Penulis : Dr. Gusnedi, STP, MPH - Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Ketua DPD Persagi Sumatera Barat
Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung kini menjadi ancaman kesehatan utama masyarakat Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sekitar sepertiga penduduk dewasa Indonesia mengalami hipertensi, sementara kasus diabetes terus meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Kondisi ini berkaitan erat dengan pola makan masyarakat yang masih tinggi gula, garam, dan lemak. Perhatian terhadap konsumsi lemak sehari-hari menjadi semakin penting, tidak hanya dari jumlah yang dikonsumsi, tetapi juga dari cara makanan diolah dan dipanaskan kembali sebelum dimakan.
Pada masyarakat Minang, tantangan konsumsi lemak menjadi lebih besar karena masakan bersantan dan tinggi lemak masih mendominasi pola makan sehari-hari. Rendang, gulai, dan kalio merupakan bagian penting dari tradisi kuliner yang sering dimasak dalam jumlah besar lalu dipanaskan kembali berulang kali agar lebih praktis dan terasa semakin lezat. Padahal, dari sudut pandang kesehatan, kebiasaan memanaskan ulang makanan tinggi lemak dapat meningkatkan kerusakan lemak yang berdampak buruk terhadap profil lipid darah dan kesehatan jantung.
Masalah utamanya terletak pada proses oksidasi lemak. Ketika makanan bersantan atau berminyak dipanaskan berulang pada suhu tinggi, struktur lemak mengalami kerusakan dan menghasilkan senyawa oksidatif seperti radikal bebas serta lipid peroksida. Semakin sering makanan dipanaskan, semakin besar pula kerusakan yang terjadi pada kualitas lemak tersebut. Senyawa hasil oksidasi ini dapat memicu peradangan dalam tubuh dan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), menurunkan kolesterol baik (HDL), serta mempercepat proses aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak lemak. Inilah salah satu jalur utama terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke.
Hal ini bukan berarti masyarakat harus meninggalkan masakan tradisional Minang. Kuliner Minang tetap merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Yang perlu diperbaiki adalah cara pengelolaan dan pola konsumsinya agar lebih sesuai dengan tantangan kesehatan masyarakat modern.
Ada beberapa langkah sederhana yang sebenarnya dapat dilakukan di rumah.
Pertama, memasak secukupnya agar makanan tidak perlu dipanaskan berkali-kali. Kedua, bila ada sisa makanan, segera simpan dalam wadah tertutup di lemari pendingin. Ketiga, panaskan hanya bagian yang akan dikonsumsi, bukan seluruh masakan berulang-ulang. Keempat, mulai mengurangi penggunaan santan terlalu pekat dan minyak berlebih. Kelima, perbanyak konsumsi sayur, buah, serta lauk yang diolah dengan cara lebih sehat seperti dikukus, direbus, atau dipanggang.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan jantung tidak hanya bergantung pada obat atau pemeriksaan kesehatan rutin. Cara mengolah makanan sehari-hari ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan metabolik tubuh.
Sering kali ancaman terbesar bukan berasal dari makanan yang sesekali dikonsumsi, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun. Karena itu, mulai hari ini mungkin kita perlu lebih bijak dalam memanaskan kembali makanan di rumah. Sebab makanan terbaik bukan hanya yang paling lezat di lidah, tetapi juga yang paling aman bagi jantung dan kesehatan keluarga. (*)
Editor : Adriyanto Syafril