Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Satu Metode, Satu Suara, Cetak Siswa Fasih Baca Al Quran

Adriyanto Syafril • Rabu, 10 Juni 2026 | 08:40 WIB
Guru-guru SD Negeri 02 Andaleh sedang belajar memperbaiki bacaan Al Quran, beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Guru-guru SD Negeri 02 Andaleh sedang belajar memperbaiki bacaan Al Quran, beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Dina Gusniati, S.Pd.SD - Guru UPTD SD Negeri 02 Andaleh

Ada sesuatu yang mengganjal di benak saya setiap kali melihat jadwal pembelajaran agama di sekolah. Bukan soal jam yang kurang, bukan pula soal kurangnya niat para guru. Persoalannya justru terletak pada sesuatu yang lebih mendasar  sebagian besar murid di UPTD SD Negeri 02 Andaleh masih berjuang di halaman-halaman awal buku Iqra, padahal usia mereka sudah seharusnya mulai menyentuh lembaran mushaf Al Qur’an.

Sebagai kepala sekolah, saya tidak bisa hanya diam dan menganggap ini bukan urusan saya.

Membaca Al Qur’an bukan sekadar kemampuan spiritual semata,  ini adalah bekal hidup yang akan dibawa anak-anak kami sepanjang hayat. Maka pada 16 April 2026, saya mengambil satu keputusan yang saya yakini menjadi titik balik: menggelar pelatihan metode Iqra secara khusus bagi seluruh guru di sekolah kami, bertempat di Mushalla UPTD SD Negeri 02 Andaleh  ruang yang sehari-harinya menjadi saksi bisu kegiatan keagamaan di sekolah kami.

Angka yang Tidak Bisa Diabaikan

UPTD SD Negeri 02 Andaleh saat ini memiliki 69 orang murid. Angka yang tidak terlalu besar  namun justru karena itulah setiap anak menjadi perhatian penuh. Ketika saya memetakan kemampuan membaca Al Qur’an mereka satu per satu, hasilnya sungguh membuat saya termenung. Sebanyak 32 persen dari total murid  masih berada di level Iqra artinya sekitar 22 anak belum mampu membaca Al Qur’an secara mandiri. Data yang  lebih mengejutkan, 50 persen dari mereka adalah murid kelas tinggi  kelas IV, V, dan VI yaitu usia yang semestinya sudah fasih melafalkan ayat-ayat suci Al Quran.

Persoalan ini tidak berdiri sendiri 28 orang murid yang sudah berada pada tahap Al quran pun, kualitas bacaan mereka masih jauh dari standar yang seharusnya. Pelafalan huruf atau makhraj yang keliru, tajwid yang belum tepat, serta panjang-pendek bacaan yang tidak terjaga menjadi pemandangan yang terlalu sering dijumpai dalam sesi mengaji pagi hari. Ini bukan sekadar persoalan kemampuan murid  ini adalah tantangan bersama yang membutuhkan respons sistematis dari sekolah.

Tantangan di Balik Kegiatan Mengaji Pagi

Beberapa bulan terakhir, UPTD SD Negeri 02 Andaleh telah menjalankan kebiasaan mulia, setiap pagi, 30 menit sebelum pembelajaran dimulai, seluruh murid mengikuti kegiatan mengaji bersama. Program ini lahir dari kesadaran bahwa sekolah bukan hanya tempat mencetak kecerdasan akademis, melainkan juga tempat menanamkan nilai-nilai spiritual  menjadi insan paripurna yang akan menjadi pondasi karakter anak sepanjang hidupnya.

Namun di balik rutinitas yang tampak berjalan lancar itu, para guru menyimpan kegelisahan. Rendahnya kompetensi membaca Al Qur’an pa­da sebagian besar murid me­nye­bab­kan program tahfidz  menghafal Al Qur’an  mengalami hambatan yang cukup serius. Ba­gaimana mungkin seorang anak bisa menghafal dengan benar jika membacanya pun masih terbata-bata? Fondasi yang rapuh tidak akan mampu menopang bangunan yang kokoh.

