Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Refleksi dari Balik Meja Guru: Cermin Retak itu Bernama TKA

Adriyanto Syafril • Selasa, 2 Juni 2026 | 08:45 WIB
Medi Adioska.
Medi Adioska.

Penulis : Medi Adioska, S.Pd., M.Pd. - Guru SD Negeri 06 Pulai Anak Air, Bukittinggi

Angka-angka itu tidak berbohong. Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar diumumkan, yang tersisa bukan sekadar deretan nilai — melainkan pertanyaan besar yang menggantung di udara: ada apa dengan anak-anak kita?

Merosotnya performa siswa SD dalam TKA bukan peristiwa yang datang tiba-tiba. Bagi siapa pun yang setiap hari berdiri di depan kelas, gejala ini sudah lama bisa dirasakan — jauh sebelum angka resmi keluar. Kemampuan membaca yang tersendat, operasi hitung dasar yang goyang, dan daya nalar yang belum terbentuk kokoh. Hasilnya kini terpampang jelas dalam laporan yang sulit untuk diabaikan.

Tidak adil rasanya langsung menuding Kurikulum Merdeka sebagai satu-satunya biang kerok. Semangat di balik kurikulum ini sesungguhnya mulia: membebaskan guru dari tekanan hafalan, memberi ruang eksplorasi bagi siswa, dan mendorong pembelajaran yang bermakna. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), pembelajaran berdiferensiasi, dan asesmen diagnostik adalah gagasan yang secara teoritis layak diapresiasi. Namun teori dan ruang kelas adalah dua dunia yang berbeda.

Masalah pertama adalah kecepatan implementasi yang melampaui kesiapan. Kurikulum Merdeka diluncurkan dan diperluas dalam rentang waktu yang singkat, sementara di lapangan banyak guru — terutama di sekolah-sekolah pinggiran dan pedesaan — belum tuntas memahami paradigma barunya. Pelatihan yang diterima kerap bersifat seremonial: satu-dua hari workshop, lalu kembali ke kelas dengan bekal yang belum matang. Akibatnya, implementasi menjadi setengah-setengah — atribut kurikulum baru dipakai, tetapi fondasi lama pun belum ditinggalkan sepenuhnya.

Masalah kedua menyangkut pergeseran orientasi pada kompetensi dasar.

Dalam semangat mengembangkan Profil Pelajar Pancasila yang holistik, terkadang tanpa disadari jam efektif untuk literasi dan numerasi dasar tersita. Projek tematik yang memakan waktu berminggu-minggu memang menghasilkan karya yang membanggakan untuk dipajang — tetapi apakah anak kelas 2 yang sibuk membuat poster sudah lancar membaca kalimat sederhana? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur. Ketiga, asesmen yang berubah formatnya pun turut berperan. Saat guru lebih diarahkan pada asesmen formatif dan portofolio, kemampuan siswa menghadapi tes terstandar yang menuntut ketepatan dan kecepatan menjadi kurang terlatih. TKA, dengan segala perdebatan tentang relevansinya, tetaplah tolok ukur yang dipakai. Ketidaksesuaian antara cara belajar dan cara diuji menciptakan celah yang merugikan siswa.

Berbicara tentang merosotnya kemampuan akademik siswa SD tanpa menyebut pandemi COVID-19 adalah analisis yang tidak lengkap. Generasi yang kini duduk di kelas 4, 5, dan 6 adalah generasi yang menghabiskan satu hingga dua tahun masa emas pembelajaran — kelas 1 sampai 3 — dalam kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kelas-kelas awal SD adalah masa kritis pembentukan pondasi: fonologi untuk membaca, pemahaman angka untuk berhitung, serta kebiasaan akademik dasar seperti fokus, duduk tenang, dan mengikuti instruksi. Semua ini sulit dibangun melalui layar gawai dengan koneksi yang tidak stabil, orang tua yang tidak selalu mampu mendampingi, dan guru yang berjuang keras menyampaikan materi dalam segala keterbatasan.

