Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Saat Harga Berbagai Bahan Bangunan Mulai Melonjak, Pola Belanja Berubah, Tantangan bagi Pengembang

Irfan R Rusli • Sabtu, 9 Mei 2026 | 10:45 WIB
Rumah salah seorang warga yang sedang proses pembangunan di Perumahan Alam Indah Lumin, Kota Padang, Jumat (8/5). (IRFAN/PADEK)
Rumah salah seorang warga yang sedang proses pembangunan di Perumahan Alam Indah Lumin, Kota Padang, Jumat (8/5). (IRFAN/PADEK)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sejak 4 Mei 2026 berpotensi memicu efek domino. Yakni pembengkakan biaya logistik hingga melonjaknya harga barang di tingkat konsumen. Peneliti Ekonomi dan Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut kondisi ini krusial karena BBM diesel memiliki peran vital dalam aktivitas logistik, transportasi barang, hingga proses produksi.

Salah satu harga barang yang melonjak saat ini adalah materian bangunan. Di Kota Padang mulai dirasakan masyarakat yang tengah melakukan pembangunan maupun renovasi rumah. Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur ulang rencana pembangunan karena biaya yang dibutuhkan semakin besar.

Pantauan Padang Ekspres di toko bangunan Al Ghazi yang berada di kawasan Aiadingin, Lubukminturun, Kamis (7/5) menunjukkan, hampir seluruh bahan bangunan mengalami penyesuaian harga. Kenaikan terjadi pada beberapa item utama seperti paku yang sebelumnya dijual sekitar Rp 20 ribu kini naik Rp 2 ribu. Seng yang dijual per kodi juga mengalami kenaikan dari Rp 12,5 ribu menjadi Rp 15 ribu.

Sementara itu, baja ringan menjadi salah satu material dengan kenaikan paling tinggi. Dari sebelumnya sekitar Rp 100 ribu kini naik menjadi Rp 150 ribu. Harga kayu per kubik juga meningkat dari Rp 2,2 juta menjadi Rp 2,5 juta.

Untuk semen, kenaikan memang tidak terlalu besar, yakni sekitar Rp 500 per sak sehingga kini berada di angka Rp 76.500. Namun karena menjadi kebutuhan utama pembangunan, kenaikan tersebut tetap dirasakan masyarakat.

Selain itu, harga keramik ukuran 40x40 kini mencapai Rp 70 ribu per kotak. Sedangkan besi ukuran kecil mengalami kenaikan dari Rp 32 ribu menjadi Rp 35 ribu per batang dan besi ukuran delapan naik dari Rp 52 ribu menjadi Rp 55 ribu.

Owner toko bangunan Al Ghazi, Vivi mengatakan, kenaikan harga terjadi secara bertahap mengikuti perubahan harga dari distributor. Hampir seluruh bahan bangunan mengalami penyesuaian sehingga toko harus ikut menaikkan harga jual.

“Sekarang hampir semua bahan bangunan naik. Kami sebagai penjual tentu harus menyesuaikan harga dari distributor supaya tidak rugi,” ujarnya.

Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap pola belanja masyarakat. Jika sebelumnya banyak konsumen membeli material dalam jumlah besar untuk pembangunan sekaligus, kini sebagian besar memilih membeli sedikit demi sedikit.

“Pembeli sekarang lebih hati-hati. Banyak yang biasanya langsung borongan, sekarang beli seperlunya dulu karena harga material terus naik,” katanya.

 

Vivi menyebut, kenaikan harga juga membuat sejumlah pelanggan menunda pembangunan rumah. Bahkan ada yang memilih mengurangi ukuran pembangunan karena biaya yang tidak lagi sesuai dengan anggaran awal. “Banyak yang mengeluh karena biaya bangun rumah sekarang jauh lebih mahal dibanding beberapa bulan lalu. Ada juga yang akhirnya menunda pembangunan dulu,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga dirasaka Wen Putra. Pemilik toko bangunan di Jalan Ahmad Khatib ini mengatakan, kenaikan harga material hampir merata terjadi pada berbagai jenis bahan bangunan.

Menurutnya, kenaikan dipengaruhi biaya distribusi dan harga pasokan dari pabrik yang ikut meningkat. Meski penjualan masih berjalan, daya beli masyarakat mulai menurun.

“Kalau dibanding sebelumnya, sekarang pembeli lebih banyak bertanya harga dan menghitung ulang kebutuhan mereka. Banyak yang jadi membeli lebih sedikit,” ujarnya.

Ubah Rencana

Naiknya harga bahan bangunan turut dirasakan Rinaldi, warga Kompleks Alam Indah, Lubukminturun, yang saat ini tengah melakukan renovasi rumah. Ia mengaku harus mengubah rencana pembangunan karena anggaran yang disiapkan tidak lagi mencukupi.

Awalnya Rinaldi berencana melakukan pelebaran rumah sekaligus membangun lantai tingkat. Namun karena harga material terus naik, pengerjaan rumah kini dilakukan secara bertahap.

“Karena harga bahan bangunan naik, saya jadi tidak bisa langsung borongan seperti rencana awal. Sekarang mau tidak mau beli bahan sedikit demi sedikit,” katanya.

Menurut Rinaldi, kenaikan harga cukup terasa pada material utama seperti besi, baja ringan dan semen. Ia menyebut biaya renovasi kini jauh lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya.

 

“Dulu saya pikir anggaran yang ada sudah cukup untuk renovasi dan tambah tingkat rumah. Tapi setelah harga material naik, ternyata biaya jadi membengkak,” ujarnya.

Kini ia memilih membeli bahan bangunan secara perlahan sesuai kondisi keuangan. Jika memiliki uang lebih, ia akan membeli material yang dibutuhkan terlebih dahulu agar pembangunan tetap berjalan. “Sekarang kalau ada uang baru beli bahan. Kadang minggu ini beli semen, nanti bulan depan baru beli besi atau keramik. Yang penting rumah tetap bisa dibangun walaupun pelan-pelan,” tuturnya.

Kenaikan harga bahan bangunan ini diperkirakan masih akan memengaruhi aktivitas pembangunan rumah masyarakat dalam beberapa waktu ke depan. Pedagang berharap harga material kembali stabil agar daya beli masyarakat kembali normal dan pembangunan dapat berjalan lebih lancar.

Efisiensi jadi Prioritas 

Kenaikan harga BBM juga berdampak langsung terhadap sektor properti dan bisnis perumahan. Terutama pada peningkatan biaya operasional dan harga material bangunan.

Kondisi tersebut diungkapkan, Nandy Metra dari Terasena. Ia menjelaskan, kenaikan BBM secara langsung mempengaruhi biaya distribusi material, transportasi, hingga mobilisasi alat dan tenaga kerja di lapangan. Dampaknya dirasakan hampir di seluruh tahapan pembangunan perumahan.

“Biaya operasional jelas meningkat, mulai dari distribusi material, transportasi, mobilisasi alat, hingga ongkos tenaga kerja. Ini sangat terasa bagi developer,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah material utama seperti semen, besi, pasir, batu bata hingga bahan finishing juga mengalami penyesuaian harga. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya logistik dan produksi.

Menurutnya, material yang masih bergantung pada bahan baku impor cenderung lebih terdampak, sehingga ikut mendorong kenaikan biaya pembangunan secara keseluruhan.

Di sisi lain, kondisi ini menjadi tantangan bagi pengembang perumahan. Pasalnya, kenaikan biaya pembangunan tidak selalu sejalan dengan daya beli masyarakat yang saat ini juga mengalami tekanan. Untuk beberapa proyek, lanjutnya, kenaikan biaya tersebut turut berdampak pada harga jual rumah. Namun, pengembang tetap berupaya melakukan efisiensi agar harga tidak terlalu membebani konsumen.

“Sebagian proyek memang mengalami penyesuaian harga jual, tapi efisiensi tetap jadi prioritas agar tetap terjangkau,” tambahnya.

Nandy menilai, sektor properti memiliki efek domino besar terhadap perekonomian daerah, sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah. Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga material serta memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah.

Selain itu, dukungan terhadap developer juga dinilai penting, terutama melalui kebijakan yang meringankan, seperti kemudahan perizinan dan insentif perpajakan.

“Kami berharap ada kemudahan perizinan, terutama perizinan lahan yang saat ini masih banyak kendala di Sumbar, serta insentif perpajakan agar sektor ini tetap berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, dengan adanya dukungan tersebut, kebutuhan hunian masyarakat tetap dapat terpenuhi dan sektor properti di Sumatera Barat dapat tumbuh secara sehat.

Di akhir, ia mengimbau seluruh pihak dapat berkolaborasi menjaga stabilitas sektor properti di tengah tekanan ekonomi saat ini. “Kami berharap sektor properti tetap mendapat perhatian agar bisa terus tumbuh dan memenuhi kebutuhan masyarakat,” tutupnya. (cr7/yud) 

Editor : Adriyanto Syafril
#Nan Padek