Kekhawatiran ilmuwan muncul karena gempa besar tersebut dipicu oleh salah satu segmen di Megathrust Nankai, yang memiliki palung bawah laut sepanjang 800 kilometer.
Palung Nankai membentang dari Shizuoka di sebelah barat Tokyo hingga ujung selatan Pulau Kyushu.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi di zona Megathrust Nankai, dengan mekanisme naik (thrust fault).
Meskipun berpotensi menimbulkan kerusakan di Jepang, gempa ini dipastikan tidak berpotensi memicu tsunami di wilayah Indonesia.
Lebih lanjut dijelaskannya, zona Megathrust Nankai terletak di bagian timur Pulau Kyushu, Shikoku, dan Kinki di Jepang Selatan.
Wilayah ini merupakan salah satu zona "seismic gap", yaitu sumber gempa potensial yang belum mengalami gempa besar dalam beberapa puluh hingga ratusan tahun terakhir.
Saat ini, zona tersebut diduga sedang mengalami proses akumulasi medan tegangan, yang berpotensi memicu gempa besar di masa mendatang.
Sejarah menunjukkan bahwa Megathrust Nankai telah membangkitkan beberapa gempa dahsyat, di antaranya:
1. Gempa Hakuho – 684
2. Gempa Ninna – 887
3. Gempa Kōwa – 1099
4. Gempa Shohei M8,4 – 1361
5. Gempa Keicho M7,9 dan tsunami – 1605
6. Gempa Hoei M8,7 – 1707
7. Gempa Ansei M8,4 – 1854
8. Gempa Nankaido M8,4 – 1946.
Sebagian besar gempa dahsyat di zona Megathrust Nankai memicu tsunami.
"Berdasarkan sejarah gempa, zona ini memiliki potensi untuk memicu gempa dahsyat dengan magnitudo M8,0 atau lebih setiap satu atau dua abad," kata Daryono dikutip dari media sosial X-nya.
Jika seluruh tepian patahan megathrust ini tergelincir sekaligus, para ilmuwan Jepang meyakini potensi gempa dahsyat dengan magnitudo hingga M9,1 dapat terjadi, yang kemungkinan besar akan memicu tsunami.
Dampak terhadap Indonesia?
Meskipun ada kekhawatiran akan terjadinya gempa besar di Megathrust Nankai, Daryono memastikan bahwa gempa di zona tersebut tidak akan berdampak terhadap sistem lempeng tektonik di Indonesia.
Hal ini dikarenakan jarak yang jauh antara Jepang dan Indonesia serta dinamika tektonik yang bersifat lokal hingga regional di zona subduksi Nankai.
Menurut Daryono, kekhawatiran yang dirasakan oleh para ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai sejalan dengan kekhawatiran ilmuwan Indonesia, khususnya terhadap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Kedua zona megathrust ini juga termasuk dalam kategori "seismic gap" yang belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun.
Rilis gempa di dua segmen ini boleh dikata “tinggal menunggu waktu” karena sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar,.
“"Tinggal menunggu waktu" bukan berarti segera akan terjadi dalam waktu dekat. Karena kejadian gempa memang belum dapat diprediksi. Sehingga kami (BMKG) pun tidak tahu kapan akan terjadi. Kami katakan “menunggu waktu “ hal itu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release (tinggal segmen tersebut yang belum lepas)," ungkap Daryono.
Namun, Daryono menekankan bahwa ini bukan peringatan (warning) untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk mengingatkan akan potensi gempa di masa mendatang.
"Potensi gempa di zona Megathrust bukan hal baru. Apa yang saya sampaikan bukan pernyataan "warning". (Tapi) hanya mengingatkan potensi," imbuhnya.
Megathrust Nankai terakhir kali memicu gempa besar dengan magnitudo M8,4 tahun 1946, atau 78 tahun yang lalu.
Kondisi ini telah menimbulkan kekhawatiran dan kesiapsiagaan yang tinggi di kalangan ilmuwan, pejabat, dan publik Jepang.
Sementara itu, zona "seismic gap" di Selat Sunda sudah berusia 267 tahun, dan di Mentawai-Siberut sudah berusia 227 tahun. Segmen-segmen lain di sekitarnya sudah mengalami pelepasan tegangan. Hal ini membuat kewaspadaan menjadi sangat penting. "Tugas saya mengingatkan kewaspadaan," tegasnya.
Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia
Pemerintah melalui Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) didukung para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga/kementerian termasuk BMKG, telah menerbitkan buku "Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017" sebagai salah satu upaya dan langkah mitigasi gempabumi di Indonesia.
Dilansir dari laman BMKG, peta tersebut pedoman untuk mendesain konstruksi bangunan di daerah rawan gempabumi, dengan mempertimbangkan percepatan tanah akibat perambatan gelombang gempa.
Peta tersebut diterbitkan bersama buku dengan judul yang sama.
Di dalam buku tersebut diinformasikan bahwa berdasarkan hasil kajian para pakar gempabumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut masih terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.
Selanjutnya, menurut analisis para pakar gempabumi, gerakan penunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan/magnitudo maksimum yang diperkirakan dapat mencapai M 8,7.
Meski para ahli mampu menghitung perkiraan Magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, akan tetapi teknologi saat ini belum mampu memprediksi dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust tersebut.
BMKG pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust M8,7 akan benar-benar terjadi, kapan, dimana, dan berapa kekuatannya?
Maka dalam ketidakpastian tersebut, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah konkret yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi. Khususnya dengan cara menyiapkan kesiapan masyarakat maupun inftrastrukturnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto