Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menjaga Warisan Kitab Kuning, Menyongsong Pendidikan Islam Modern

Adriyanto Syafril • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:15 WIB
Foto bersama dengan pimpinan pondok, majelis guru dan santri PPs. MTI Ashabul Kahfi bebrapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Foto bersama dengan pimpinan pondok, majelis guru dan santri PPs. MTI Ashabul Kahfi bebrapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Elvis Betrizon - Asesor BAN PDM Provinsi Sumatera Barat

Beberapa waktu yang la­lu, saya mendapat amanah dari BAN PDM Provinsi Su­ma­tera Barat melaksanakan visitasi akreditasi ke Pondok Pesantren Mad­rasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) As­habul Kahfi yang berlokasi di Jalan Gunung Malelo, Nagari Su­rantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Perjalanan menuju lo­kasi me­nghadirkan panorama alam khas Pesisir Selatan yang memanjakan m­a­ta. Hamparan sawah yang me­ng­hijau, perbukitan ya­ng membentang, serta uda­ra yang sejuk seakan menjadi pengantar bagi setiap tamu yang hendak menyaksikan denyut kehidupan pendidikan Islam yang tumbuh subur di kawasan ini. Di balik ketenangan alam tersebut, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang telah lama menjadi salah satu pusat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak.

Sesampainya di lingk­ungan pondok, kesan pertama yang saya rasakan adalah suasana yang tertib, bersih, sederhana, namun sarat dengan nuansa kekeluargaan. Aktivitas para santri berlangsung disiplin tanpa kehilangan kehangatan. Me­reka menyapa guru dengan penuh hormat, bergerak menuju ruang belajar dengan tertib, dan memanfaatkan waktu luang mengulang pelajaran atau membaca kitab. Atmosfer seperti ini memperlihatkan, pendidikan karakter di pondok tidak sekadar diajarkan, tetapi telah menjadi budaya yang hidup.

Pondok ini dipimpin oleh He­ru Kisnanto Tengku Kebijak­sa­­naan, seorang pemimpin yang dikenal luas memiliki kemampuan manajerial, kepe­mim­pin­an, dan komunikasi yang sangat baik. Pengalaman panjangnya dalam organisasi, pendidikan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan membentuk gaya kepe­mim­pinan yang inklusif dan visioner.  Heru mampu mem­bangun hu­bungan yang har­monis dengan para guru, santri, alumni, tokoh masya­rakat, hingga berbagai institusi pendidikan. Kepemimpinannya menunjukkan, mengelola pesantren bukan hanya mengatur administrasi, melainkan juga membangun keteladanan, budaya akademik, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu keunggulan paling menonjol dari MTI Ashabul Kahfi adalah posisinya sebagai pusat kajian kitab kuning di Sumatera Barat. Di kalangan pesantren, nama Ashabul Kahfi telah lama dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam pembelajaran kitab-kitab klasik karya ulama terdahulu. Tidak sedikit alumni maupun santri dari berbagai daerah yang memilih menimba ilmu di sini karena kualitas pengajaran kitab kuning yang telah teruji.

Tradisi intelektual Islam di pondok ini tumbuh begitu kuat. Kajian kitab tidak hanya dilakukan sebagai rutinitas pembelajaran, tetapi menjadi budaya akademik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Para santri dibiasakan membaca teks Arab tanpa harakat, memahami makna secara mendalam, menguasai kaidah bahasa Arab, sekaligus mampu mengaitkan isi kitab dengan persoalan kehidupan masyarakat. Kemampuan tersebut lahir melalui proses pembelajaran yang sistematis, disiplin, dan penuh kesabaran.

Reputasi pondok sebagai pusat kajian kitab kuning juga mendapat pengakuan dari dunia akademik. Hal ini dibuktikan dengan terjalinnya kerja sama antara MTI Ashabul Kahfi dan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang dalam berbagai kegiatan akademik, pe­ngembangan keilmuan, serta penguatan tradisi keislaman. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya menjaga khazanah keilmuan klasik, tetapi juga menjadi mitra strategis perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan Islam yang relevan dengan per­kem­bangan zaman.

