PADEK.JAWAPOS.COM - Kendaraan listrik memang belum semasif kendaraan dengan bahan bakar minyak (BBM) di jalanan Sumbar. Tapi keberadaannya sudah mulai kerap terlihat. Baik motor maupun mobil.
TAK dapat dinafikan, efesien biaya penggunaan dan kenyamanan berkendara jadi salah satu daya tariknya. Hal tersebut sangat dirasakan Luthfi Setia Wanel yang beralih dari mobil konvensional ke listrik sejak 23 Februari lalu.
Mobil tersebut dipakai harian. Dari sisi ekonomi, pegawai PLN di Lubukalung, Kabupaten Padangpariaman itu merasakan penghematan yang sangat mencolok. Saat masih menggunakan jenis bensin, ia harus merogoh kocek hingga Rp 1.000.000 setiap bulan untuk pengisian BBM. Namun, setelah beralih ke mobil listrik, biaya energi yang dikeluarkan menyusut hingga lebih dari separuhnya.
“Saya hanya menghabiskan sekitar Rp 400.000 sampai Rp 500.000 per bulan. Artinya, ada penghematan sekitar 50 persen,” akunya lelaki 29 tahun itu kepada Padang Ekspres, beberapa hari lalu.
Hal serupa juga dirasakan Rifdarmon. Dosen Teknik Otomotif di Universitas Negeri Padang (UNP). Rata-rata dia memakai mobil listriknya 100 km per hari. Kini kilometernya sudah mencapai sekitar 100 ribu.
Meski demikian, menurutnya perlu ada peningkatan dari pemerintah berkaitan dengan penyediaan pengisian kendaraan listrik dengan fast charging. Sekarang ada teknologi fast charging yang hanya memakan waktu 30 menit dalam pengisian baterai kendaraan.
“Ini yang masih kurang. Di di Padang hanya ada di beberapa tempat. Padangpanjang hanya 1. Jika dibandingkan dengan Pekanbaru jumlah pengisian fast charging sudah cukup banyak,” terang dia.
Harga beli kendaraan listrik yang lebih tinggi dari kendaraan BBM sempat membuat ragu Alif Maulana. Namun, karena ada diskon ia pun tertarik. Harga motornya Rp 21 juta menjadi Rp 14.000.000.
Warga Kuranji, Kota Padang ini mengaku, hanya menggunakan motor listrik untuk di dalam kota saja. Sebab, kecepatannya terbatas. Serta belum ada patokan yang pasti untuk jumlah baterai dengan jarak tempuh.
Di sisi lain, ia baru mengetahui perihal kendaraan listrik memiliki harga jual kembali yang rendah. Namun, hal tersebut tak terlalu jadi masalah bagi dia. Karena motor listrik miliknya juga merupakan motor kedua. Jadi hanya untuk pergi berbelanja atau jalan santai-santai.
Dilirik karena Subsidi Pajak
Selain biaya penggunaan yang lebih hemat, kendaraan listri mulai dilirik masyarakat karena ada dukungan negara dengan subsidi pajak. After Sales Manager Chery STA (Sentra Theta Auto) Padang, Vinsen Halim menyampaikan, Chery J6 dengan harga Rp 595 juta dan tipe lebih tingginya J6T di harga Rp 679 juta hanya terkena pajak tahunan kendaraan sekitar Rp 140.000. Itu tentu saja sangat jauh lebih murah daripada pajak kendaraan tahunan untuk mobil BBM.
Pada tahun ini, potensi pasar mobil listrik pun ia sebut mulai membesar di Sumbar. Terutama Kota Padang. Chery STA Padang pun sudah mulai menerima tamu-tamu dari lini pemerintahaan untuk mobil listrik.
“Penjualan dari bulan ke bulan bisa dibilang naik. Tahun sebelumnya, pasar masih sangat ragu-ragu. Khususnya masyarakat Kota Padang. Tahun ini kita lebih percaya diri. Lebih yakin kalau edukasi masyarakat sudah lumayan meningkat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tahun-tahun sebelumnya, kendaraan listrik kerap dijadikan kendaraan kedua dan untuk pemakaian dalam kota. Namun, seiring peningkatan kualitas dan spesifikasi mobil listri dan edukasi terhadap masyarakat juga meningkat, tahun 2026 sudah mulai terjadi pergeseran. Mobil listrik juga dijadikan kendaraan pertama.
