalnya, makanan khas di daerahnya, dan lain sebagainya.

Kedua, guru perlu menciptakan suasana kelas yang aktif dan aman untuk belajar. Sebenarnya banyak murid yang memiliki kemampuan, tetapi mereka takut untuk berpendapat karena khawatir salah dan ditertawakan. Nah, dalam situasi ini guru berperan dalam memilih metode belajar agar semua murid dapat menyampaikan pendapat dengan percaya diri.

Ketiga, guru perlu mengembangkan budaya literasi. Literasi buka sebatas membaca buku saja. guru dapat membangun literasi murid dengan cara tanya jawab hal-hal sederhana, menulis refleksi, atau curah rasa di akhir pembelajaran. Dengan demikian, murid akan merasa bahwa keberadaannya berarti di dalam kelas, bukan hanya pelengkap absensi saja.

Keempat, guru juga perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi. Teknologi bukanlah hal yang meakutkan, tetapi teknologi adalah teman yang dapat membantu jalannya sebuah pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Kurikulum boleh berubah, pendekatan boleh beralih, dan metode pembelajaran terus berkembang. Teknologi mungkin akan semakin canggih seiring perkembangan zaman. Akan tetapi, satu hal yang tetap takkan berubah, yaitu guru akan tetap dibutuhkan sebagai grada di depan. Dunia pendidikan membutuhkan guru yang mampu mengarahkan, menginspirasi, dan membimbing murid menuju masa depan mereka. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat