Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengapa Korupsi Terus Subur di Negara Religius? Temukan Jawabannya!

Hendra Efison • Jumat, 14 Maret 2025 | 21:52 WIB

OpenAI
OpenAI
PADEK.JAWAPOS.COM--The Lead Institute, bekerja sama dengan Universitas Paramadina, menggelar webinar bertajuk “Pseudo-Spiritualitas, Religius Tapi Gemar Korupsi” pada Kamis, 13 Maret 2025.

Webinar ini menjadi bagian dari Program Ramadan 2025 dengan tema Spiritualitas di Era Digital. Diskusi ini menghadirkan pembicara terkemuka, seperti Prof. Dr. Media Zainul Bahri, Guru Besar Pemikiran Islam UIN Jakarta, dan Dida Darul Ulum, M.A, Peneliti Megawati Institute. Acara ini dimoderatori oleh Maya Fransiska, S.Ag, Peneliti The Lead Institute.

Korupsi: Ironi di Negara Religius

Ketua The Lead Institute, Dr. phil. Suratno Muchoeri, membuka diskusi dengan mengkritisi fenomena hipokrisi dalam masyarakat Indonesia.

Dalam bukunya Manusia Indonesia (1977), Mochtar Lubis mengungkapkan betapa seringnya masyarakat Indonesia menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai moral, meski secara religius mengaku taat.

Dr. Suratno menjelaskan bahwa akar dari masalah ini terletak pada feodalisme dan pemisahan agama dari etika. Feodalisme membentuk mentalitas “asal bapak senang,” sementara agama lebih dianggap simbol daripada pedoman moral.

Dr. Suratno juga mengaitkan fenomena korupsi dengan kemunafikan dalam Islam, seperti berbicara bohong dan mengingkari janji. "Meski mayoritas Indonesia Muslim dan Islam mengajarkan akhlak mulia, mengapa korupsi masih merajalela?" ujarnya.

Religiusitas vs Integritas Moral

Prof. Dr. Media Zainul Bahri menyampaikan pandangannya bahwa religiusitas sering kali tidak berbanding lurus dengan integritas moral.

Ia menilai, meski budaya permisif yang ada di masyarakat Indonesia memiliki sisi positif, budaya ini justru memperkuat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dalam perspektifnya, fenomena Islam Pop sejak era 70-an, yang lebih menekankan simbol ketimbang substansi moral, memperburuk situasi ini.

"Politisi dan pejabat yang memahami Islam secara mendalam sering kali terjerat kasus korupsi. Ini menunjukkan agama lebih dijadikan simbol daripada landasan etika," tegas Prof. Media.

Baca Juga: Padangpariaman Marak Kasus Pencabulan

Indonesia: Negara Religius dengan Masalah Korupsi

Dida Darul Ulum, M.A, menggambarkan kondisi Indonesia yang religius namun terperangkap dalam masalah korupsi dengan mengutip analogi Gotham City dari film The Dark Knight.

Meskipun Indonesia menduduki peringkat ketujuh negara paling religius menurut laporan majalah CEOWORLD (8 April 2024), indeks persepsi korupsi tetap tinggi.

Dida menekankan perbedaan antara religion (agama sebagai keyakinan) dan religiosity (keberagamaan dalam perilaku).

"Iman tanpa implementasi dalam kehidupan sehari-hari belum bisa disebut keberagamaan sejati," ujarnya.

Dida merinci tiga faktor utama yang menyuburkan korupsi di Indonesia: struktur pemerintahan yang koruptif, budaya permisif terhadap korupsi, dan sikap apatis masyarakat yang menganggap perilaku koruptif sebagai hal yang biasa.

Agama Sebatas Ritual, Bukan Etika Sosial
Dida menegaskan bahwa salah satu penyebab lemahnya pengaruh agama dalam mencegah korupsi adalah pemahaman agama yang terbatas pada ritual.

"Jika agama tidak terhubung dengan kehidupan sehari-hari, maka maknanya hilang," ungkapnya.

Ia mengingatkan, pesan utama agama adalah membangun akhlak dan etika sosial, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.”

Dida menambahkan, kesalehan personal harus diterjemahkan dalam kesalehan sosial. “Kita butuh pemimpin yang bisa menjadi teladan dalam integritas dan kesederhanaan,” jelasnya.

Pergeseran Paradigma dalam Memahami Agama
Para pembicara sepakat bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menggeser paradigma dalam memahami agama.

Keberagamaan seseorang harus diukur tidak hanya dari seberapa sering beribadah, tetapi juga dari integritas dan kontribusinya dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Penting bagi pemimpin dan tokoh agama untuk menjadi teladan dalam integritas. Seperti yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu seperti Gus Dur, Prof. Mukti Ali, Nurcholish Madjid, dan Syafi'i Ma'arif.

Selain itu, sistem pemerintahan yang transparan, akuntabel, serta pendidikan yang menekankan pembangunan karakter juga harus diperkuat untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik.

Webinar ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana spiritualitas yang sejati dapat menjadi pendorong perubahan sosial yang lebih positif di Indonesia.(*)

Editor : Hendra Efison
#spiritualitas dan korupsi #webinar The Lead Institute #hipokrisi dalam masyarakat #korupsi di indonesia #negara religius