PADEK.JAWAPOS.COM-Apa jadinya jika sebuah kabupaten kecil
di Sumatera Barat jadi percontohan pertanian regeneratif untuk dunia? Itulah kemungkinan yang sedang dirintis Limapuluh Kota.
Dengan menggandeng perusahaan agribisnis global dari Dubai, daerah ini memantapkan langkah menuju pertanian organik yang tidak hanya memikirkan hasil panen, tetapi juga kelestarian tanah, air, dan kehidupan.
Bupati Limapuluh Kota, Safni menyambut tamu istimewa dari mancanegara. Mereka adalah Anthony Tosswill, Chairman Oleifera International, bersama dua koleganya Tab Hwa Tong dan Suzana Zakaria.
Perusahaan mereka bukan nama asing di dunia agribisnis global. Berbasis di Dubai, Oleifera telah lama dikenal sebagai pelopor pertanian organik dan agroekologi konservatif, dengan proyek-proyek yang tersebar di Asia Tenggara hingga Timur Tengah.
Namun, hari itu mereka datang bukan hanya membawa portofolio dan angka investasi. Mereka membawa ketertarikan tulus terhadap tanah subur Limapuluh Kota—sebuah daerah yang perlahan tapi pasti mulai dikenal sebagai permata hijau di jantung Sumatra Barat.
“Kami melihat potensi besar di sini. Tanah yang subur, komitmen pemimpin daerah, dan masyarakat yang cinta alam. Semua elemen itu langka, dan sangat kami cari,” ujar Tosswill.
Pertemuan itu tak hanya sebatas seremoni. Ada visi besar yang dibicarakan: membangun kawasan pertanian berkelanjutan berstandar ekspor yang bukan hanya menghasilkan, tetapi juga menjaga.
Safni menjelaskan konsep perkebunan multikultur berkelanjutan yang kini jadi andalan Limapuluh Kota. Sistem ini mengintegrasikan berbagai komoditas unggulan lokal seperti gambir, kopi, dan pisang, sambil menjaga keseimbangan ekologis.
“Kami tidak ingin sekadar meningkatkan produksi. Kami ingin tanah tetap hidup, air tetap jernih, dan keanekaragaman hayati tetap lestari,” tegas Safni.
Lebih dari sekadar retorika, komitmen ini mulai dibangun dalam bentuk nyata: The Central of Agro sebuah kawasan pertanian terpadu yang berbasis teknologi dan ekologi. Di sinilah pemerintah ingin menciptakan sistem pertanian dari hulu ke hilir, dari lahan hingga pasar dunia.
Apa yang membuat proyek ini berbeda dari investasi biasa adalah tujuannya: memberdayakan petani lokal, bukan menggantikannya. Safni ingin memastikan bahwa kesejahteraan petani menjadi prioritas utama.
“Kami ingin pertanian ini milik rakyat. Hadirnya mitra global seperti Oleifera harus memperkuat sistem lokal, bukan menggusurnya,” katanya dengan nada serius.
Oleifera pun tampak sejalan. Mereka menegaskan komitmennya terhadap pendekatan partisipatif dan inklusif. Di beberapa negara Asia, model serupa telah mereka jalankan dengan hasil positif produktivitas meningkat, petani untung, dan ekosistem tetap utuh.
Bagi Limapuluh Kota, hari itu bukan sekadar menerima kunjungan investor. Itu adalah langkah awal menuju peran baru, sebagai model nasional pertanian regeneratif.
“Indonesia butuh daerah percontohan untuk pertanian berbasis konservasi. Dan saya yakin Limapuluh Kota bisa menjadi salah satunya,” ujar Tosswill optimistis. (***)
Editor : Novitri Selvia