Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lebaran 2025 Kapan? Ini Prediksi BMKG dan Jadwal Sidang Isbat Kemenag

Randi Zulfahli • Jumat, 28 Maret 2025 | 19:50 WIB

Tim pengamatan hilal BMKG. (Foto: Dok. BMKG)
Tim pengamatan hilal BMKG. (Foto: Dok. BMKG)
PADEK.JAWAPOS.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis data perhitungan (hisab) dan prediksi observasi (rukyat) hilal untuk menentukan awal bulan Syawal 1446 Hijriyah.

Berdasarkan perhitungan ilmiah yang dirilis di laman resmi BMKG, hilal berpotensi terlihat pada 30 Maret 2025, yang menandakan kemungkinan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.

Penentuan awal bulan Hijriyah memiliki makna penting bagi umat Islam, khususnya dalam menentukan waktu ibadah dan perayaan keagamaan seperti Idul Fitri.

Untuk memberikan kepastian ilmiah, BMKG bertugas melakukan perhitungan posisi Bulan dan Matahari serta mengadakan pengamatan hilal di berbagai lokasi di Indonesia.

Data ini kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI, yang akan menetapkan secara resmi awal bulan Syawal.

Konjungsi dan Waktu Terbenam Matahari

Peristiwa konjungsi (ijtima’), yaitu saat Bulan dan Matahari berada dalam garis bujur ekliptika yang sama, akan terjadi pada Sabtu, 29 Maret 2025, pukul 17.57 WIB. Pada hari yang sama, Matahari akan terbenam di wilayah Indonesia dalam rentang waktu:

Sehari setelahnya, pada 30 Maret 2025, waktu terbenam Matahari di Indonesia sedikit berbeda:

Posisi Hilal: Ketinggian dan Elongasi

Dalam menentukan awal bulan Hijriyah, BMKG melakukan penghitungan terkait ketinggian hilal dan elongasi geosentris di berbagai wilayah Indonesia.

Pada 29 Maret 2025, hasil perhitungan menunjukkan:

Sementara itu, pada 30 Maret 2025, data menunjukkan perubahan signifikan:

Selain itu, umur Bulan menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal. Pada 29 Maret 2025, umur Bulan di Indonesia berkisar antara -2,22 jam hingga 0,84 jam, yang terlalu muda untuk diamati.

Namun, pada 30 Maret 2025, umur Bulan berkisar antara 21,77 jam hingga 24,84 jam, yang berarti hilal cukup matang untuk dapat terlihat.

Perkiraan  1 Syawal 1446 H

Indonesia menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Berdasarkan kriteria ini, hilal dianggap dapat terlihat jika:

  1. Ketinggian minimal 3 derajat.

  2. Elongasi minimal 6,4 derajat.

Dari data BMKG pada 30 Maret 2025, seluruh wilayah Indonesia memenuhi kedua kriteria ini. Oleh karena itu, hilal berpotensi terlihat, dan 1 Syawal 1446 H kemungkinan besar akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.

Namun, keputusan resmi tetap akan ditetapkan melalui Sidang Isbat Kementerian Agama RI, yang mempertimbangkan laporan hasil rukyat hilal dari berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.

Untuk memastikan keterbukaan informasi kepada masyarakat, BMKG akan mengadakan pengamatan hilal di 37 lokasi di Indonesia, yang dapat disaksikan secara langsung melalui live streaming di situs https://hilal.bmkg.go.id.

Penetapan Resmi Pemerintah

Kemenag akan menggelar Sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Syawal 1446 Hijriyah pada Sabtu, 29 Maret 2025, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1446 H.

Sidang ini akan menentukan tanggal resmi perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 H di Indonesia.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa sidang isbat selalu dilakukan pada 29 Ramadhan untuk menetapkan 1 Syawal.

"Kami akan menggelar Sidang Isbat awal Syawal pada 29 Maret 2025. Sebagaimana biasanya, Sidang Isbat selalu digelar pada 29 Syakban untuk menetapkan awal Ramadhan, 29 Ramadhan untuk menetapkan awal Syawal, dan 29 Zulkaidah untuk menetapkan awal Zulhijjah," jelas Abu Rokhmad dalam Rapat Persiapan Sidang Isbat Awal Syawal 1446 H di Kantor Pusat Kemenag, Jakarta, Selasa lalu (18/3/2024).

Penetapan awal Syawal dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyat, sebagaimana diatur dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 2 Tahun 2024 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah. Dalam fatwa tersebut ditegaskan bahwa penetapan awal bulan Hijriyah dilakukan berdasarkan hisab dan rukyat oleh Pemerintah RI, melalui Menteri Agama, dan berlaku secara nasional.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#sidang isbat 1 syawal #bmkg #Sidang Isbat 2025 #hasil pengamatan hilal #Idul Fitri 1 syawal 1446 H #prediksi hilal #lebaran 2025 #BMKG prediksi hilal #kapan Lebaran 2025 #kemenag