Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rinuak Langka, UMKM Maninjau Nelangsa

Putra Susanto • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:05 WIB
Pelaku UMKM Rakik Rinuak Uni Susi, Susilawati, mengemas produk olahan khas Danau Maninjau di rumah produksinya di Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, beberapa waktu lalu. Sejak kelangkaan rinuak pascabencana akhir 2025, produksi rakik rinuak terhenti akibat sulitnya memperoleh bahan baku ikan endemik Danau Maninjau tersebut. (SUSILAWATI UNTUK PADEK)
Pelaku UMKM Rakik Rinuak Uni Susi, Susilawati, mengemas produk olahan khas Danau Maninjau di rumah produksinya di Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, beberapa waktu lalu. Sejak kelangkaan rinuak pascabencana akhir 2025, produksi rakik rinuak terhenti akibat sulitnya memperoleh bahan baku ikan endemik Danau Maninjau tersebut. (SUSILAWATI UNTUK PADEK)

Langkanya ikan rinuak pascabencana yang melanda Danau Maninjau pada akhir November 2025 tak hanya menjadi alarm bagi ekosistem danau, tetapi juga memukul pelaku usaha yang selama ini menggantungkan hidup dari ikan endemik tersebut. Sejumlah UMKM olahan rinuak di Kabupaten Agam kini terpaksa menghentikan produksi karena bahan baku nyaris tak lagi tersedia.

Laporan : Putra Susanto

Di Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Susilawati hanya bisa memandangi rumah produksi Rakik Rinuak Uni Susi yang kini sepi aktivitas. Sejak bencana yang memicu kematian ikan secara massal di Danau Maninjau, usaha yang selama bertahun-ta­hun menjadi sumber penghasilannya praktis berhenti beroperasi.

Menurut Susi, fenomena naik­nya tubo belerang ke permukaan danau saat bencana menjadi pu­kulan telak bagi kehidupan biota perairan. Tiga hari setelah kejadian, rinuak bahkan terlihat berlimpah di tepian danau dalam kondisi tak lazim.

“Kalau rinuak sudah banjir di tepi danau seperti itu, biasanya menjadi pertanda ikan ini akan menghilang dalam waktu lama,” ujarnya kepada Padek.

Perkiraan itu terbukti. Sejak bencana, pasokan rinuak terus menurun hingga kini sulit ditemukan. Padahal, ikan mungil endemik Danau Maninjau tersebut merupakan bahan utama berbagai kuliner khas yang selama ini menjadi daya tarik wisata kawasan danau.

Rinuak biasa diolah menjadi palai, rakik, peyek, bakwan hingga dendeng. Produk-produk itu banyak dijual di sepanjang jalan ling­kar Danau Maninjau dan menjadi salah satu oleh-oleh favorit wi­satawan.

“Usaha rakik rinuak saya sudah berhenti sejak bencana. Sekarang yang masih dijual hanya produk lain seperti peyek ikan dan kacang tojin,” katanya.

Sebelum bencana, rumah pro­duksi miliknya mampu memasarkan rakik rinuak hingga Kota Pa­dang, Bukittinggi, sejumlah pro­vinsi tetangga bahkan Pulau Jawa. Dalam kondisi normal, satu kilogram rinuak segar yang saat itu dihargai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram dapat diolah menjadi 12 bungkus rakik ukuran 100 gram yang dijual Rp15 ribu per bungkus.

Susi mengaku sempat memiliki stok rinuak beku untuk beberapa hari produksi. Namun saat bencana terjadi, aliran listrik padam cukup lama sehingga seluruh persediaan di dalam lemari pendingin rusak dan terpaksa dibuang.

Kini tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Bibit rinuak sudah kembali muncul di perairan Danau Maninjau. Di pasar-pasar tradisional salingka danau, pedagang juga mulai menjual rinuak meski dalam jumlah terbatas.

Meski begitu, sebagian besar nelayan memilih menahan diri untuk tidak menangkapnya demi memberi kesempatan populasi rinuak berkembang kembali.

