PADEK.JAWAPOS.COM - Yet Rurak (55) membungkus lapek di dapurnya di Kampung Perak, Kota Pariaman. Sejak 2000, ia setia menjaga cita rasa lapek warisan neneknya di tengah makin sedikitnya pelaku usaha kuliner tradisional. Namun ia bertahan dari gempuran makanan kekinian yang disukai generasi Z (Gen Z) , hanya satu kata yang keluar dari mulutnya merawat tradisi.
Kota Pariaman dengan keragaman kuliner dengan cita rasa menggugah selera. Tidak hanya makanan berat, camilan khas Pariaman juga terkenal dengan kelezatan alami yang pasti bikin nagih. Diantaranya lapek sipuluik dan lapek koci Pariaman.
Lapek sipuluik terbuat dari campuran tepung ketan, santal kental dengan sedikit bubuhan garam. Untuk isiannya unti kelapa parut dengan tambahan kacang.
Bungkus lapek sipuluik berasal daun pisang muda yang lembut sehingga hasilnya lebih cantik. Sebelum dihidangkan lapek sipuluik disajikan dengan tambahan guyuran santan kental yang makin menambah nikmat cita rasa.
Bagaimana dengan lapek koci? Nah, panganan ini juga sama-sama terbuat dari tepung ketan. Hanya saja adonan kulit lapek koci ada penambahan gula merah, sehingga warnanya lebih coklat. Untuk isiannya terbuat dari kacang hijau yg digiling halus dan dimasak dengan gula merah. Rasanya gurih nikmat dan legit.
Kedua makanan ini merupakan salah satu menu wajib hantaran menantu kepada mertua. Lapek juga merupakan hidangan penutup / parabuangan wajib saat acara adat, baralek dan lainnya.
Baca Juga: Ambulans Laut Mentawai Minim, Semen Padang Siap Kaji Bantuan
Meski demikian, saat ini tak banyak lagi pelaku UMKM yang memilih jualan lapek, selain pengerjaannya yang lumayan ribet, lapek juga tak tahan lama.
Namun tak demikian dengan Yet Rurak,55, ia telah memulai usaha lapek ini sejak tahun 2000. Kepandaian membuat lapek ia dapt dari sang nenek. Resep warisan neneknya inilah yang kemudian menjadi lapek buatannya sangat disuka konsumen.
“ Untuk lapek koci kalau lebaran selalu tersedia namun di hari biasa saya hanya buat berdasarkan orderan saja. Untuk lapek sipuluik saya buat hanya saat orderan, karna lapek ini hanya tahan 1 hari disuhu ruang,”ujarnya.
Usaha lapek ini beralamat di Jalan Syech M Djamil no 23 Kampung Perak Pariaman. Harga lapek sipuluik Rp 3500 / bungkus sedangkan lapek koci Rp 3000/bungkus.
Yet menyebut saat lebaran dan hari -hari banyak pernikahan, orderan lapek bisa mencapai ratusan. Namun saat hari biasa ia hanya buat berdasarkan orderan.
Yet menyebut untuk lapek sipuluik terkadang ia terkendala daun pisang muda. Ia menyiasati dengan memesan H-2 jelang orderan. Sementara untuk bahan baku lainnya relatif murah didapatkan.
Ia menyebut selagi sehat, ia masih akan melanjutkan usaha ini. Karena ini tak hanya tentang mendapatkan cuan namun sekaligus merawat tradisi lewat makanan tradisional (*)
Editor : Adriyanto Syafril