Penulis : Adi Warma, S.Pd.I - Guru Agama UPTD SDN 06 Guguak VIII Koto
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan informasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang tidak mudah dan penuh risiko. Sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan murid yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Fenomena menurunnya sikap hormat, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial pada sebagian murid menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama.
Mengutip pendapat Thomas (2012), mengatakan bahwa “pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk membantu murud memahami, mencintai, dan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari”. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai moral dan karakter. Dengan demikian, sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk kebiasaan positif yang dapat membimbing perilaku murid.
Pada hakikatnya, ilmu akan lebih mudah diterima apabila hati telah dipersiapkan dengan baik. Sekolah juga perlu membangun budaya yang mampu menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari murid. Dalam perspektif Islam, hati merupakan pusat kesadaran, keimanan, dan perilaku manusia. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya” (Qs. Qaf:37).
Ayat ini menunjukkan bahwa hati yang bersih dan terbuka menjadi kunci dalam menerima pelajaran dan nasihat.
Pendidikan tidak seharusnya hanya berkonsentrasi pada transfer pengetahuan. Selain itu, sekolah harus menciptakan budaya yang menanamkan nilai-nilai moral melalui pembiasaan yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan individu yang beriman, berpendidikan, dan berakhlak mulia. Tidak cukup untuk mengajarkan nilai-nilai ini secara teoritis, namun harus ditanamkan dalam diri murid melalui hal-hal yang dibiasakan setiap hari.
Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati” (H.R. al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599). Hadis ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari keberhasilan membina hati yang melahirkan akhlak dan perilaku yang baik.
Berangkat dari pemahaman tersebut, pembiasaan salam pagi, salat Dhuha berjamaah, membaca Al-Quran sebelum pembelajaran, dan salat Zuhur berjamaah yang dilaksanakan di UPTD SD Negeri 06 Guguak VIII Koto merupakan ikhtiar untuk mendidik hati murid sebelum mengajar ilmu kepada mereka.
Sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di UPTD SD Negeri 06 Guguak VIII Koto, berupaya menanamkan karakter melalui pembiasaan yang sederhana namun bermakna. Setiap pagi murid dibiasakan bersalaman dengan guru sebagai bentuk penghormatan dan penguatan hubungan emosional. Setelah itu, murid melaksanakan salat Dhuha berjamaah dan membaca Al-Quran sebelum proses pembelajaran dimulai. Di akhir kegiatan belajar, murid kembali dibiasakan melaksanakan salat Zuhur berjamaah sebelum pulang ke rumah.
Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Program Unggulan Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, yaitu “Sakato Mangaji” dan “Sakato Berjaya” dalam membentuk generasi yang religius dan berkarakter. Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin, nilai-nilai positif tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan secara langsung oleh murid.
Salam dan jabat tangan di pagi hari mengajarkan sopan santun, rasa hormat, dan kedekatan antara guru dan murid. Salat berjamaah melatih disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, serta kepatuhan terhadap aturan. Sementara membaca Al-Quran sebelum belajar membantu menumbuhkan ketenangan jiwa dan membangun suasana belajar yang lebih kondusif.
Pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Karakter tumbuh melalui proses pembiasaan yang dilakukan terus-menerus. Apa yang dilakukan murid setiap hari akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan yang baik akan melahirkan karakter yang baik pula. Oleh karena itu, sekolah perlu menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai positif dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya terlihat dari nilai rapor atau prestasi akademik semata. Keberhasilan yang sesungguhnya tampak ketika murid mampu menunjukkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mendidik hati sebelum mengajar ilmu merupakan fondasi penting untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril