Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kurban itu soal Niat bukan Ekonomi, Harga Sapi Stabil, Pembeli Menurun

Adriyanto Syafril • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:15 WIB
Pedagang dan pembeli ternak bernegosiasi harga menggunakan jari di balik kain di Pasar Ternak Sungaisariak, Kabupaten Padangpariaman, Rabu (20/5). Tradisi bernegosiasi harga di balik kain yang disebut “Marosok” itu masih diberlakukan pembeli dan penjual ternak di sejumlah daerah di Sumbar untuk menjaga kerahasiaan dari pihak lain khususnya saat penjualan meningkat sepekan menjelang Idul Adha. (FITRA YOGI/ANTARA FOTO)
Pedagang dan pembeli ternak bernegosiasi harga menggunakan jari di balik kain di Pasar Ternak Sungaisariak, Kabupaten Padangpariaman, Rabu (20/5). Tradisi bernegosiasi harga di balik kain yang disebut “Marosok” itu masih diberlakukan pembeli dan penjual ternak di sejumlah daerah di Sumbar untuk menjaga kerahasiaan dari pihak lain khususnya saat penjualan meningkat sepekan menjelang Idul Adha. (FITRA YOGI/ANTARA FOTO)

PADEK.JAWAPOS.COM - Kondisi ekonomi saat ini tampaknya cukup memengaruhi kemampuan masyarakat dalam berkurban. Sebab, terdapat beberapa masjid yang jumlah kurbannya terus mengalami penurunan. Meskipun, tidak sedikit juga masjid yang jumlah peserta kurbannya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Misalnya saja Masjid Baitul Wustha di Nagari Kototinggi, Kecamatan Anamlingkuang, Kabupaten Padangpariaman, kemarin. Jumlah peserta kurban di sana sudah memasuki sapi kelima. “Sekarang yang sudah pasti yaitu empat ekor sapi. Untuk sapi kelima, masih tersedia untuk empat orang lagi,” ujar Ridwan Dt Rajo Asa, Ketua Masjid Baitul Wustha kepada Padang Ekspres kemarin.

Ia menjelaskan, jumlah peserta kurban di masjid itu fluktuatif setiap tahunnya. Namun, ada beberapa jamaah yang rutin berkurban di sana. Bahkan ada satu keluarga yang berkurban satu ekor sapi. “Jamaah yang ini mereka di perantauan semua. Tapi tiap tahun pasti berkurban di masjid ini satu ekor,” jelas Ridwan sembari menunjukkan daftar peserta kurban di masjid itu.

Untuk harga sapi, sambungnya, tidak ada perubahan yang signifikan. Sebab, harga sapi itu ada beragam. Jadi, dapat disesuaikan dengan nilai kurban. “Tahun lalu, sapi kurban di Masjid Baitul Wustha ini sebanyak 5 ekor. Yang cukup banyak itu tiga tahun sebelumnya yaitu tujuh ekor,” ungkapnya.

Menurutnya, berkurban adalah ibadah yang pastinya semua didasarkan karena niat. Jadi, sejauh ini angka peserta kurban masih akan sama dengan tahun sebelumnya. “Sapi kelima ini pendaftaran pesertanya kita buka sampai hari Minggu (besok, red). Insya Allah bisa terpenuhi,” tukasnya.

Berbeda dengan Masjid Al-Hasyar di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang. Jumlah sapi kurbannya tahun ini yang sudah pasti baru empat ekor. “Dua tahun lalu jumlah kurban di sini enam ekor,” ungkap Panitia Kurban Masjid Al Hasyar yang akrab disapa si Nel ini

Kendati begitu, sambungnya, belum tertutup kemungkinan jumlah kurban di masjid tersebut bertambah. Sebab, pendaftaran peserta masih dibuka. “Kita di masjid ini sholat Idul Adha kemungkinan hari Jumat depan. Jadi waktu masih cukup Panjang,” ucapnya.

Jadi, Nel tidak dapat memberikan pandangan apakah  jumlah kurban tahun ini akan turun dibandingkan tahun lalu. “Soal kurban ini kita tidak bisa juga berpatokan pada kondisi ekonomi. Kadang orang yang kita pandang lemah secara ekonomi mereka malah jadi peserta kurban,” tukasnya

Terpisah, Zainidar, 65, salah seorang peserta kurban di Anamlingkuang mengatakan bahwa berkurban sudah menjadi niatannya setiap tahun. Hal itu ia lakukan sejak mendekati masa pensiunnnya sebagai ASN. “Alhamdulillah sejauh ini saya masih tetap bisa ikut kurban. Tidak ada kendala,” ujarnya.

Katanya, dalam berkurban selalu saja ada rezeki. “Rezeki itu kan tidak hanya soal ke kita. Tapi bisa lewat anak atau cucu. Jadi, berkurban itu bagi saya bukan soal mampu tapi apakah kita niat atau tidak. Kalau niat pasti tercapai,” tukasnya.

 

Hal serupa dikemukakan Baharuddin, 56, salah seorang peserta kurban di Tobohgadang. Ia mengaku sejauh ini tidak ada kendalanya dalam berkurban. Ia malah merasa rezekinya terus dilancarkan. “Semua tergantung pada niat kita,” ujar pria yang kesehariannya berdagang sembako itu.

