Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menyigi Nagari Hafizh Pandai Sikek Kabupaten Tanahdatar: Ketika Benang Songket Bertemu Ayat-ayat Suci Al Quran

Adriyanto Syafril • Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:50 WIB
Arak-arakan pawai saat menghadiri peresmian Nagari Hafizh, Padai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. (DOK Muhammad Harizon, S.Pd)
Arak-arakan pawai saat menghadiri peresmian Nagari Hafizh, Padai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. (DOK Muhammad Harizon, S.Pd)

Di Nagari Pandai Sikek, denting alat tenun telah lama menjadi irama kehidupan. Dari rumah-rumah sederhana di kaki gunung, tangan-tangan para perajin merajut benang demi benang hingga lahirlah songket yang anggun, menghiasi bahu perempuan Minangkabau dalam berbagai upacara adat. Tapi,  Selasa, (30/6) lalu, nagari yang selama ini dikenal karena tenunannya itu menenun sejarah baru, bukan lagi dengan benang emas, melainkan dengan ayat-ayat suci yang dijaga di dalam dada.

Hari itu, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, resmi diresmikan sebagai Nagari Hafizh sekaligus me­laksanakan Waqaf Hafizh Nagari. Sebuah pengakuan yang lahir dari perjalanan panjang masyarakat dalam membina generasi pencinta Al-Qur’an, mulai dari balita hingga orang dewasa.

Di halaman Masjid Taqwa Koto Tinggi, suasana terasa berbeda. Arak-arakan pawai yang bergerak dari Balai Baruah menuju lokasi acara disambut wajah-wajah pe­nuh harap. Anak-anak dengan hafalan di dada berjalan berdampingan dengan orang tua yang selama ini menemani langkah mereka mengulang ayat demi ayat. Di tengah keramaian itu, terselip rasa syukur yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

Hingga kini, lebih dari 600 hafizh dan hafizhah telah lahir di Pandai Sikek dengan capaian hafalan mulai dari 1 hingga 30 juz. Sebagian besar di antaranya merupakan anak-anak usia sekolah yang telah mengikuti proses validasi dan haflah dalam program Waqaf 1.000 Hafizh yang dipusatkan di halaman Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar.

Program tersebut merupakan bagian dari program unggulan Pemerintah Kabupaten Tanahdatar, yaitu Satu Rumah Satu Hafizh. Melalui program ini, masyarakat yang telah menghafal Al-Qur’an mulai dari 1 juz dan seterusnya mengikuti proses validasi yang diselenggarakan Forum Komunikasi Rumah Tahfizh (FKRT) bersama lajnah tingkat kecamatan dan ka­bupaten. Bagi peserta yang dinyatakan lulus, rumahnya akan dipasangi stiker sebagai penanda keberhasilan program tersebut.

Perjalanan Pandai Sikek me­nuju Nagari Hafizh bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam kegiatan Haflah Waqaf 1.000 Hafizh, nagari ini tercatat tiga kali berturut-turut menjadi peserta terbanyak. Prestasi tersebut menjadi salah satu alasan kuat hingga Pandai Sikek dinilai layak menyandang predikat Nagari Hafizh.

Sejumlah persyaratan pun telah dipenuhi. Tercatat lebih dari 300 rumah telah dipasangi stiker Satu Rumah Satu Hafizh, sementara lebih dari 500 hafizh telah terdata melalui Nomor Induk Hafizh (NIH) dari seluruh rumah tahfizh di nagari, yakni Rumah Tahfizh Shohibul Quran, Surau Da’wah, Syafaatul, dan Mu’adz bin Jabal. Dukungan Pemerintahan Nagari juga tertuang dalam dokumen anggaran, diperkuat dengan keberadaan SK FKRT Nagari serta usulan resmi dari FKRT dan Wali Nagari kepada Bupati Tanahdatar.

Peresmian tersebut dihadiri Wali Nagari Pandai Sikek, Camat X Koto, perwakilan Bupati Tanahdatar melalui Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik, anggota DPRD kabupaten dan provinsi, serta perwakilan Gubernur Sumatera Barat melalui Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Provinsi Sumatera Barat.

Sebanyak 228 peserta, mulai dari usia balita hingga tingkat SMA, mengikuti Waqaf Hafizh Nagari setelah dinyatakan lulus da­lam program Waqaf 1.000 Hafizh Tanahdatar. Mereka berasal dari empat rumah tahfizh di Nagari Pandai Sikek, yaitu Rumah Tahfizh Shohibul Quran, Surau Da’wah, Syafaatul, dan Mu’adz bin Jabal, serta dari PP MTI Koto Tinggi, PP Haji Miskin, dan MTs Diniyah.

Keberhasilan ini tidak dibangun oleh satu orang. Pemerintahan Nagari Pandai Sikek, BPRN, KAN, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga pendidikan, FKPM, Bundo Kanduang, para pemuda, wali murid, hingga para perantau turut memberikan dukungan moril dan materil. Dari surau hingga rantau, dari ruang kelas hingga rumah-rumah penduduk, semuanya me­nyumbangkan tenaga dan doa agar gerakan tahfizh ini terus tumbuh.

Kini, lebih dari 360 rumah telah ditempeli stiker Satu Rumah Satu Hafizh, sementara ratusan hafizh dan hafizhah terus bertambah dari tahun ke tahun. Angka-angka itu bukan sekadar data administrasi. Di baliknya ada air mata orang tua yang bangun sebelum fajar, ada suara anak-anak yang mengulang hafalan selepas bermain, dan ada harapan sebuah nagari yang ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi kehidupan.

Masyarakat berharap, dengan diresmikannya Pandai Sikek sebagai Nagari Hafizh, kecintaan terhadap Al-Qur’an akan semakin tumbuh. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafal, tetapi juga ditadabburi serta diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Nagari ini pernah dikenal karena keindahan songket yang ditenun dengan penuh kesabaran. Hari ini, Pandai Sikek juga dikenal karena generasi yang menenun ayat-ayat Allah di dalam hati mereka. Jika dahulu benang-benang emas menjadi kebanggaan nagari, kini lantunan hafalan Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi rumah-rumahnya.

Semoga Pandai Sikek senantiasa menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur—negeri yang baik, subur, makmur, dan berada dalam lindungan serta ampunan Allah SWT. Sebab, ketika benang songket bertemu ayat-ayat langit, lahirlah sebuah nagari yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga teduh bagi jiwa.

Hari ini, Pandai Sikek juga dikenal karena generasi yang menenun ayat-ayat Allah di dalam hati mereka. Jika dahulu benang-benang emas menjadi kebanggaan nagari, kini lantunan hafalan Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi rumah-rumahnya. (Muhammad Harizon, S.Pd)

Editor : Adriyanto Syafril
#Nagari Padek