Menyadari kompleksitas persoalan ini, sekolah pun mengambil langkah tambahan: me­nj­alin kerja sama dengan  Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Luak untuk mengadakan program tahsin, perbaikan dan pembenahan kualitas bacaan Al Qur’an bagi murid. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa membenahi kemampuan mengaji anak tidak bisa hanya menjadi tugas sekolah seorang diri, melainkan memerlukan sinergi lintas lembaga.

Sekolah Piloting SAKATO BERJAYA: Amanah yang Menuntut Bukti Nyata

Konteks ini semakin bermakna ketika kita melihat posisi strategis SDN 02 Andaleh dalam peta kebijakan pendidikan daerah. Pemerintah Ka­bupaten Lima Puluh Kota di bawah kepemimpinan Bupati saat ini telah menjadikan pembangunan karakter generasi muda sebagai salah satu fokus utama , sebuah visi untuk mencetak generasi yang berpres­tasi­, religius, dan berbudaya.

Dalam kerangka visi itulah lahir program unggulan SAKATO BERJAYA. Dan UPTD SD Negeri 02 Andaleh mendapat kepercayaan yang tidak ringan: bersama satu sekolah lain di Kecamatan Luak, sekolah kami ditetapkan sebagai sekolah piloting dari program bergengsi ini. Dari seluruh sekolah yang ada di kecamatan Luak hanya dua yang dipilih dan kami salah satunya.

Kepercayaan ini bukan sekadar kehormatan. Ini adalah amanah yang menuntut pembuktian. Jika sekolah  piloting program karakter religius justru memiliki banyak murid yang belum fasih membaca Al Qur’an, maka ada sesuatu yang harus segera dibenahi. Itulah yang mendorong saya untuk tidak menunda-nunda lagi dalam  mengambil langkah konkret.

Ketika Putra Nagari Berbagi  Ilmu

Solusi datang dari arah yang tidak terduga. Kami tidak perlu mencari jauh-jauh narasumber dari luar daerah. Di Nagari Andaleh sendiri, kami memiliki seorang tokoh yang mumpuni di bidang ini , Ustadz Hardinata seorang narasumber Propinsi Sumatera Barat yang telah mengikuti pelatihan tingkat nasional tentang  metode Iqra dan juga merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota selama dua periode tahun 1999 s.d 2009.

Kehadiran Ustadz Hardinata bukan sekadar menghadirkan keahlian teknis. Lebih dari itu, beliau membawa semangat kedaerahan yang menyentuh hati para guru.

Testimoni dari Balik Kelas

Usai pelatihan, suasana di ruang guru terasa berbeda. Para pendidik yang semula mungkin merasa sudah cukup dengan cara lama, kini tampak bersemangat dengan pencerahan baru. Satu per satu, mereka berbagi kesan yang mengalir tulus.

“Saya baru sadar bahwa selama ini ada langkah-langkah dalam metode Iqra yang saya lewati tanpa sengaja” .ujar salah seorang guru.

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya, itulah inti dari seluruh upaya ini. Komitmen. Keseragaman. Konsistensi. Tiga kata yang sering diucapkan dalam  teori pendidikan, tetapi tidak selalu mudah diwujudkan dalam praktik.

Di UPTD SD Negeri 02 Andaleh, kami sedang memulai babak baru. Bukan dengan cara yang spektakuler, melainkan dengan cara yang paling mendasar: memastikan setiap guru memiliki bekal yang sama, metode yang sama, dan tujuan yang sama. Program mengaji pagi yang telah berjalan kini memiliki roh yang lebih kuat. Kerja sama dengan wali murid serta KUA Kecamatan Luak terus diper­kuat. Dan sebagai sekolah pilo­ti­ng SAKATO BERJAYA, kami bertekad membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan bukan sekadar gelar, melainkan tanggung jawab yang kami emban dengan sepenuh hati.

Karena pada akhirnya, tujuan kami hanya satu: mengantarkan setiap anak dari halaman pertama Iqra hingga mereka mampu membaca Al Qur’an dengan fasih, benar, dan penuh keyakinan. Itulah salah satu amanah terbesar yang diemban setiap sekolah di negeri ini , mencetak  insan kamil yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga generasi yang terhubung dengan nilai-nilai spiritual sebagai pondasi karakter bangsa. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Limapuluh Kota