Di tengah keterbatasan infrastruktur yang masih dirasakan di sejumlah wilayah perdesaan, semangat menuntut ilmu para pelajar di Nagari Sitanang, Kecamatan
Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, menjadi potret nyata perjuangan generasi muda. Seperti apa kisahnya?
Laporan : Sy Ridwan - Wartawan Padang Ekspres
Setiap hari, ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan harus mempertaruhkan keselamatan mereka dengan melintasi Jembatan Gantung Sawahgadang yang telah berdiri sejak tahun 1974.
Jembatan yang membentang di atas aliran Batang Sinamar tersebut menjadi akses terdekat sekaligus urat nadi penghubung antara sejumlah jorong dengan fasilitas pendidikan serta pusat pemerintahan nagari. Meski kondisinya kini semakin memprihatinkan, jembatan ini tetap menjadi jalur utama bagi para pelajar demi mengenyam pendidikan.
Bagi para siswa, risiko terjatuh ke sungai bukanlah hal utama yang menghentikan langkah mereka. Tekad untuk tetap bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik justru menjadi motivasi terbesar. Harapan untuk keluar dari ketertinggalan dan membawa perubahan bagi kampung halaman menjadi alasan kuat untuk terus melangkah, meski setiap hari dihantui rasa waswas saat menyeberang.
Tidak hanya pelajar, masyarakat umum hingga petani juga menggantungkan aktivitas harian pada jembatan tersebut. Setidaknya dua kali dalam sehari mereka harus melintasi jembatan yang kini mulai rapuh. Pengendara sepeda motor dituntut ekstra hati-hati saat melintas, sementara pejalan kaki harus waspada terhadap papan lantai yang banyak lapuk dan tidak lagi kokoh.
“Iya, sudah terbiasa, baik naik sepeda motor maupun berjalan kaki. Meski begitu, rasa takut kadang tetap muncul,” ujar Nora, siswi kelas IX SMP Negeri 5 yang tinggal di Jorong Batukabau.
Ia mengaku telah hampir sembilan tahun menggunakan jembatan tersebut sebagai akses utama menuju sekolah. Rutinitas itu dijalaninya sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga kini. Meski telah terbiasa dengan kondisi jembatan, ia tetap menyimpan harapan besar akan adanya perbaikan dari pemerintah. “Semoga ke depan segera diperbaiki, agar tidak ada lagi korban,” harapnya.
Kondisi jembatan yang memprihatinkan juga dibenarkan oleh Wali Nagari Sitanang, Hardison. Ia menyebutkan bahwa sejak dibangun lebih dari lima dekade lalu, jembatan tersebut belum pernah mendapatkan perbaikan secara menyeluruh dari pemerintah.
“Perbaikan selama ini hanya dilakukan secara swadaya oleh pemerintah nagari bersama masyarakat. Usulan sudah sering diajukan ke pemerintah daerah, provinsi hingga pusat, namun hingga kini belum terealisasi,” ungkap Hardison.
Menurutnya, Jembatan Gantung Sawahgadang memiliki peran vital karena menghubungkan tiga jorong penting, yakni Sungai Ipuah, Coran, dan Batukabau. Selain menjadi akses utama bagi pelajar, jembatan ini juga sangat menentukan kelancaran aktivitas perekonomian masyarakat setempat.
“Kondisinya saat ini cukup mengkhawatirkan. Tidak hanya papan lantai yang lapuk, kawat sling juga mulai rapuh. Ini tentu sangat membahayakan keselamatan warga yang melintas,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa insiden warga terjatuh dari jembatan bukanlah hal baru. Bahkan, seorang mantan kepala jorong pernah menjadi korban akibat kondisi jembatan yang tidak layak tersebut. “Kami sangat khawatir akan terjadi korban lagi, apalagi jika suatu saat tali sling putus. Dampaknya bisa sangat fatal,” tambahnya.
Meski perbaikan jembatan ini selalu menjadi prioritas dalam setiap usulan pembangunan di tingkat kabupaten, hingga kini harapan masyarakat belum juga terwujud. Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar akses vital tersebut segera diperbaiki demi keselamatan bersama.
Di balik rapuhnya Jembatan Gantung Sawahgadang, tersimpan mimpi besar ribuan warga Nagari Sitanang. Mereka mendambakan akses yang aman, layak, dan manusiawi, bukan hanya untuk menunjang aktivitas ekonomi, tetapi juga demi masa depan pendidikan generasi penerus yang lebih baik. (***)
Editor : Adriyanto Syafril