Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rupiah Tertekan hingga Tembus Rp16.821 per Dolar AS, BI Lakukan Intervensi Ganda

jpg • Selasa, 8 April 2025 | 00:27 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) makin tertekan di level Rp16.821,5 per USD pada pukul 15.22 WIB, Senin (7/4/2025). (Foto: Salman Toyibi/Jawa Pos)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) makin tertekan di level Rp16.821,5 per USD pada pukul 15.22 WIB, Senin (7/4/2025). (Foto: Salman Toyibi/Jawa Pos)
PADEK.JAWAPOS.COM–Nilai tukar rupiah kembali tergelincir ke titik rawan. Berdasarkan data Bloomberg Market Spot Rate, rupiah tercatat melemah ke level Rp16.821,5 per dolar Amerika Serikat (USD) pada pukul 15.22 WIB, Senin (7/4/2025).

Situasi ini memaksa Bank Indonesia (BI) untuk turun tangan dan menggelar serangkaian intervensi guna menstabilkan pasar.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar kemarin, BI memutuskan melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, khususnya di segmen non-deliverable forward (NDF) yang berbasis off-shore. Langkah ini menyasar transaksi di tiga zona waktu utama; Asia, Eropa, dan New York.

“Tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah terjadi di pasar offshore, terutama saat pasar domestik tengah libur panjang,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

Menurutnya, intervensi NDF akan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai pusat keuangan dunia.

BI juga menyiapkan langkah agresif saat pasar dalam negeri kembali dibuka hari ini, Selasa (8/4). Intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, bank sentral akan mengoptimalkan instrumen likuiditas rupiah demi memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan nasional.

"Seluruh langkah ini kami tempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memelihara kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tambah Denny.

Tekanan terhadap rupiah tak datang tiba-tiba. Akar masalahnya bersemi dari tensi dagang global yang kembali memanas. Kebijakan tarif resiprokal yang diluncurkan pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (2/4), dan dibalas Tiongkok dua hari kemudian, memicu gejolak di pasar keuangan global.

Arus modal keluar pun meningkat, memukul banyak mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah.

Namun, kebijakan BI ini tak lepas dari kritik. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai intervensi lewat pasar NDF tidak cukup manjur.

“Intervensi di pasar off-shore atau NDF tidak akan efektif untuk menstabilkan nilai tukar rupiah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Bhima menilai bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih bersifat struktural, dan perlu respons fiskal serta reformasi ekonomi yang lebih mendalam, bukan sekadar manuver moneter sesaat.

Meski begitu, langkah BI tetap menjadi tameng pertama menghadapi tekanan pasar jangka pendek. Kini, mata pasar tertuju pada apakah intervensi ganda ini mampu meredam gejolak, atau justru menjadi awal dari perjuangan panjang menstabilkan rupiah di tengah pusaran ekonomi global yang tak menentu.(jpg)

Editor : Hendra Efison
#Rupiah Tembus Rp16821 per Dolar AS #Rupiah Tertekan #BI Lakukan Intervensi Ganda