Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Taufiq Ismail Peroleh Anugerah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara

Novitri Selvia • Senin, 7 Oktober 2024 | 10:09 WIB

Taufiq Ismail. (JPG)
Taufiq Ismail. (JPG)

PADEK.JAWAPOS.COM-Karya-karya Sastrawan Taufiq Ismail kembali mendapat pengakuan dunia. Baru-baru ini, ia memperoleh Anugerah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2024.

Anugerah Sastra Mastera ini merupakan anugerah bergengsi tingkat tinggi yang diberikan oleh Brunei Darussalam kepada kepada tokoh sastra atau sastrawan yang berasal dari negara Anggota Mastera. Yakni, Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Pemberian anugerah tersebut berdasarkan persetujuan yang diberikan oleh Kerajaan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam.

Anugerah Sastra Mastera diberikan pertama kali oleh Mastera Brunei Darussalam kepada sastrawan Indonesia pada 9 Mei 2003 lalu. Sastrawan Ajip Rosidi jadi yang pertama mendapat anugerah tersebut.

Selanjutnya, pada 13 Maret 2006, anugerah ini diberikan kepada penyair kontemporer Sutardji Calzoum Bachri. Berlanjut, pada 21 September 2008, penghargaan Master aini diberikan kepada Willibrordus Surendra Broto (WS Rendra).

Kemudian, pada Anugerah Sastra Mastera ke-4, pada 18 September 2011, penghargaan ini dipersembahkan kepada sastrawan dan kritikus sastra Budi Darma.

Tiga tahun berikutnya, pada 18 September 2014, sastrawan Sapardi Djoko Damono dianugerahi penghargaan yang sama, dan pada 14 September 2018, anugerah ini diberikan kepada penyair dan esais Goenawan Susatyo Mohamad (GM).

Pengiran Haji Mohd Hasnan bin Pengiran Haji Ali Hassan, Setiausaha Tetap (Kebudayaan) Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Selaku Pengerusi Jawatankuasa Panel Penilai Pusat Anugerah Sastera ke-7 Mastera menjelaskan, proses pemilihan calon pemenang Anugerah Sastra Mastera ini dilakukan melalui berbagai tahapan di tiap negara anggota Mastera.

Mulai dari pemilihan calon penerima anugerah hingga proses penjurian oleh dewan juri di tiap negara. Biasanya, sekretariat Mastera masing-masing negara anggota menyiapkan panel forum hasil penjurian, dilengkapi dengan biodata calon pemenang.

Selanjutnya, berita acara yang ditandatangani oleh dewan juri dan pimpinan dari Mastera di masing-masing negara anggota diserahkan kepada Mastera Brunei Darussalam untuk dinilai, diputuskan, dan disahkan.

“Hadiah dianugerahkan oleh Kerajaan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam serta para penaja,” ujarnya dalam keterangan resmi Kemendikbudristek, kemarin (6/10).

Diharapkan, kata dia, dengan adanya penghargaan ini dapat membuka langkah dan sikap kepedulian serta keprihatinan bersama dalam memajukan kesusastraan baik ditingkat nasional, regional maupun antarabangsa.

Hingga saat ini, sebanyak 20 orang tokoh sastrawan di peringkat rantau (wilayah) Mastera, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura yang telah menerima pengakuan Anugerah Sastera Mastera.

Terdapat enam kriteria pemilihan tokoh yang ditetapkan untuk mengukur pencapaian, perkembangan, sumbangan luar biasa, penulisan karya berkualitas tinggi, serta keterlibatan dan keaktifan dalam mengembangkan kemajuan sastra di dalam dan luar negeri.

Salah satunya, soal keaktifan dalam menghasilkan karya hingga pembinaan dalam pengembangan sastra. Taufiq Ismail dalam sambutan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Mastera Indonesia Hafidz Muksin mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Ia menyampaikan, penghargaan ini merupakan sebuah kehormatan besar baginya. “Dan ini sungguh mengharukan bagi saya. Saya merasa bersyukur telah hampir menghabiskan seluruh usia untuk puisi dan bahasa,” ungkapnya.

Baginya, lewat puisi dan bahasa, ia bersama sahabat-sahabat seangkatannya yang kini sudah paripurna menunaikan kewajiban-kewajiban seorang insan, akan senantiasa berjuang untuk kebebasan dan keadilan. “Puisi adalah hati nurani. Puisi adalah cinta semesta yang menyala di dada,” sambungnya.

Taufiq pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam melalui Mastera Brunei Darussalam yang menyelenggarakan Anugerah Sastrawan ke-7 ini. Dia berharap, anugerah Mastera yang diberikan padanya ini dapat menjadi inspirasi bagi para sastrawan di generasi berikutnya.

“Melalui agenda Mastera yang berlangsung rutin, saya optimis aktivitas kesusastraan di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia akan semakin semarak dan terus melahirkan penulis dengan karya-karyanya yang menggugah,” tutupnya.

Selain Taufiq Ismail, ada pula Pehin Udana Khatib Dato Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang Badaruddin bin Pengarah Dato Paduka Haji Awang Othman (Badaruddin H.O.) dari Brunei Darussalam, Dato’ Seri (Dr.) Abdul Samad bin Mohamed Said (A.Samad Said) dari Malaysia, dan Encik Djamal Tukimin (Djamal Tukimin) dari Singapura yang berhasil mendapatkan anugerah tersebut pada awal Oktober 2024 ini. (mia/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#sutardji calzoum bachri #taufiq ismail #MASTERA #anugerah sastra #asia tenggara #ws rendra