Berbeda dengan sebagian pondok pesantren salafiyah yang berfokus sepenuhnya pada pendidikan tradisional, MTI Ashabul Kahfi mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan kekuatan tradisi pesantren dengan pendidikan formal modern. Madrasah yang berada di bawah naungan pondok dikelola secara profesional dengan kurikulum yang terstruktur sebagaimana lembaga pendidikan formal pada umumnya. Ruang-ruang belajar tertata baik, administrasi pendidikan berjalan sistematis, dan proses pembelajaran memanfaatkan pendekatan pedagogi yang terus berkembang.

Dengan demikian, para san­tri memperoleh dua kekuatan sekaligus. Mereka memiliki penguasaan ilmu-ilmu agama melalui kajian kitab kuning yang mendalam, sekaligus memperoleh bekal ilmu pengetahuan umum, teknologi, bahasa, dan keterampilan abad ke-21. Perpaduan tersebut menjadikan lulusan MTI Ashabul Kahfi mampu ber­adaptasi dalam berbagai bid­ang kehidupan tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Pembelajaran kitab kuning dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat wustha hingga ulya. Dalam bidang nahwu dan sharaf, santri memulai pembelajaran menggunakan Kitab Al-Ajurumiyah sebagai fondasi memahami tata bahasa Arab. Setelah menguasai dasar-dasarnya, mereka melanjutkan ke kitab-kitab yang lebih tinggi sehingga memiliki kemampuan membaca dan mengkaji literatur klasik secara mandiri.

Pada bidang fikih, Kitab Safinatun Najah menjadi salah satu rujukan utama. Melalui kitab ini para santri mempelajari hukum-hukum ibadah dan muamalah berdasarkan mazhab Syafi’i. Pembelajaran tidak berhenti pada hafalan materi, tetapi diarahkan agar santri mampu memahami hikmah hukum dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang akidah, Kitab Aqidatul Awam menjadi dasar pembentukan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah. Sementara dalam pembinaan akhlak dan tasawuf, Kitab Ta’limul Muta’allim menjadi pedoman utama. Di pondok ini, adab ditempatkan sebagai ruh pendidikan. Santri diajarkan bahwa ilmu akan menjadi cahaya apabila disertai keikhlasan, penghormatan kepada guru, kesungguhan belajar, serta akhlak yang mulia.

Selama proses visitasi berlangsung, saya menyaksikan budaya belajar yang tumbuh secara alami. Diskusi antarsantri berlangsung hidup, kegiatan murojaah dilakukan tanpa harus selalu diawasi, dan hubungan guru dengan santri dipenuhi rasa hormat sekaligus kedekatan emosional. Tradisi akademik seperti inilah yang menjadi kekuatan utama pesantren dan sulit ditemukan di banyak lembaga pendidikan lainnya.

Keberadaan MTI Ashabul Kahfi juga memberikan dampak yang luas bagi masyarakat Nagari Surantih. Menurut Wali Nagari Surantih, kehadiran pondok telah memperkuat kehidupan keagamaan masya­rakat. Masjid dan musala menjadi lebih hidup, kegiatan keislaman semakin ber­kem­bang, serta generasi muda memiliki ruang pembinaan yang positif sehingga mampu terhindar dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman.

Di bidang ekonomi, keberadaan ratusan santri turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Warung makan, toko kebutuhan harian, jasa transportasi, usaha fotokopi, percetakan, hingga rumah-rumah yang disewakan kepada keluarga santri memperoleh manfaat dari aktivitas pendidikan yang berlangsung sepanjang tahun. Pesantren benar-benar menjadi pusat pertumbuhan sosial sekaligus ekonomi masyarakat sekitar.

Visitasi ini memberikan kesan yang mendalam bagi saya. MTI Ashabul Kahfi bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat peradaban ilmu yang menjaga kesinambungan tradisi ulama Nusantara. Di tengah derasnya arus globalisasi dan peru­bahan zaman, pondok ini berhasil membuktikan bahwa tradisi ki­tab kuning dapat berjalan ber­dam­­pingan dengan pendidikan mo­dern. Warisan intelektual Islam tetap dijaga, sementara ino­vasi pendidikan terus dikem­ban­gk­an.

Dari lereng Gunung Malelo, cahaya ilmu itu terus memancar. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana lahir generasi yang fasih membaca kitab kuning, kokoh akidahnya, mulia ak­hlaknya, luas wawasannya, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat. MTI Ashabul Kahfi telah menunjukkan bahwa pesantren adalah benteng peradaban sekaligus mercusuar ilmu pengetahuan yang akan terus menerangi masa depan umat. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
Laman Guru Sumatera Barat