Aroma sate, rendang, dan gulai daging kerap memenuhi rumah-rumah saat Idul Adha. Di tengah hangatnya kebersamaan dan nikmatnya hidangan serba daging itu, terselip kebiasaan yang sering tak disadari, mengonsumsi daging tanpa batas, yang berdampak pada kesehatan jika tidak dikontrol dengan bijak.
Di momen ini, semua masyarakat beragama Islam memasak makanan berbahan daging. Berbagai macam makanan seperti sate, rendang, gulai daging, dendeng memenuhi meja makan. Bagi umai Islam hari itu adalah hari makan dan minum.
“ Idul Adha sambalnya berbahan daging semua. Ini namanya perbaikan gizi, kalau sudah seperti ini saya susah buang air besar,” ujar Abdi sambil tersenyum.
Garin masjid itu mengatakan, masalah yang sering muncul usai Idul Adha adalah kolesterol naik hingga susah tidur.
Dibalik makanan lezat yang terhidang itu ada yang perlu kita waspadai. Makan daging berlebihan saat Idul Adha berdampak buruk bagi tubuh, terutama jika tidak dibatasi dengan bijak.
Kepala Depatemen Gizi FKM Universitas Andalas (UNAND) Syahrial, mengatakan, makanlah daging seperlunya, jangan sampai berlebihan. Terbih bagi lansia dan orang yang berisiko kolesterol, hipertensi dan jantung. Untuk menghindari itu, kita perlu makanan yang mengandung vitamain dan serat.
“Boleh makan daging, tapi pilihlah daging yang tanpa lemak, dan harus ada seratnya seperti sayuran dan buah-buahan, fungsinya membersihkan usus dari lemak daging yang kita makan,” jelasnya.
Di samping itu, banyak minum air putih adalah solusi terbaik, kemudian banyak makan yang tinggi serat serta mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat. Dan, jangan lupa juga mengkonsumsi buah yang berserat tinggi.
Ia juga mengingatkan, yang perlu diwaspadai adalah kandungan kolesterol dan lemak jenuh yang umumnya terdapat di bagian lemak sapi atau kambing.
Kemudian organ dalam seperti, hati, otak dan paru pada hewan kurban yang memiliki kandungan purin cukup tinggi. Makanan ini sangat tidak baik bagi orang yang punya riwayat asam urat.
Tubuh manusia memiliki mekanisme metabolisme yang cukup adaptif terhadap konsumsi lemak hewani dalam jumlah moderat. Masalah baru muncul ketika konsumsi berlebihan dalam waktu singkat, seperti yang sering terjadi saat momen Idul Adha. “ Ya, makan daging boleh-boleh saja, tapi yang perlu diperhatikan sesuai dengan kebutuhan tubuh dan jangan berlebihan, “ jelasnya.
Konsumsi daging merah yang direkomendasikan WHO adalah maksimal 500 gram per minggu untuk orang sehat, dan angka ini mencakup semua jenis daging merah, bukan hanya daging sapi.
Makan 300 gram daging dalam satu kali duduk lalu diulang tiga hari berturut-turut adalah skenario yang membebani kerja hati dan ginjal, bukan karena lemaknya semata, tapi karena total beban metabolik yang harus ditanggung sekaligus. Sebaliknya, makan 100-150 gram daging kurban per hari dalam seminggu adalah pola konsumsi yang masih tergolong aman bagi orang dewasa sehat.
Selain membatasi porsi, penting juga untuk menyeimbangkan asupan dengan serat dari sayuran dan buah, karena serat membantu memperlambat penyerapan lemak di usus.
Kombinasi antara lemak jenuh dan kolesterol makanan bisa memperparah kadar lemak darah, khususnya bagi orang dengan riwayat penyakit jantung maupun hiperkolesterolemia.
Menurut Kemenkes RI, kadar kolesterol yang tergolong tinggi berkisar antara 200–239 mg/dl, sedangkan di atas 240 mg/dl sudah tergolong sangat tinggi. Ini pemicu penyakit jantung dan stroke dalam daging kurban. Karena terdapat lemak jenuh yang dapat berdampak buruk, jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dengan membatasi asupan daging merah/olahan serta beralih ke sumber protein sehat, bisa menjaga kesehatan jangka panjang . (juf)