Permintaan Menurun

Terpisah, pedagang ternak asal Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Alsri Ilmenedi mengatakan, permintaan sapi kurban tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap jumlah pembeli.

“Biasanya menjelang Idul Adha permintaan selalu meningkat, tapi tahun ini justru menurun. Banyak masyarakat yang menunda atau bahkan tidak ikut kurban karena kondisi ekonomi,” ujarnya, Jumat (22/5).

Menurut Alsri, meskipun jumlah permintaan menurun, harga sapi tidak mengalami perubahan begitu jauh. Hal ini dilakukan agar tetap menjaga stabilitas pasar dan tidak memberatkan masyarakat.

Dijelaskan Alsri, harga sapi kurban masih berada pada kisaran Rp 12 juta hingga Rp 21 juta, tergantung ukuran dan kualitasnya. Jenis sapi yang diminati tetap didominasi sapi lokal dan sapi bali.

Pedagang lainnya di Kecamatan Lengayang, Jemi Ramadhan mengungkapkan hal serupa. “Biasanya banyak pesanan dari luar daerah seperti Padang dan Bukittinggi, tapi sekarang berkurang. Masyarakat lebih berhati-hati dalam pengeluaran,” katanya. Jemi menambahkan, kenaikan harga berbagai kebutuhan, termasuk biaya transportasi dan pakan ternak, turut berdampak pada aktivitas perdagangan sapi.

Khasmadi, 67, warga Nagari Kambang Timur, salah seorang peserta kurban, menyebutkan bahwa kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang harus mempertimbangkan kembali niat berkurban. “Kalau dulu banyak yang langsung ikut, sekarang harus dihitung betul. Penghasilan tidak menentu, sementara kebutuhan lain meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun kondisi sulit, semangat untuk berkurban tetap ada, meski jumlah peserta dalam satu kelompok tidak sebanyak sebelumnya. 
Di Masjid Raya Painan, Don Chandra, selaku pengurus kurban mengungkapkan bahwa jumlah hewan kurban tahun ini mengalami penurunan sekitar 20 persen dibanding tahun 2025. “Tahun lalu ada delapan ekor sapi, sekarang baru enam, dan kemungkinan bertambah menjadi tujuh ekor,” jelasnya.

 

Penurunan ini, katanya, karena melemahnya kondisi ekonomi masyarakat secara umum. Meski demikian, biaya kurban per orang masih tetap sama yakni Rp 2,5 juta per orang dalam satu kelompok yang terdiri dari tujuh orang.

“Untuk satu ekor sapi, totalnya sekitar Rp 15 juta. Harga ini masih sama seperti tahun lalu,” tambahnya.

Hal serupa juga terjadi di Masjid Nurul Hikmah, Ganting, Nagari Kambang Timur. “Tahun lalu ada 12 ekor, sekarang baru sembilan ekor. Masih ada kemungkinan bertambah, tapi tidak akan sebanyak tahun lalu,” ujar panitia kurban Rahman Darmawan.

Terpaksa Selektif

Tekanan ekonomi yang terjadi saat ini, sebut Ketua Masjid Al Muttaqin, Kelurahan Tanjungpauh, Kota Payakumbuh, Erizaldi, membuat sebagian masyarakat harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Hal itu turut berdampak terhadap kemampuan sebagian warga untuk mengikuti kurban.

Hal tersebut ia dapati di masjid yang ia pimpin. Jika pada pelaksanaan kurban sebelumnya terdapat 16 ekor sapi. Namun tahun ini berkurang menjadi 13 ekor.
Meski mengalami penurunan jumlah sapi kurban, pelaksanaan ibadah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Panitia juga tetap berupaya memberikan kemudahan kepada peserta dengan biaya yang disesuaikan.

“Untuk biaya kurban tahun ini setiap peserta dikenakan Rp 2,6 juta per orang untuk keseluruhan biaya,” katanya.

Ia menyampaikan, meskipun kondisi ekonomi sedang tidak mudah, masyarakat yang telah berniat berkurban tetap berusaha menyisihkan sebagian rezekinya agar dapat ikut ambil bagian dalam ibadah tahunan tersebut.

Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Masjid Darul Hikmah Tanjungpauh, Harahap mengatakan, pelaksanaan kurban di masjidnya tahun ini tidak mengalami perubahan dibanding tahun sebelumnya. Jumlah hewan kurban masih tetap sama, yakni 15 ekor sapi tanpa kambing.

 

Menurut Harahap, meskipun kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan, masyarakat di lingkungan masjid tersebut masih menunjukkan antusiasme yang cukup baik untuk mengikuti kurban.

“Biaya per orang juga tetap sama, Rp 2,6 juta. Alhamdulillah masyarakat masih tetap semangat untuk ikut berkurban,” ujarnya.

Ia menilai keberlangsungan jumlah kurban yang tetap stabil tahun ini menunjukkan masih adanya kepedulian sosial masyarakat di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (apg/yon/cr7)

Editor : Adriyanto Syafril
#hari raya idul adha #Nan Padek