Penulis : Velly Syafriani, S.Pd, M.Pd - Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lima Puluh Kota
Sebagai seorang pendidik, guru tidak boleh berhenti belajar. Sebab, ketika guru berhenti belajar maka guru akan tertinggal. Saat ini, guru tidak lagi mengajar murid yang hanya bergantung kepada buku paket atau penjelasan di kelas. Murid sekarang hidup di era digital dengan akses yang sangat luas terhadap informasi dan ilmu pengetahuan. Dalam hitungan detik murid kita bisa mencari jawaban dengan menonton video pembelajaran atau bertanya pada aplikasi AI (Artificial Intelligence). Guru harus memperbaharui pengetahuannya, mengembangkan cara mengajar dan mengikuti perkembangan zaman agar tetap bisa relevan dengan muridnya.
Oleh karena itu, karena murid bisa belajar dari mana saja, maka guru tidak boleh berhenti belajar dari siapa saja. Salah satu ruang belajar yang paling dekat dan dapat dimanfaatkan oleh guru adalah komunitas belajar sekolah. Komunitas belajar sekolah adalah kumpulan guru dan tenaga kependidikan yang secara rutin dan berkelanjutan melakukan kegiatan belajar bersama dengan tujuan yang spesifik dan terukur untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang pada akhirnya memiliki dampak positif terhadap hasil belajar murid. Pedoman dalam pengelolaan komunitas belajar merujuk pada buku karangan DuFour tentang Professional Learning Community. “Professional learning community is a meeting an occasional event when they meet with colleagues to complete a task.”Berarti komunitas belajar profesional adalah pertemuan secara berkala dengan rekan kerja untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Selama ini kita telah mengenal komunitas belajar dalam skala yang besar seperti forum KKG dengan anggotanya mencakup seluruh guru SD dalam lingkup kecamatan maupun MGMP dengan anggotanya kumpulan guru bidang studi dalam lingkup satu kabupaten. Lalu, mengapa masih diperlukan komunitas belajar sekolah yang anggotanya hanya guru dan tenaga kependidikan yang berasal dari satu sekolah yang sama? Alasannya adalah karena tidak semua persoalan yang dihadapi guru dapat menunggu jadwal pertemuan KKG dan MGMP. Tantangan pembelajaran muncul setiap hari di sekolah, guru membutuhkan ruang belajar yang lebih dekat, lebih cepat, dan sesuai dengan kebutuhan nyata yang mereka hadapi di kelas. Di sinilah peran komunitas belajar sekolah dibutuhkan.
Topik pembahasan dalam komunitas belajar sekolah harus lahir dari kebutuhan guru sendiri, bukan semata-mata ada materi bagus yang ingin disampaikan. Jika banya guru yang belum paham tentang asesmen maka topik itulah yang dibahas dan disampaikan oleh salah seorang guru di sekolah tersebut yang paham tentang asesmen. Bahkan mungkin topik yang sederhana terkait bagaimana cara menghadapi murid yang tidak termotivasi untuk belajar, ini bisa dijadikan bahan diskusi di komunitas belajar. Di dalam komunitas belajar guru diharapkan lebih nyaman dan tidak merasa malu mengakui bahwa dirinya belum paham atau masih merasa kesulitan.
Sejak terbitnya Surat Edaran Direktur Jendral GTK Nomor 4263/B/HK.04.01/2023 tentang Optimalisai Komunitas Belajar, hampir setiap sekolah telah membentuk komunitas belajar (kombel). Hal ini menunjukkan bahwa ada komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai ruang belajar bagi guru. Namun, dalam praktiknya belum semua kombel berkembang dengan cara yang sama. Ada sekolah yang telah berhasil menghidupkan kombel sebagai wadah diskusi berbagi praktik baik dan saling belajar diantara guru. Akan tetapi masih ada sekolah yang baru sebatas membetuk kombel untuk kepeluan adminitratif, kegiatannya belum berjalan dan belum memberikan dampak nyata.
Lalu seperti apa kombel yang dapat memberi dampak nyata bagi guru? Richard Du Four, salah satu tokoh yang banyak membahas tentang komunitas belajar profesional menjelakan bahwa kombel yang kuat dibangun atas empat pilar yaitu mission, vision, value dan goals. Mission artinya anggota komunitas harus memiliki tujuan tentang mengapa mereka harus belajar bersama. Vision, berarti anggota kombel juga memiliki gambaran tentang perubahan yang ingin diwujudkan. Value, maksudnya adalah ada nilai-nilai yang disepakati bersama misalnya saling terbuka, saling mendukung dan mau belajar dari sesama yang harus harus menjadi budaya dalam setiap pertemuan. Goals, ini diterjemahkan sebagai sasaran. Kombel harus punya sasaran yang jelas, misalnya meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, memperbaiki kualitas pembelajaran atau menyusun asesmen. Dengan empat pilar tersebut kombel tidak hanya menjadi agenda pertemuan rutin, tetapi menjadi gerakan bersama yang memiliki arah, budaya dan target yang ingin dicapai.
Menghidupkan kombel memang membutuhkan komitmen, baik dari pihak kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Jangan sampai semangat kombel hanya menggebu di awal, tetapi perlahan memudar hingga akhirnya berhenti tanpa jejak. Agar tetap hidup, kombel harus memiliki program yang jelas dan jadwal yang terencana. Kombel diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat namun tumbuh menjadi budaya sekolah. Sehingga nantinya kombel bukan sekadar tempat berkumpulnya guru melainkan tempat bertumbuh, berbagi pengalaman, memecahan masalah dan mengasah kemampuan. Saat kombel benar-benar hidup, kompetensi profesional guru akan terus berkembang dan ini akan memberikan manfaat yang besar terhadap kualitas pembelajaran yang akan disuguhkan kepada para murid. (*)
Editor : Adriyanto Syafril