Ketertinggalan akibat pandemi bukan sekadar istilah akademis. Ia adalah kenyataan yang dirasakan setiap guru ketika menemukan siswa kelas 4 yang belum fasih membaca atau siswa kelas 5 yang masih bingung dengan konsep pengurangan bersusun. Transisi kembali ke sekolah pun tidak otomatis memulihkan ketertinggalan itu — terutama karena tidak ada program remediasi masif yang benar-benar menyentuh akar masalah.

Sejumlah kondisi struktural turut memperparah situasi. Ketimpangan kualitas guru masih menjadi luka kronis dunia pendidikan dasar kita. Guru yang mumpuni, bersemangat, dan terus belajar ada di mana-mana — tetapi mereka tidak merata. Di banyak sekolah, khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), kekurangan guru dan rendahnya kompetensi pedagogis adalah kenyataan sehari-hari. Beban administratif yang membengkak di era Kurikulum Merdeka pun menyita energi. Laporan, modul ajar, asesmen diagnostik, refleksi pembelajaran — semua ini penting secara konseptual, tetapi jika pengerjaannya memakan waktu yang seharusnya dipakai untuk mempersiapkan pembelajaran yang berkualitas, ada yang perlu dievaluasi.

Ketergantungan pada gawai di kalangan siswa SD juga berdampak nyata. Perhatian yang tersebar, kemampuan membaca teks panjang yang melemah, serta kebiasaan mendapat jawaban instan dari mesin pencari — semuanya memengaruhi kesiapan kognitif anak menghadapi tes yang menuntut pemahaman mendalam. Minimnya dukungan keluarga pada sebagian besar siswa kelas bawah pun tidak bisa dikesampingkan. Orang tua yang sibuk bekerja, keterbatasan ekonomi yang membatasi akses pada buku dan bimbingan belajar, serta lingkungan rumah yang tidak kondusif — semua ini adalah konteks yang membentuk bagaimana seorang anak datang ke sekolah setiap paginya.

 

Meratapi angka TKA yang anjlok tanpa solusi hanyalah elegi yang tidak produktif. Beberapa hal mendesak perlu dipertimbangkan. Pertama, program pemulihan literasi dan numerasi yang serius, terstruktur, dan berkelanjutan — bukan sekadar program tambahan belajar yang dilakukan sporadis. Identifikasi siswa yang tertinggal sejak dini, lalu tangani dengan pendampingan yang tepat sasaran. Kedua, evaluasi jujur atas implementasi Kurikulum Merdeka perlu dilakukan tanpa defensif. Jika ada aspek yang terbukti mengorbankan penguasaan kompetensi dasar, harus ada keberanian untuk merevisi — bukan mempertahankan demi konsistensi kebijakan. Ketiga, peningkatan kapasitas guru yang substansial diperlukan — bukan sekadar pelatihan formalitas. Guru perlu ruang untuk belajar, berlatih, mendiskusikan praktik terbaik bersama rekan sejawat, dan mendapat umpan balik yang membangun. Keempat, beban administratif guru perlu dikurangi secara nyata. Jika energi terbaik guru habis untuk mengisi platform dan membuat laporan, yang dirugikan pada akhirnya adalah siswa di dalam kelas.

Hasil TKA yang merosot bukan akhir dari segalanya. Ia adalah alarm — dan alarm itu berguna hanya jika ada yang mendengarnya serta mengambil tindakan. Sistem pendidikan yang baik bukan yang tidak pernah gagal, melainkan yang mampu membaca kegagalannya dengan jujur dan belajar darinya dengan cepat.

Anak-anak SD yang hari ini menghadapi TKA dengan nilai yang mengecewakan bukan anak-anak yang bodoh. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh dalam sistem yang sedang mencari bentuknya — dan mereka berhak mendapat sistem yang lebih siap untuk mereka. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa reformasi pendidikan tidak hanya indah di atas kertas kebijakan, tetapi benar-benar terasa manfaatnya di bangku-bangku kelas yang paling sederhana sekalipun. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat