PADEK.JAWAPOS.COM--Kenaikan harga bahan baku plastik mulai berdampak pada pelaku usaha di Kota Padang. Lonjakan ini dipicu oleh terganggunya pasokan minyak mentah akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat, yang berimbas pada terbatasnya produksi bahan baku plastik.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Hadi Candra, 31, pemilik Kalisani Coffee yang berlokasi di kawasan Kampus Universitas Andalas, Limaumanih.
Ia mengaku kenaikan harga plastik sangat signifikan dan mempengaruhi biaya operasional usahanya.
"Kalau secara cost itu otomatis naik, karena kenaikan harga plastik cukup besar. Kalau hanya 5 sampai 10 persen tidak masalah, tapi ini sudah di atas 60 persen," ujarnya kepada Padang Ekspres, Selasa (7/4) malam.
Baca Juga: Defisit APBN Rp240 Triliun Jadi Alarm Fiskal, Pemerintah Diminta Waspada
Hadi menjelaskan, lonjakan harga mulai terasa sejak awal April 2026. Sebelumnya, harga cup plastik lengkap dengan sablon berada di kisaran Rp 390.000 per dus, namun kini melonjak hingga Rp 700.000 per dus. Kondisi ini membuat margin keuntungan usaha, terutama coffee shop dengan harga terjangkau, semakin tergerus.
Menurutnya, kedai kopi yang menyasar segmen menengah ke atas mungkin tidak terlalu terdampak.
Namun bagi usaha seperti Kalisani Coffee yang mematok harga minuman sekitar Rp15 ribu, kenaikan biaya produksi menjadi tantangan serius.
"Dengan harga jual sekitar Rp15 ribuan, kenaikan ini cukup mempengaruhi. Apalagi bukan hanya plastik, harga susu dan biji kopi juga ikut naik," jelasnya.
Baca Juga: Sumbar Pacu Transformasi Ekonomi, Target Investasi Rp13,3 Triliun dan Peran CEO Daerah
Ia menambahkan, kenaikan harga bahan baku seperti susu dan kopi sudah terjadi sejak Maret lalu. Meski demikian, Hadi memperkirakan tren kenaikan ini bersifat sementara dan kemungkinan akan mulai menurun pada pertengahan tahun, sekitar Juni atau Juli.
Selain plastik, kelangkaan juga sempat terjadi pada susu UHT di pasaran. Hadi menyebutkan harga susu UHT saat ini berada di kisaran Rp230.000 per dus, namun sulit diperoleh dan pembelian sering dibatasi. Sementara itu, Kalisani Coffee menggunakan fresh milk yang kenaikannya relatif lebih kecil, sekitar Rp10.000 per dus.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Hadi terpaksa melakukan penyesuaian harga, meskipun tidak signifikan. Ia hanya menaikkan harga produk sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 agar tetap sesuai dengan daya beli mahasiswa sebagai target pasar utama.
Baca Juga: RI Kecewa PBB, Investigasi Insiden Tewaskan Pasukan Perdamaian Dinilai Belum Tuntas
"Karena berada di lingkungan kampus, kita tidak bisa menaikkan harga terlalu tinggi. Jadi penyesuaiannya sangat terbatas," katanya.
Selain itu, ia juga mulai mencari alternatif kemasan plastik yang lebih ekonomis. Jika sebelumnya menggunakan cup dengan tutup buka-tutup, kini beralih ke kemasan plastik standar untuk menekan biaya.
Hadi berharap kondisi harga bahan baku segera kembali stabil agar tidak semakin membebani pelaku usaha maupun konsumen. Menurutnya, dampak kenaikan harga di sektor hulu pada akhirnya akan dirasakan hingga ke tingkat konsumen.
"Kalau rantai pasoknya aman, konsumen juga akan lebih terlindungi. Karena pada akhirnya, yang paling dirugikan dari kenaikan ini adalah pembeli," pungkasnya. (cr4)
Editor : Adetio Purtama