Penulis : Heru Joni Putra - Sastrawan
Kita benar-benar tidak habis pikir dengan lidah bercabang para elit negara ini yang menjulur ke sana ke mari dalam beberapa waktu belakangan. Bila tata kelola negara ini ibarat ikan, sudah busuk mulai dari kepala hingga ekornya. Ditutupi terus dengan pengharum udara, bau busuknya tetap pekat.
Kita terhenyak berkali-kali mendengar para pejabat publik bahkan tokoh masyarakat berkomentar asal-asalan, sewenang-wenang, dan menyepelekan persoalan. Tanggapan mereka terhadap protes masyarakat, kepelikan sosial, bahkan bencana alam sekalipun, tidak menunjukkan tanggung jawab etis sebagai pejabat, malah cenderung menyudutkan, menyalahkan, bahkan meremehkan masyarakat.
Mendiang Prof Ahmad Syafii Maarif (1935-2022), yang kita kenal dengan Buya Syafii, selalu menggunakan metafora dengan sangat jitu dalam tulisan-tulisan kritiknya yang sangat keras itu, baik yang ia pinjam dari metafora Minangkabau atau yang dibuatnya sendiri sesuai konteks peristiwa yang dibahas. Sialnya, banyak dari metafora itu yang masih relevan dengan situasi kita akhir-akhir ini.
“Pecah kongsi antara kata dan perbuatan” adalah metafora yang pernah dituliskan Buya Syafii di salah satu tulisannya. Kalau kita lihat penampilan pejabat publik kita lebih-kurang dalam setahun belakangan, betapa sangat relevan metafora itu dengan hasil kerja mereka, bahkan mungkin lebih relevan saat ini dibandingkan saat Buya Syafii menuliskannya.
Lihatlah, setiap kali elit negara ini begitu berbusa-busa berkata, bahkan dengan gaya sangat heroik, bahwa mereka telah bekerja untuk rakyat, maka tak lama kemudian kita saksikan sendiri yang mereka lakukan malah membutakan mata dan menulikan telinga dari kebingungan dan kesengsaraan rakyat, di tengah situasi ekonomi yang makin tidak stabil ini. Semakin sering mereka melafalkan frasa ’untuk rakyat’ maka semakin berlipat-ganda mereka menzalimi rakyat.
Ketika lutut kita makin perih karena menunggu berjuta-juta lapangan kerja, jumlah pekerja yang di-PHK semakin banyak. Ketika betis kita kram karena menunggu gaji guru dinaikkan, tidak sedikit guru PPPK yang diberhentikan. Ketika pinggang kita terpelituk karena menunggu koruptor ditangkap di Antartika, semakin banyak saja program pemerintah dijalankan tanpa dasar hukum yang jelas, tata kelola yang efektif, penangan resiko yang cepat-tanggap, dan penggunaan anggaran yang tepat-guna. Kalau disebut semua, terkapar kita dibuatnya.
Dalam tulisan lain, Buya Syafii pernah juga menuliskan metafora “perbudakan spiritual”. Lagi-lagi, terlalu banyak kejadian akhir-akhir ini yang membuat metafora ini menyala kembali, salah satunya dalam kasus korupsi dana haji. Perbudakan spiritual terjadi ketika tak sedikit pendukung si mantan pejabat meyakini idola mereka tidak korupsi dengan alasan bahwa dia anak seorang kiyai dan sungguh mustahil korupsi.
Kita boleh saja mencintai alim ulama yang memang diibaratkan sebagai penerus nabi, tapi menjadikan keulamaan seseorang sebagai dalih untuk menyangkal korupsi anaknya, bahkan menjadi pegangan bagi para santri untuk ikut-serta membenarkan penyangkalan tersebut, jelas sebuah perbudakan yang dijalankan dengan kemasan spiritual.
Kekerasan seksual yang dilakukan kiyai di sejumlah pondok pesantren juga menjadi contoh dari perbudakan spiritual saat ini. Ada santri di sebuah pondok pesantren yang kini sudah hamil. Bahkan di pondok lainnya ada santri korban kiyainya yang sudah melahirkan. Ada lagi di pesantren lain yang jumlah korban kekerasan seksual mencapai 50 orang. Kasihan sekali kita melihat perempuan-perempuan muda yang diperbudak secara seksual menggunakan relasi kuasa yang tak pernah seimbang antara kiyai dan santrinya.
Metafora lain yang tak kalah relevan adalah “kotak pengap perpolitikan”. Sungguh kita sudah sangat pengap, bikin susah bernafas dan ingin segera keluar dari situasi sekarang. Perpolitikan kita, melalui partai politik atau wakil-wakilnya di lembaga perwakilan, tidak menunjukkan alternatif yang bisa dipegang oleh rakyat untuk menyelamatkan hidup mereka saat ini.
Kebanyakan dari mereka lebih takut kehilangan kekuasaan maupun kedudukan daripada menghadapi semua risiko dalam mewujudkan apa yang mereka katakan di hadapan kamera. Tampaknya, bagi mereka, membuat program yang benar-benar berpihak pada rakyat lebih banyak ruginya. Mereka jauh lebih senang ketika rakyat bisa dibodoh-bodohi dan dijadikan massa yang bisa dikendalikan, daripada memperjuangkan mati-matian pendidikan dan kesehatan gratis untuk semua.
Apa akal kita lagi? Pengap sepengap-pengapnya kita sekarang. Begini benar rasanya terkurung dalam kotak yang disesaki bau busuk bangkai ikan bercampur parfum oplosan cap merah-putih.
Besar harapan kita, semoga sekian banyak metafora yang pernah beliau tuliskan itu tidak lagi relevan di zaman ini. Semakin tidak relevan metafora-metafora itu maka pertanda semakin baik hidup kita di negeri ini. Sebaliknya, semakin relevan apa yang beliau tulis maka pertanda semakin gelap dan darurat Indonesia raya ini.
Kita kenang Buya Syafii kali ini sebagai seorang intelektual yang mendayagunakan bahasa Indonesia dengan sangat baik untuk menyingkap kekencongan moral bangsa. Hari ini bahasa Indonesia sedang banyak-banyaknya dipakai dalam caption, teks pidato, siaran pers, status media sosial, maupun template buzzer untuk berbicara tentang keberhasilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan tak terhingga bagi seluruh rakyat Indonesia. Mohon arahannya, Kanda! (*)
Editor : Adriyanto Syafril