Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Di Antara Angka dan Manusia

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Ronny P Sasmita.
Ronny P Sasmita.

Advertisement

Sebagai peneliti ekonomi, geopolitik, dan geoekonomi Asia, saya telah menghabiskan sebagian besar hidup berjalan di antara dua dunia yang sering kali tidak saling mengenal. Dunia pertama adalah dunia angka, seperti grafik pertumbuhan, indeks daya saing, surplus perdagangan, cadangan devisa, arus investasi, dan berbagai indikator makroekonomi yang dipajang dengan bangga di layar konferensi internasional. Dunia kedua adalah dunia manusia, seperti wajah para pedagang kecil yang menghitung recehan di penghujung senja, petani yang menatap langit dengan kecemasan, buruh yang menunda membeli kebutuhan pokok karena upah yang tidak lagi mampu mengejar harga.

Semakin lama saya meneliti, semakin saya menyadari bahwa jarak antara kedua dunia itu sering kali jauh lebih lebar daripada yang ingin diakui para penguasa. Angka memiliki keindahan yang memikat. Sebuah pertumbuhan ekonomi lima atau enam persen dapat terlihat begitu meyakinkan. Neraca perdagangan yang mencatat surplus miliaran dolar dapat menghadirkan kesan kemajuan. Peringkat investasi yang meningkat sering dianggap sebagai bukti bahwa sebuah bangsa sedang bergerak menuju masa depan yang lebih baik.

Namun angka juga memiliki keterbatasan. Ia dapat mengukur nilai transaksi, tetapi tidak selalu mampu mengukur kegelisahan. Ia dapat menghitung pertumbuhan, tetapi tidak selalu dapat merasakan penderitaan. Ia dapat menjelaskan arah ekonomi sebuah negara, tetapi tidak selalu sanggup menjelaskan bagaimana rakyat kecil bertahan hidup di tengah arah tersebut. Pelajaran itu saya peroleh bukan dari ruang kuliah atau jurnal akademik, tapi dari perjalanan panjang melintasi berbagai negeri Asia.

Advertisement

Saya masih mengingat beberapa desa di Pakistan yang pernah saya kunjungi bertahun-tahun lalu. Di Islamabad, para pejabat berbicara tentang koridor ekonomi, investasi strategis, dan posisi geopolitis negara mereka yang semakin penting. Namun ketika saya bergerak menjauh dari gedung-gedung pemerintahan dan memasuki wi­layah-wilayah yang lebih sunyi, saya menemukan cerita yang berbeda. Banyak keluarga tidak membicarakan investasi asing atau keseimbangan strategis. Mereka membicarakan harga tepung, biaya sekolah anak-anak, dan tagihan listrik yang terus naik. Di atas meja para pengambil kebijakan, Pakistan tampak seperti sebuah persimpangan penting dalam peta Eurasia. Di meja makan rakyat kecil, yang hadir bukanlah peta geopolitik, tapi kecemasan sehari-hari.

Saya menemukan pemandangan serupa di Filipina. Statistik nasional kadang menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan. Kota-kota besar tumbuh dengan cepat. Gedung-gedung tinggi menjulang di berbagai sudut Manila, Makati, Bonafacio Global City, dll. Tetapi ketika berbincang dengan para pekerja informal dan keluarga berpenghasilan rendah, saya mendengar keluhan yang hampir sama dengan yang saya dengar di banyak negara lain, yakni pendapatan tidak bertumbuh secepat biaya hidup. Mereka hidup di dalam negara yang secara statistik berkembang, tetapi secara pribadi merasa tertinggal.

Barangkali pengalaman yang paling membekas datang dari Afghanistan. Di negeri yang selama puluhan tahun menjadi arena pe­rebutan pengaruh global itu, saya menyaksikan bagaimana narasi besar negara sering kali tenggelam di hadapan kebutuhan dasar manusia. Berbagai kekuatan berbicara tentang keamanan, strategi kawasan, dan keseimbangan kekuasaan. Namun banyak rakyat hanya menginginkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni pekerjaan, roti, keamanan bagi keluarga, dan harapan untuk esok hari. Ketika kebutuhan paling mendasar belum terpenuhi, pidato tentang kejayaan nasional terdengar seperti gema yang datang dari tempat yang sangat jauh.

Advertisement

Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian saya temukan kem­bali di sejumlah negara Asia Tenggara. Bentuknya berbeda, tetapi polanya serupa. Pemerintah sering kali berbicara dalam bahasa pertumbuhan ekonomi, sementara rakyat berbicara dalam bahasa biaya hidup. Pemerintah merayakan investasi, sementara rakyat menghitung harga beras. Pemerintah bangga pada statistik, sementara rakyat bergulat dengan realitas.

Bukan berarti data makroe­konomi tidak penting. Sebaliknya, data tersebut sangat penting. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, sebuah negara akan kesulitan membangun kesejahteraan. Namun masalah muncul ketika angka-angka itu diperlakukan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai alat untuk memahami kehidupan manusia. Di sinilah saya sering teringat pada fenomena lain yang tidak kalah menarik, yakni kebanggaan para pe­mimpin terhadap pengakuan internasional.

Dalam berbagai forum global, saya menyaksikan bagaimana penghormatan diplomatik sering diperlakukan sebagai bukti keberhasilan nasional. Foto bersama para pe­mimpin dunia, pidato di panggung internasional, atau posisi strategis dalam percaturan geopolitik kerap dipresentasikan sebagai pencapaian besar yang seharusnya membanggakan seluruh rakyat.

Tetapi kebanggaan tidak dapat dipaksakan. Rakyat biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih nyata. Mereka bertanya apakah pekerjaan tersedia. Apakah harga pangan terjangkau. Apakah pendidikan semakin mu­dah diakses. Apakah kehidupan anak-anak mereka akan lebih baik daripada kehidupan mereka sendiri.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer