PADEK.JAWAPOS.COM - Program KABAPADEK Sore, Senin (4/5), menghadirkan Manager Iklan Padang Ekspres, Rommi Delfiano, sebagai narasumber. Dalam dialog yang dipandu host Febi Tri Lianti tersebut, dibahas tren peningkatan kasus kebakaran di Sumatera Barat yang dinilai semakin mengkhawatirkan dalam beberapa waktu terakhir.
Rommi yang juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi menyoroti bahwa frekuensi kebakaran kini terjadi hampir setiap hari di berbagai daerah. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
“Kalau kita lihat, kebakaran ini hampir terjadi setiap hari. Bahkan, jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di Payakumbuh, di mana angka kejadian kebakaran mengalami lonjakan signifikan. Dari sekitar 41 kasus, jumlahnya disebut meningkat hingga ratusan kejadian dalam periode tertentu.
Menurut Rommi, kebakaran tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga memberikan efek luas bagi lingkungan sekitar, termasuk kerugian materiil dan gangguan sosial. Ia juga mengingatkan bahwa potensi kebakaran cenderung meningkat saat memasuki musim kemarau, terutama sekitar bulan Maret.
“Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran memang meningkat. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran di kawasan permukiman disebabkan oleh arus pendek listrik. Ia menilai, penyebab tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui pengelolaan instalasi listrik yang baik dan sesuai standar.
“Rata-rata kebakaran di permukiman disebabkan arus pendek. Ini bisa dicegah jika instalasi listrik di rumah sesuai standar,” ujarnya.
Rommi juga menyoroti masih banyaknya praktik penggunaan listrik yang tidak sesuai ketentuan, seperti penambahan stop kontak secara berlebihan tanpa memperhatikan kapasitas dan keamanan instalasi.
“Kadang masyarakat menambah stop kontak tanpa memperhatikan standar. Ini yang sering memicu arus pendek,” tambahnya.
Ia menilai perlunya regulasi yang lebih tegas serta audit berkala terhadap instalasi listrik, baik di rumah tangga maupun fasilitas umum seperti pasar. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalisir risiko kebakaran sejak dini.
“Seharusnya ada pihak yang melakukan pengecekan atau audit instalasi listrik secara berkala, agar potensi kebakaran bisa diminimalisir,” tegasnya.
Selain itu, Rommi juga mendorong pemerintah daerah untuk membentuk posko siaga kebakaran di tingkat kelurahan atau nagari, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran. Menurutnya, keberadaan posko ini dapat mempercepat respons awal sebelum api membesar.
“Perlu ada posko siaga di lingkungan masyarakat, sehingga respons awal bisa cepat sebelum api membesar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa posko tersebut dapat dilengkapi dengan peralatan dasar pemadam kebakaran, seperti alat pemadam api ringan (APAR), selang air, hingga sumber air darurat yang mudah diakses oleh warga.
“Minimal ada alat pemadam sederhana dan sumber air yang siap digunakan. Ini penting untuk penanganan awal,” katanya.
Di sisi lain, Rommi menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana di lingkungan masing-masing. Ia mengimbau agar warga memastikan instalasi listrik aman, tidak menumpuk colokan pada satu sumber listrik, serta rutin memeriksa kondisi kabel.
“Masyarakat bisa mulai dari hal kecil, seperti tidak menumpuk stop kontak, memastikan kabel tidak rusak, dan mematikan listrik jika tidak digunakan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak meninggalkan kompor dalam kondisi menyala serta menjauhkan bahan mudah terbakar dari sumber api.
“Hal sederhana seperti memastikan kompor sudah dimatikan dan menjauhkan bahan mudah terbakar itu sangat penting,” tambahnya.
Selain itu, dalam kondisi cuaca panas atau musim kemarau, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar.
“Kesadaran masyarakat juga penting. Saat kemarau, hindari membakar sampah atau lahan karena risikonya sangat besar,” katanya. (sel)
Editor : Adriyanto Syafril