Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

100 Tahun AA Navis Diperingati Oleh Dunia: Semua Bermula dari Membaca, Memahami dan Menulis

Hendra Efison • Sabtu, 23 November 2024 | 17:29 WIB

AA Navis (Foto Sonialis/Padeks)
AA Navis (Foto Sonialis/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM -- AA Navis itu pembaca. Setiap pagi ia melahap beragam bacaan termasuk koran. Apa yang dibaca pagi itu, bersama AA Navis juga ada kertas, pena, dan spidol selalu standby di mejanya.

"Papi (AA Navis) membaca apa saja, ekonomi, pendidikan, membaca tokoh, lalu ditandai dengan spidolnya. Kami disuruh mengkliping (koran) semua yang sudah ditandai. Papi membacanya lagi, jadi tidak sekali tapi berulang," ungkap Gemala Ranti, putri atau anak ke-4 AA Navis, usai diskusi sastra "Bara Satire Navis" di Taman Budaya Sumbar, Sabtu (23/11/2024).

Ya, hari ini Pemprov Sumbar via Dinas Kebudayaan Sumbar memperingati hari lahir AA Navis 17 November yang ke-100 tahun. Semua kegiatannya berlangsung di Taman Budaya Sumbar, Jl Samudera Kota Padang hingga 30 November 2024.

"Papi itu bukan sekadar membaca yang tersurat, tapi berupaya memahaminya apa yang tersirat. Jadi dari membaca itulah, Papi mulai menulis (dengan mesin ketik), berkarya dengan tenang, kenang Gemala Ranti saat kecilnya yang ketika itu mereka masih ber-5.

Gemala Ranti, Putri AA Navis. (Sonialis/Padeks)
Gemala Ranti, Putri AA Navis. (Sonialis/Padeks)

Kegiatan bertajuk Temu Sastra 100 Tahun ÀA Navis itu diisi diskusi sastra karya AA Navis, Pameran senirupa, dan arsip AA Navis, Penampilan seni, musikalisasi puisi, deklamasi puisi, peluncuran antologi cerpen "Tentang Harimau Suamiku". Antologi ini merupakan hasil lomba cerpen yang dipilih oleh dewan juri; Ivan Adilla, Raudal Tanjung Banua dan Yetty AKA, dari 173 cerpen yang diterima panitia.

Ali Akbar Navis (17 November 1924 – 22 Maret 2003; dikenal dengan nama A.A. Navis) adalah seorang sastrawan, kritikus budaya, dan politikus Indonesia asal Padangpanjang, Sumatera Barat. Ia terkenal karena cerita pendek (cerpen) Robohnya Surau Kami, tahun 1956.

Hasanuddin WS menyebut meski menulis cerpen, karya-karya cerpen AA Navis, cenderung panjang, karena diperkuat dengan penokohan. "Jadi karya-karya AA Navis kuat pada alur dan karakter tokoh sebagaimana karya novel," ungkap Hasanuddin dalam diskusi itu.

Cerpen AA Navis memang banyak, dan dikumpulkan dalam 5 buku antologi yakni; Robohnya Surau Kami, Hujan Panas dan Kabut Musim, Jodoh, Kabut Negeri si Dali, dan Bertanya Kerbau pada Pedati.

Karya novelnya antara lain, Kemarau, Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi, dan Gerhana. Sementara buku puisinya ada satu yakni, Dermaga Lima Sekoci.

Baca Juga: Menteri Kebudayaan RI Resmikan Museum Sastra Indonesia di Aia Angek Tanahdatar

"Selain itu AA Navis juga menulis buku Alam Terkembang Jadi Guru, yang menjelaskan banyak aspek kebudayaan Minangkabau," ujar Ivan Adilla, dalam diskusi hingga siang.

Cerita-cerita AA Navis memang hanya tentang manusia biasa yang ia lihat di sekelilingnya. Apa yang diserapnya itu melihatkan sikap kepeduliannya terhadap kemanusiaan. "Kisah dalam antologi Hujan Panas dan Kabut Musim, misalnya, dipenuhi nasib orang-orang kecil di hadapan kekuasaan," ungkap Ivan.

Seperti diketahui, pada penutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO tanggal 22 November 2023 yang berlangsung di Paris, Prancis, Direktur Jenderal UNESCO mengumumkan bahwa hari lahir dua tokoh kenamaan Indonesia ditetapkan sebagai hari perayaan tingkat internasional di UNESCO.

Kedua tokoh tersebut adalah sastrawan termasyhur AA Navis, dan pejuang wanita asal Aceh, Keumalahayati. Penetapan ini berlangsung di sesi sidang Plenary Report dari rangkaian Sidang Umum UNESCO ke-42. Sebelumnya, pengusulan penetapan peringatan 100 tahun kelahiran Ali Akbar Navis (1924-2024) mendapat dukungan dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand, dan Togo.

Dua tokoh ternama dari Indonesia ini sekaligus mengukuhkan prestasi Indonesia dalam UNESCO selama periode Sidang Umum UNESCO ke-42 di tahun 2023 ini, di mana Indonesia berhasil terpilih sebagai anggota Dewan Eksekutif UNESCO, menjadi anggota Dewan International Programme for the Development of Communication (IPDC), Meresmikan Indonesian Corner di markas besar UNESCO, serta penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sidang umum UNESCO. (hsn)

Editor : Hendra Efison
#menulis #unesco #membaca #memahami #ivan adilla #AA Navis #100 Tahun AA Navis #Gemala Ranti