Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menyatakan bahwa layanan kesehatan ini disiapkan di area bawah masjid. “Kami menyediakan tim medis dan klinik di area bawah untuk menangani jemaah yang membutuhkan bantuan kesehatan,” ujarnya.
Selain itu, aspek keamanan di Masjid Istiqlal juga diperketat. Masjid ini dilengkapi dengan lebih dari 160 CCTV berbasis biometrik yang mampu mendeteksi wajah hingga jarak 500 meter.
Nasaruddin menegaskan bahwa sistem keamanan ini dapat mengidentifikasi data seseorang secara langsung sehingga dapat mencegah tindakan kriminal.
“Keamanan di Masjid Istiqlal sangat ketat. CCTV ini dapat mendeteksi wajah hingga jarak 500 meter dan langsung mengidentifikasi data seseorang. Sehingga, siapapun yang berniat melakukan tindakan kriminal akan segera terdeteksi. Alhamdulillah, hingga saat ini tidak ada isu keamanan yang mengkhawatirkan di Masjid Istiqlal,” jelasnya.
Salat Idulfitri tingkat kenegaraan di Masjid Istiqlal dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, duta besar negara sahabat, serta pejabat Kementerian Agama.
Jemaah mulai memadati masjid sejak pukul 04.00 WIB. Diperkirakan lebih dari 150.000 orang hadir. Seluruh lantai masjid penuh, bahkan ribuan jemaah melaksanakan salat di area luar. Area parkir Masjid Istiqlal dan Katedral juga dipenuhi kendaraan jemaah.
Salat Idulfitri berlangsung dari pukul 07.00 hingga 07.45 WIB. Rangkaian ibadah dipimpin oleh Salim Ghazali sebagai Imam I, Ahmad Husni Ismail sebagai Imam II, Ilham Mahmuddin sebagai Bilal I, dan Abdullah Sengkang sebagai Bilal II. Khotbah Idulfitri disampaikan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, dengan tema “Merawat Kemabruran Puasa.”
Dalam khutbahnya, Tholabi menekankan bahwa puasa Ramadan tidak hanya membentuk individu yang lebih baik tetapi juga menciptakan tatanan sosial yang lebih maslahat.
“Puasa melahirkan pribadi-pribadi yang menghargai proses penempaan serta membentuk kelompok masyarakat dan negara menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kedermawanan dalam Ramadan melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen penegakan keadilan sosial.
“Amaliah Ramadan seperti zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen afirmatif yang berdampak nyata dalam aspek sosial, ekonomi, dan keadilan,” katanya.
Dalam konteks kebangsaan, Tholabi menegaskan bahwa keberagaman adalah sunnatullah yang harus diterima dengan semangat persatuan.
“Kebersamaan selama Ramadan mengajarkan bahwa keberkahan lahir dari persatuan. Al-barokah ma’al jama’ah. Ini selaras dengan visi pemerintahan yang berkomitmen memperkuat harmoni sosial, meningkatkan toleransi antarumat beragama, serta mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera,” imbuhnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk membudayakan literasi dalam bingkai Tadarrus Al-Qur’an guna menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Tadarus bukan hanya membaca teks secara tilawah, tetapi juga mengaktifkan akal untuk memahami ayat-ayat kauniyah dalam kehidupan. Budaya literasi Ramadan harus dikembangkan di lembaga pendidikan formal dan non-formal,” jelasnya.
Mengakhiri khutbahnya, Tholabi menegaskan bahwa spirit Ramadan harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menciptakan ruang publik yang bebas dari korupsi.
“Pribadi yang fitri akan membawa kebaikan bagi lingkungannya, termasuk menciptakan ruang publik yang bebas dari korupsi. Spirit empati tidak boleh hanya muncul di bulan Ramadan lalu menghilang setelahnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Hendra Efison