Pada Jumat, 11 April 2025, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hampir menyentuh angka 1,9 juta rupiah per gram.
Berdasarkan data resmi dari situs Logam Mulia, harga jual emas Antam per gram tercatat sebesar Rp1.889.000. Angka ini naik tajam sebesar Rp70.000 dari hari sebelumnya yang masih berada di level Rp1.819.000 per gram.
Di pasar internasional, harga emas spot juga menunjukkan tren menanjak. Berdasarkan data Trading Economics, emas diperdagangkan di level USD 3.215 per ons troy atau menguat 0,81 persen pada pukul 11.16 WIB, Jumat (11/4). Jika ditarik dalam satu pekan terakhir, harga emas dunia telah melonjak sebesar 5,92 persen.
Lonjakan ini erat kaitannya dengan data inflasi Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan Maret menunjukkan penurunan menjadi 2,4 persen secara tahunan (year-on-year), turun dari bulan sebelumnya yang berada di angka 2,8 persen. Data tersebut juga lebih rendah dari prediksi pasar sebesar 2,6 persen.
Turunnya inflasi ini memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuannya, meskipun gejolak geopolitik tetap menjadi bayang-bayang utama pasar global.
Analis Dupoin Indonesia, Andy Nugraha, menyatakan bahwa ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga memang sedikit mereda. Namun, masih terbuka kemungkinan adanya penurunan suku bunga lanjutan pada bulan Juni mendatang. Ia memperkirakan penurunan total bisa mencapai 1 persen sepanjang 2025.
Menurutnya, sentimen tersebut menahan laju penguatan dolar AS dan mendorong investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, Deutsche Bank dalam laporan terbarunya menaikkan proyeksi harga emas. Bank investasi asal Jerman ini memperkirakan harga emas akan menembus USD 3.350 per ons troy pada kuartal IV 2025.
Deutsche Bank juga mencatat bahwa logika bullish terhadap emas tetap kuat meskipun pasar tengah bergejolak. Lonjakan permintaan dari bank sentral dunia menjadi pendorong utama.
Porsi permintaan dari sektor ini meningkat drastis dari 10 persen pada 2022 menjadi 24 persen saat ini. Angka ini bahkan mengungguli permintaan dari penerbitan obligasi yang berkisar di angka 7 hingga 10 persen.
Carsten Menke, Kepala Riset Komoditas di Julius Baer, menegaskan bahwa risiko terhadap rantai pasok akibat kebijakan tarif internasional dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Amerika. Dalam kondisi demikian, nilai emas sebagai alat lindung nilai (safe haven) tengah mengalami penilaian ulang oleh pasar global. (dee/han/dio/jpg)
Tren Harga Emas Sepekan Terakhir
Tanggal Emas Dunia (USD/oz) Emas Antam (Rp/gram)
3 April 3.107,80 1.836.000
4 April 3.036,33 1.819.000
7 April 2.976,10 1.758.000
8 April 2.985,01 1.777.000
9 April 3.093,35 1.812.000
10 April 3.170,80 1.846.000
11 April 3.212,47 1.889.000
Sumber: Trading Economics, Logam Mulia, Bullion Vault, Deutsche Bank, Julius Baer
Editor : Hendra Efison