Di tengah derasnya arus digital yang membuat banyak anak akrab dengan layar gawai, budaya menulis dinilai tetap menjadi jalan penting menumbuhkan generasi yang berpikir kritis, berkarakter, dan peduli terhadap masa depan bangsanya.
Laporan : Jufri Jao
Pesan itu disampai kan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, Antoni, S.Pd., M.Pd.T., saat ditemui Padang Ekspres usai pembukaan seleksi atlet Porwanas di Rumah Dinas Bupati Limapuluh Kota, Jumat (12/6).
Bagi Antoni, menulis ibarat mengasah pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam pula kemampuannya. Namun ketajaman itu bukan untuk melukai, melainkan untuk mempertajam nalar, memperkaya gagasan, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang.
“Mudah-mudahan dengan menulis, merangsang guru dan murid berpikir kritis dan berkarya sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang banyak,” ujarnya.
Ia mengapresiasi semangat guru-guru Limapuluh Kota yang terus aktif menulis dan membagikan gagasan melalui berbagai media. Tak hanya itu, sejumlah siswa juga mulai mengikuti jejak para gurunya dengan menghasilkan karya-karya tulis yang membanggakan.
Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan benih yang sedang ditanam untuk masa depan daerah. Budaya literasi yang tumbuh di sekolah akan melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu memberi solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat.
“Ini merupakan perkembangan yang luar biasa. Saat ini kita sedang menanam. Beberapa tahun ke depan, kita berharap Kabupaten Limapuluh Kota menjadi daerah yang melahirkan banyak pemikir yang berguna bagi daerah dan tentunya Indonesia. Menulis adalah cara sederhana membangun peradaban,” katanya.
Anto menjelaskan, literasi memiliki kaitan erat dengan peningkatan mutu pendidikan. Guru yang rajin membaca dan menulis akan terus memperluas wawasan serta meningkatkan kompetensinya. Pada akhirnya, hal tersebut akan berdampak langsung pada kualitas peserta didik.
“Dengan literasi, kualitas guru tentu akan semakin meningkat. Ketika kualitas guru meningkat, pengaruhnya juga akan dirasakan oleh anak didik. Kalau anak-anak sudah hebat, peradaban juga akan hebat. Jika peradaban maju, negeri ini akan semakin makmur dan sejahtera sebagaimana cita-cita yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.
Ia berharap keterlibatan guru dan siswa dalam kegiatan menulis dapat menjadi alternatif kegiatan yang lebih produktif dibandingkan penggunaan gawai secara berlebihan. Kehadiran halaman Guru Limapuluh Kota di Padang Ekspres, menurutnya, bukan sekadar ruang publikasi karya, melainkan ruang belajar yang merekam perjalanan pemikiran dan prestasi generasi daerah.
“Kita berharap halaman Guru Limapuluh Kota di Padang Ekspres ini menjadi kilas balik perjalanan Kabupaten Limapuluh Kota dalam melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa,” katanya.
Lebih jauh, Anto mengaku merindukan suasana masa lalu ketika anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, aktif bermasyarakat, dekat dengan nilai-nilai agama, dan menghormati orang tua.
“Saat ini anak-anak kita sibuk bermain HP. Mudah-mudahan dengan menulis di Padang Ekspres, mereka lebih sibuk berkarya, menuangkan gagasan, dan pada akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin pemikir untuk kemajuan bangsa,” tutupnya.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, Anto percaya bahwa selembar tulisan dapat menjadi warisan pemikiran yang jauh lebih panjang usianya daripada tren yang silih berganti. Sebab dari kebiasaan menulis, lahir kebiasaan berpikir; dan dari kebiasaan berpikir, peradaban yang lebih baik perlahan dibangun. (*)
Editor : Adriyanto Syafril