Penulis : Elvis Betrizon, S.Sos - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman
Pendidikan merupakan investasi terbaik yang dapat diberikan kepada generasi muda. Melalui pendidikan, peluang untuk meningkatkan kualitas hidup, memutus rantai kemiskinan, serta menciptakan sumber daya manusia yang unggul menjadi semakin terbuka.
Berangkat dari semangat tersebut, Pemerintah Kota Pariaman di bawah kepemimpinan Yota Balad-Mulyadi menghadirkan Saga Saja Plus sebagai salah satu program unggulan yang berpihak kepada masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu yang memiliki anak berprestasi dan berkeinginan kuat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika sebelumnya fokus utama lebih diarahkan pada pemberian kesempatan kuliah bagi tamatan SMA/ sederajat melalui skema yang telah ditetapkan, maka Saga Saja Plus hadir dengan cakupan yang lebih luas, lebih adaptif, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat saat ini.
Program ini tidak hanya memperluas pilihan perguruan tinggi, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta untuk menempuh pendidikan pada 18 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang berada di dalam maupun di luar Kota Pariaman. Pendekatan ini memberikan ruang yang lebih luas bagi calon mahasiswa untuk memilih program studi sesuai minat, bakat, dan cita-cita, dengan prioritas pada program-program vokasi yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri, serta lebih mudah terserap di dunia kerja.
Tingginya animo masyarakat menjadi bukti bahwa program ini benar-benar dibutuhkan. Hingga medio Juli 2026, antusiasme masyarakat terhadap Saga Saja Plus masih sangat tinggi. Hal ini terlihat dari 213 calon peserta yang mendaftarkan diri. Setelah melewati seleksi dan verifikasi, akhirnya 99 orang berhasil terpilih sebagai penerima manfaat untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program tersebut.
Beberapa hari terakhir, saya memperoleh tugas sebagai bagian dari Tim Survei Lapangan untuk melakukan verifikasi langsung terhadap kondisi tempat tinggal calon peserta, khususnya di wilayah Kecamatan Pariaman Timur dan Kecamatan Pariaman Selatan. Tim ini terdiri atas unsur Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pariaman, serta BAZNAS Kota Pariaman. Survei lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa bantuan benar-benar diberikan kepada mereka yang memenuhi kriteria dan layak menerima manfaat.
Pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan gambaran nyata mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat yang selama ini mungkin hanya terlihat dalam bentuk angka dan dokumen administrasi. Di balik setiap berkas pendaftaran terdapat kisah perjuangan yang mengharukan. Ada calon peserta yang berasal dari keluarga dengan penghasilan tidak tetap, di mana orang tua bekerja sebagai buruh harian, nelayan tradisional, petani kecil, pedagang kaki lima, atau pekerja serabutan dengan pendapatan yang jauh dari mencukupi kebutuhan keluarga.
Kami menjumpai calon peserta yang hidup bersama orang tua tunggal (single parent) karena ditinggal wafat pasangan ataupun akibat perceraian. Dalam kondisi demikian, seluruh tanggung jawab ekonomi keluarga bertumpu pada satu orang tua yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya. Meskipun hidup dalam keterbatasan, mereka tetap menanamkan semangat agar anak-anaknya terus bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kami juga menemui calon mahasiswa yang berstatus yatim, piatu, bahkan yatim piatu, yang diasuh oleh kakek, nenek, paman, bibi, atau keluarga terdekat. Ada pula yang tinggal menumpang di rumah kerabat karena tidak lagi memiliki rumah sendiri atau karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan memiliki tempat tinggal yang layak. Sebagian rumah yang kami kunjungi masih berukuran sederhana, berdinding papan atau bangunan semi permanen, dengan fasilitas yang sangat terbatas. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan harapan besar agar pendidikan mampu mengubah nasib keluarga mereka.
Hal yang paling mengesankan selama pelaksanaan survei bukanlah keterbatasan yang kami saksikan, melainkan semangat belajar yang luar biasa dari para calon peserta. Banyak di antara mereka tetap mampu mempertahankan prestasi akademik meskipun harus membantu orang tua bekerja sepulang sekolah, menjaga adik-adiknya, atau menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. Mereka memandang pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.
Oleh karena itu, proses survei lapangan bukan sekadar kegiatan administratif. Survei menjadi bentuk tanggung jawab moral pemerintah dalam memastikan bahwa setiap penerima manfaat benar-benar memenuhi persyaratan dan memiliki kondisi yang sesuai dengan tujuan program. Verifikasi langsung juga memperkuat prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam pelaksanaan Saga Saja Plus sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran.
Kolaborasi antara Dinas Dikpora, Bagian Kesra Setdako, dan BAZNAS menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program sosial tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi antarlembaga menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas. Masing-masing unsur memiliki peran penting, mulai dari aspek administrasi pendidikan, verifikasi sosial, hingga pertimbangan kondisi ekonomi calon penerima manfaat.
Saga Saja Plus sesungguhnya bukan sekadar program pemberian bantuan pendidikan. Program ini merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Kota Pariaman. Setiap mahasiswa yang memperoleh kesempatan kuliah diharapkan kelak kembali dengan ilmu, kompetensi, dan pengalaman yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah. Mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga calon agen perubahan yang akan ikut membangun Kota Pariaman di berbagai bidang.
Harapan ke depan, Saga Saja Plus dapat terus berkembang dengan jangkauan yang semakin luas sehingga lebih banyak lagi putra-putri Kota Pariaman memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tingginya jumlah pendaftar menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan masih sangat besar. Semoga program unggulan Pemerintah Kota Pariaman di bawah kepemimpinan Wali Kota Yota Balad dan Wakil Wali Kota Mulyadi ini terus berkelanjutan, semakin tepat sasaran, dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun generasi yang cerdas, berdaya saing, serta berkarakter. Sebab, ketika kesempatan belajar diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, sesungguhnya pemerintah sedang menanam benih harapan yang kelak akan tumbuh menjadi kekuatan bagi kemajuan Kota Pariaman. (*)
Editor : Adriyanto Syafril