PADEK.JAWAPOS.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumbar semakin mengkhawatirkan. Hingga kemarin, diperkirakan sekitar 250 hektare lahan terbakar. Termasuk di kawasan Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota yang menjadi salah satu titik terparah.
Staf Khusus Kementerian Kehutanan Bidang Penegakan Hukum Irjen Pol K Rahmadi meninjau langsung lokasi kebakaran di kawasan objek wisata Lembah Harau, kemarin (23/7).
Ia menyebutkan medan curam dan tebing-tebing terjal menjadi tantangan besar dalam proses pemadaman.
“Lembah Harau ini medan kebakarannya cukup ekstrem, banyak tebing dan lereng curam. Itu sebabnya, diperlukan peralatan khusus agar titik-titik api yang berada di ketinggian bisa dijangkau,” ujar Irjen Rahmadi.
Ia menegaskan, peralatan pemadaman yang ada saat ini belum cukup efektif untuk kondisi geografis seperti di Harau.
Oleh sebab itu, pihaknya telah memberikan sejumlah rekomendasi kepada Satgas Penanggulangan Karhutla yang telah dibentuk berdasarkan status Tanggap Darurat oleh Bupati Limapuluh Kota.
Salah satu rekomendasi penting adalah permintaan bantuan heli water bombing untuk mempercepat upaya pemadaman di titik-titik yang sulit dijangkau secara manual.
“Besok (hari ini, red), kami akan sampaikan laporan kondisi terkini ini kepada kapolda, gubernur, dan danrem, agar tanggap darurat ini sebagai langkah step pengajuan pemintaan bantuan heli water bombing,” tambahnya.
Dalam hal penegakan hukum, Irjen Pol K Rahmadi mengungkapkan, proses penyelidikan penyebab kebakaran sedang berjalan. Kepolisian, khususnya Polres Limapuluh Kota, telah meminta keterangan sejumlah ahli terkait indikasi penyebab terjadinya karhutla.
“Sesuai laporan tim, ada indikasi kuat bahwa kebakaran ini bukan disebabkan oleh faktor alam. Tapi kemungkinan besar unsur kesengajaan. Saat ini, penyelidikan masih berlangsung,” terangnya.
Meski begitu, hingga kini belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Polisi masih terus mengumpulkan bukti-bukti serta petunjuk untuk memastikan pelaku yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Kami perlu menyusun bukti-bukti yang cukup kuat terlebih dahulu agar proses hukum dapat berjalan sesuai prosedur,” ucapnya.
Mengatasi persoalan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota telah mempersiapkan langkah solutif. Salah satunya dengan memikirkan langkah pemanfaatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) seperti ikhtiar yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Provinsi Riau.
Melalui surat resmi, BPBD Limapuluh Kota mengajukan permohonan bantuan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan kepada BMKG Sumatera Barat khusunya di Kabupaten Limapuluh Kota yang terdampak Karhutla.
Kepala Pelaksana BPBD Limapuluh Kota Rahmadinol mengatakan bahwa hingga saat ini kebakaran telah meluas dan diperkirakan telah menghanguskan kurang lebih dari 120 hektare lahan di berbagai kecamatan.
“Kami sudah tetapkan status tanggap darurat karhutla dari 17 sampai 30 Juli 2025. Api menyebar cepat di sejumlah wilayah yang memiliki topografi berbukit dan akses yang sulit dijangkau,” ujarnya.
Adapun wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Harau, Lareh Sago Halaban, Akabiluru, Suliki, Pangkalan Koto Baru, Luak, Mungka, Situjuah Limo Nagari, Bukik Barisan, dan Guguak.
Menurut Rahmadinol, pihaknya telah mengerahkan seluruh potensi sumber daya manusia dan peralatan untuk memadamkan api. Namun, keterbatasan medan serta minimnya sumber air menjadi hambatan besar dalam proses pemadaman manual.
“Karena kondisi ini, kami menilai perlu dilakukan upaya tambahan berupa hujan buatan untuk mempercepat pemadaman,” katanya.
Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Kepala MEWS BMKG Sumnar di Padang, Rahmadinol menyampaikan bahwa permohonan TMC didasarkan pada kaji cepat tim BPBD di lapangan.
Ia berharap BMKG dapat memberikan respons cepat demi mencegah meluasnya kebakaran dan meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.
Surat permohonan juga ditembuskan kepada sejumlah pihak terkait, termasuk BNPB, BMKG Pusat, Gubernur Sumatera Barat, Bupati Limapuluh Kota, serta BPBD Provinsi Sumatera Barat.
Hingga berita ini ditulis, status tanggap darurat masih berlangsung, dan tim gabungan dari BPBD, Damkar, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masih terus berupaya memadamkan titik-titik api yang tersebar di kawasan hutan dan lahan milik warga.
Masyarakat Resah
Sementara masyarakat semakin resah, melihat sejumlah titik api yang terus menyala. Kondisi cuaca yang kian kering akibat musim kemarau, juga membuat masyarakat hanya bisa berdoa agar diturunkan hujan.
“Sudah empat bulan lebih hujan hampir tidak turun. Cuaca terik membuat kebakaran hutan mudah terjadi dan lahan pertanian tidak bisa diolah,” ucap salah seorang Warga, Angga di Limapuluh Kota.
Sementara salah seorang tokoh masyarakat Limapuluh Kota, Budi Febriandi mengajak masyarakat bersama-sama melaksanakan sholat Istisqa meminta ampunan dan meminta agar diturunkan hujan kepada sang pencipta.
“Malalui shalat Istisqa tentu jalan untuk meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan,” ajak Budi Febriandi.
Selain di Kecamatan Harau, kebakaran lahan di perbukitan kawasan Kecamatan Bukit Barisan masih menyala. Asap terlihat mengepul di sejumlah perbukitan yang bisa terlihat dari Nagari Tanjuang Bungo, Nagari Koto Tangah, Sungai Naniang hingga Nagari Baruah Gunuang, Kecamatan Bukit Barisan, Limapuluh Kota.
Kawasan perbukitan dengan semak belukar yang mengering dan perbukitan yang ditumbuhi pohon Pinus masih menyala dan dipastikan sulit dijangkau melalui pemadaman secara manual melalui darat. Namun tim pemadam kebakaran terlihat terus berupaya melakukan pemadaman. (rid/fdl)
Editor : Novitri Selvia