Vinsen memandang, mobil listrik memiliki potensi yang besar di Sumbar. Nominal pajak tahunan yang rendah, maintenance yang tidak ribet, bahan bakar listrik dengan jarak per-KWH yang cukup jauh, membuat masyarakat melirik mobil listrik sebagai pilihan kendaraan mereka.
Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap harga jual kembali yang rendah, Chery STA Padang sebutnya, memiliki program resale value untuk maksimal penggunaan satu sampai tiga tahun. Dengan pembelian 70 persen resale, costumer bisa membeli produk Chery lainnya alias tukar tambah.
Maksimalkan Infrastruktur
Pengamat transportasi Yosritzal menilai, kendaraan listrik perlu dimasifkan secara bertahap di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan kondisi energi fosil yang semakin terbatas serta kebutuhan akan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
“Kendaraan listrik memiliki banyak keuntungan. Di tengah terbatasnya energi dari minyak bumi, listrik menjadi alternatif yang baik. Selain itu, kendaraan listrik relatif tidak menimbulkan polusi,” katanya.
Namun, ia mengingatkan, kendaraan listrik belum sepenuhnya bebas dari dampak lingkungan. Proses produksi listrik dan pengelolaan limbah baterai tetap memiliki potensi pencemaran yang perlu diantisipasi.
Di sisi lain, harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, adanya kebijakan insentif seperti pajak pembelian yang rendah serta biaya perawatan yang lebih murah dinilai dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Ke depan, ia memprediksi persoalan utama yang akan dihadapi adalah ketersediaan infrastruktur pendukung seperti bengkel khusus, suku cadang, serta sistem pengelolaan limbah baterai bekas. “Kalau fasilitas seperti tempat pengisian daya, bengkel, dan suku cadang sudah tersedia dengan baik, saya yakin akan semakin banyak masyarakat yang beralih ke mobil listrik,” jelas akademi dari Universitas Andalas yang juga rektor Universitas Islam Sumatera Barat itu.
Dia pun menekankan pentingnya pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik dalam jangka panjang. Perlu ada teknologi yang mampu menetralisir dampak baterai bekas agar tidak mencemari lingkungan.
Yosritzal berharap pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan dapat mempercepat penyediaan infrastruktur pendukung agar adopsi kendaraan listrik di Sumbar dapat berjalan lebih optimal.
Ekosistem Makin Berkembang
Terpisah, General Manager PLN UID Sumbar Ajrun Karim menegaskan, pihaknya mendukung pengoperasian kendaraan listrik sebagai bagian dari implementasi electrifying lifestyle di tengah dinamika global saat ini. Listrik menjadi salah satu alternatif energi yang cukup baik dan nyaman karena tersedia di setiap tempat.
“Saat ini atmosfer penggunaan kendaraan listrik juga terus meningkat,” ujarnya. Berdasarkan data hingga April 2026, jumlah kendaraan listrik di Sumbar terus bertambah. Untuk roda dua tercatat sebanyak 1.060 unit, sementara roda empat sebanyak 349 unit khusus kendaraan berpelat BA.
Jumlah tersebut belum termasuk kendaraan dari luar daerah yang masuk atau melintas di wilayah Sumbar. Kondisi ini menunjukkan ekosistem kendaraan listrik di daerah semakin berkembang.
Sebagai bentuk dukungan, PLN UID Sumbar telah mengoperasikan sebanyak 95 dispenser atau nozzle Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di lebih 70 titik di Sumbar. Fasilitas tersebut berada di kantor PLN, kantor pemerintah, serta berbagai ruang publik dan pusat keramaian.
“Artinya masyarakat sekarang semakin mudah mengakses tempat untuk melakukan pengisian kendaraan listrik,” katanya.
Selain SPKLU, PLN juga mendorong penggunaan home charging bagi masyarakat. Fasilitas pengisian di rumah dinilai lebih ekonomis dibandingkan pengisian di SPKLU. Ajrun menyebut, masyarakat dapat dengan mudah mengajukan pemasangan home charging melalui aplikasi PLN Mobile atau datang langsung ke kantor PLN terdekat.
Terkait soal lonjakan biaya listrik, Ajrun memastikan hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan selama penggunaan sesuai kebutuhan. “Tarif dasar listrik tidak ada kenaikan. Biaya yang dibayar sesuai pemakaian kWh. Jadi peningkatan biaya akan linear dengan penggunaan,” tukasnya. (cr3/yud/cr4)
Editor : Adriyanto Syafril