Sebaliknya, Megathrust merujuk pada jenis sumber gempa, yakni tempat di mana gempa terjadi.
Menurut penjelasannya, Megathrust adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sumber gempa di zona tumbukan lempeng, yaitu di bidang kontak antara dua lempeng tektonik.
"Megathrust itu sebutan untuk jenis sumber gempa, tempat di mana gempa terjadi. Jadi Megathrust itu sumber gempa di zona tumbukan lempeng, bidang kontak antar 2 lempeng. Contoh bidang kontak antara Lempeng IndoAustralia dan Lempeng Eurasia," jelas Daryono di akun media sosial X-nya.
Sebelum istilah "Megathrust" populer digunakan, pihaknya lebih sering menyebutnya sebagai "sumber gempa subduksi lempeng". "Beberapa ahli lebih menyukai sebutan ini," ungkapnya.
Lebih lanjut disampaikannya, di zona Megathrust, gempa dengan magnitudo kecil, seperti M3,0, M4,0, dan M5,0, paling sering terjadi.
Meski demikian, zona Megathrust memiliki potensi untuk mengakumulasi energi gempa yang sangat besar, hingga mencapai magnitudo M7,8 atau lebih.
Daryono mencontohkan peristiwa gempa besar seperti Tsunami Banyuwangi tahun 1994 dengan magnitudo M7,8, Tsunami Pangandaran tahun 2006 dengan magnitudo M7,7, serta gempa besar lainnya di Bengkulu tahun 2007 (M8,4), gempa Nias tahun 2005 (M8,5), hingga gempa yang lebih besar di Bengkulu tahun 1883 (M9,0) dan gempa Aceh tahun 2004 (M9,2).
Zona Megathrust di Busur Sunda yang meliputi wilayah Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki sejarah panjang gempa-gempa besar yang sering kali memicu tsunami.
Daryono juga mengingatkan tentang gempa intra-slab yang terjadi di Padang pada 30 September 2009 dengan magnitudo Mw7,6.
Gempa-gempa intra-slab seperti ini berhubungan dengan aktivitas gempa di zona Megathrust. Sebagaimana terlihat pada gempa Megathrust besar lainnya, seperti gempa Tohoku di Jepang tahun 2011 (Mw9,0), gempa Maule di Chile tahun 2010 (Mw8,8), dan gempa Iquique di Chile tahun 2014 (Mw8,2).
"Gempa Megathrust Tohoku Mw9,0 2011, Maule Chile 2010 Mw8,8, dan Iquique Chile Mw8,2 2014 diawali aktivitas gempa intraslab," katanya.
Daryono juga menyampaikan soal rentetan gempa di wilayah Banten dan Selat Sunda, yang bukan terjadi di zona Megathrust, melainkan di zona intra-slab.
Meski demikian, ada keterkaitan mekanis antara gempa-gempa di zona intra-slab ini dengan gempa subduksi yang berada di atasnya.(*)
Editor : Heri Sugiarto