Menurut KHGT Muhammadiyah, 1 Ramadan 1446 H akan dimulai pada Sabtu 1 Maret 2025. Selanjutnya, 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Minggu 30 Maret 2025. Sedangkan Idul Adha atau 10 Zulhijah ditetapkan pada Jumat 6 Juni 2025.
Namun, prediksi yang berbeda disampaikan oleh Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin. Dalam keterangannya, Selasa (7/1/2025), Thomas menyebut bahwa berdasarkan perhitungan hisab, 1 Ramadan 1446 H berpotensi jatuh pada Minggu 2 Maret 2025.
Untuk penetapan 1 Syawal 1446 H, Thomas memperkirakan pemerintah melalui sidang isbat akan menetapkan jatuh pada Senin 31 Maret 2025. Sementara itu, 1 Zulhijah 1446 H diprediksi akan ditetapkan pada Kamis 29 Mei 2025, sehingga Idul Adha versi pemerintah jatuh pada Sabtu 7 Juni 2025.
Thomas menjelaskan bahwa potensi perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan. Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan kriteria posisi hilal di atas nol derajat sebagai tanda dimulainya bulan baru.
Sebaliknya, Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah menggunakan metode rukyat, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal. Dalam metode rukyat, tinggi hilal harus mencapai minimal 3 derajat di atas ufuk untuk bisa terlihat dengan alat optik seperti teleskop.
“Ada potensi perbedaan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” ungkap Thomas. Meski demikian, ia menekankan bahwa masyarakat tetap harus menunggu hasil resmi sidang isbat Kemenag.
Perbedaan dalam penetapan kalender Hijriyah ini sudah menjadi dinamika tahunan di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tetap saling menghormati keputusan masing-masing pihak dan menjaga kerukunan dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. (jpg)
Editor : Hendra Efison