Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Transformasi Mindset dan Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta

Adriyanto Syafril • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:10 WIB
Muhammad Harizon, S.Pd
Muhammad Harizon, S.Pd

Penulis : Muhammad Harizon, S. Pd. - Guru RT. Shohibul Quran Pandai Sikek

Esensi spesifik dalam dunia pendidikan sejatinya adalah mendidik seorang manusia agar menjadi manusia seutuhnya, artinya selama bertahun-tahun pendidikan Indonesia hanya berkutat seputar nilai atau angka. Mendidik memang bukan hal yang mudah apalagi di era 5.0 ini dimana teknologi informasi berbasis digital telah mempengaruhi generasi z hingga berbagai aplikasi tercanggih dan terbaru berkembang dengan pesat tanpa bisa dikendalikan dan game online yang memacu hormon dopamin semakin meningkat hingga lupa waktu. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri yang membutuhkan solusi.

Lembaga pendidikan yang berkualitas akan menjadikan peserta didik berkarya menurut kreatifitas berdasarkan bakat dan minat kendati proses pembelajaran secara akademis tetap berjalan seperti biasanya, ruang kreatifitas juga menjadi tolak ukur agar melahirkan peserta didik menjadi individu yang kreatif, inovatif, cerdas, berdaya saing agar mampu memjawab tantangan zaman yang semakin tak terkendali. Dalam perjalanan menuju ke arah itu, pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi berupaya bagaimana nantinya meluluskan talenta-talenta baru berkualitas agar mampu menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa harus melamar pekerjaan dengan menyodorkan ijazah, transkrip nilai, daftar riwayat hidup dan berkas lainnya. Padahal fakta yang terjadi saat ini komparasi antara lapangan pekerjaan dengan lulusan perguruan tinggi dan SMA sederajat tidak sesuai dimana lapangan pekerjaan yang semakin sempit berbanding terbalik dengan jumlah lulusan setiap tahunnya, sehingga terjadilah pengangguran dimana-mana, hal ini menjadi PR pemerintah setiap tahunnya.

Berdasarkan fenomena tersebut, strategi mengenali diri serta mengembangkan potensi menuju prestasi maksimal adalah solusi. Mindset adalah cara seseorang berpikir menentukan bagaimana ia melihat masalah, mengambil keputusan, merespon tantangan, yang akhirnya bermuara pada keberhasilan. Mindset bukan sekadar pola pikir, akan tetapi kualitas jiwa yang mempengaruhi seluruh tindakan. Surah Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka berusaha mengubah keadaan diri mereka sendiri. Maka, jelaslah, perubahan dimulai dari cara berpikir. Perubahan besar di dunia pendidikan dimulai dari cara berpikir, mindset menjadi titik tolak pola pikir atau cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Dalam dunia pendidikan, mindset menentukan cara guru mengajar, cara peserta didik belajar, dan cara mereka memaknai keberhasilan. Ketika mindset guru berubah, cara ia berinteraksi, memotivasi dan menilai siswa juga ikut berubah.

Perubahan kurikulum tanpa perubahan mindset hanyalah perubahan di atas kertas. Kurikulum apapun akan gagal jika pendidik ma­sih berpikir dengan cara lama. Jadi, perubahan mindset merupakan jembatan me­nuju kurikulum cinta. Pada prinsipnya, jika ingin memberikan ilmu harus memiliki ilmu, begitu juga dengan cinta, jika ingin memberikna cinta harus memiliki cinta yang paripurna. Menurut penelitian, 70 persen yang membuat seseorang bahagia adalah pikiran, 20 persen makanan, 10 persennya adalah obat. Untuk bisa konsisten dalam melakukan apapun kuncinya adalah memaksakan diri sebab seyogyanya melakukan hal-hal baik memang harus dipaksakan dan dibiasakan dan akhirnya menjadi kebiasaan yang akan membentuk karakter. Alur yang mesti dilalui tentunya mengubah mindset, memunculkan kesadaran cinta, dilanjutkan membangun budaya dan barulah membentuk kurikulum berbasis cinta.

Ketika berbicara perihal perubahan mindset, kita tidak hanya berbicara logika berpikir tetapi juga mengiku sertakan logika hati. Dalam tradisi islam, logika hati itu disebut sebagai mahabbah yaitu cinta yang menumbuhkan ilmu dan amal. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
Laman Guru Sumatera Barat