Menurut Hendrajoni, jembatan darurat itu menjadi satu-satunya akses vital bagi masyarakat Koto Rawang, termasuk anak-anak sekolah dan para guru.
Namun, lebarnya yang tidak lebih dari 1 meter tanpa pagar pengaman di kiri-kanan, menjadikan jembatan ini sangat berisiko.
“Saya merasa miris melihat langsung kondisinya. Sudah ada warga yang jatuh ke sungai saat melintasi jembatan ini,” kata Hendrajoni.
Jembatan utama Koto Rawang putus akibat banjir bandang yang terjadi pada tahun 2024. Pemerintah setempat kemudian membangun jembatan darurat secara sederhana sebagai solusi sementara.
Namun, seiring waktu, jembatan darurat tersebut semakin lapuk dan tak layak pakai. Dalam kondisi ini, kekhawatiran akan keselamatan warga pun terus meningkat.
Harapan pada Pemerintah Pusat
Pemkab Pessel telah mengajukan usulan pembangunan jembatan permanen kepada pemerintah pusat. Namun hingga saat ini, realisasi belum juga terjadi.
“Mengingat keterbatasan anggaran daerah, kami sangat berharap ada dukungan dari pemerintah pusat untuk merealisasikan pembangunan jembatan ini,” ungkap Hendrajoni.
Ia juga meminta Dinas PUPR Pessel untuk kembali mengajukan proposal pembangunan, mengingat urgensi kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Hendrajoni juga menyampaikan permintaan kepada masyarakat Koto Rawang untuk bersabar dan tetap waspada saat melintasi jembatan darurat itu.
“Pemerintah daerah akan terus berupaya mendorong pembangunan jembatan ini. Semoga saja pengajuan kita dikabulkan dalam waktu dekat,” tutupnya.
Kondisi jembatan yang makin rusak dan berbahaya menjadi perhatian utama dalam kunjungan tersebut. Bersama rombongan pejabat Pemkab, termasuk Kepala Dinas PUTR Yusvianty, Kepala BPBD Yuskardi, serta Kepala Dinas Kominfo Pessel Wendi, Bupati menyaksikan langsung kerusakan parah yang dikhawatirkan bisa mengancam keselamatan warga. (yon)
Editor : Hendra Efison