Langkanya pasokan membuat harga rinuak melonjak tajam. Di tingkat nelayan mencapai Rp 80 ribu per kilogram, sementara di pasaran menembus Rp 100 ribu per kilogram.

“Kami tidak ingin menaikkan harga produk. Kalau bahan bakunya sudah Rp 100 ribu per kilogram, harga rakik tentu harus naik. Karena itu saya memilih berhenti produksi dulu,” ujarnya.

Selain mengelola UMKM, Susi kini lebih banyak berkegiatan bersama kelompok UMKM Ummi Berkarya di Sungaibatang yang memproduksi berbagai makanan ringan seperti bawang goreng dan kacang tojin. Waktunya juga banyak tersita untuk mengurus pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tak hanya Susi, kondisi serupa juga dialami Nasrianto, pelaku usaha rakik di Lubukbasung. Sejak kelangkaan rinuak terjadi, usaha industri rumah tangganya tak lagi memproduksi rakik rinuak dan hanya menyisakan rakik maco, kacang serta udang.

Menurut dia, hilangnya rinuak berdampak langsung terhadap penjualan. Sebab, rakik rinuak memiliki pasar tersendiri dan menjadi produk yang paling banyak dicari pelanggan.

“Kalau rakik maco atau kacang sudah banyak yang membuat. Yang dicari orang justru rakik rinuak karena khas Danau Maninjau,” katanya.

Tak hanya rinuak, dua komoditas endemik Danau Maninjau lainnya, yakni bada dan pensi, juga mengalami kelangkaan sehingga harganya ikut melonjak.

Susi mengaku selama ini bantuan pemerintah yang diterima baru sebatas pelatihan, pendampingan pemasaran dan bantuan peralatan produksi. Ia berharap ada dukungan permodalan bagi UMKM yang terdampak agar bisa bertahan hingga pasokan rinuak kembali normal.

“Kalau pelatihan sudah ada. Harapannya ke depan ada juga bantuan modal untuk pelaku usaha yang terdampak seperti se­karang,” tuturnya.

Perkuat Daya Tahan

Di tengah keterbatasan bahan baku tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam juga terus berupaya memperkuat daya tahan pelaku usaha melalui berbagai program pembinaan dan peningkatan kapasitas usaha. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Agam, Endrimelson, mengatakan saat ini terdapat le­bih dari 22.400 UMKM di Kabupa­ten Agam yang bergerak di berbagai sektor usaha.

Menurutnya, program pemerintah daerah saat ini lebih diarahkan pada peningkatan kualitas produk dan kompetensi pelaku usaha agar mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan bahan baku yang dialami pelaku usaha olahan rinuak.

“Yang kita dorong bagaimana pelaku usaha terus kreatif menghadapi berbagai keterbatasan. Me­reka harus mampu beradaptasi, meningkatkan kualitas produk dan memanfaatkan peluang pasar ya­ng ada,” katanya.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pelaku UMKM memperluas pemasaran melalui platform digital, meningkatkan kualitas produk dan melakukan inovasi usaha agar mampu bertahan di tengah perubahan kondisi pasar.

Dalam beberapa tahun terak­hir, pihaknya menerapkan stra­tegi “kejar bola” dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari BUMN, perusahaan swasta, perguruan tinggi hingga memanfaatkan dana pokok pikiran (po­kir) legislatif.

“Dalam beberapa tahun terakhir memang terjadi efisiensi anggaran, sehingga ruang gerak pemerintah menjadi terbatas. Karena itu kami aktif mencari peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung UMKM,” ujarnya.

Endrimelson mengungkapkan, sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat juga cukup aktif melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha olahan rinuak di kawasan Maninjau. Pemerintah daerah mendukung berbagai program tersebut melalui kebijakan dan fasilitasi yang diperlukan.

Meski belum mampu menyediakan bantuan permodalan secara langsung, pihaknya memastikan terus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan akses bantuan dari berbagai sumber.

“Kalau ada program bantuan dari pihak mana pun, tentu akan kami perjuangkan untuk UMKM Agam,” tegasnya. (***)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#UMKM Rakik Rinuak #produk olahan khas Danau Maninjau #umkm