Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Waspadai Efek Berantai lewat Lonjakan Harga Minyak

Novitri Selvia • Selasa, 17 Juni 2025 | 11:15 WIB

Shinta Widjaja Kamdani.(WOMEN’S OBSESSION)
Shinta Widjaja Kamdani.(WOMEN’S OBSESSION)

PADEK.JAWAPOS.COM-ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) mengaku khawatir konflik Iran dan Israel bakal berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Terutama melalui lonjakan harga minyak dunia dan gangguan jalur logistik internasional.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyebut, sebagai negara pengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

Kenaikan harga minyak, lanjut Shinta, efeknya bisa berantai. Tak cuma memicu tekanan inflasi, tetapi juga dapat berdampak pada nilai tukar rupiah serta mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski demikian, Shinta menegaskan bahwa hingga saat ini konflik antara Iran dan Israel belum memicu efek langsung. Sebab, kedua negara tersebut bukan merupakan mitra dagang utama Indonesia.

“Volume perdagangan kita dengan Iran, apalagi Israel, sangat minim,” urai Shinta di Jakarta kemarin (16/6).

Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga mengingatkan, meski ketegangan Iran versus Israel belum berdampak, risiko tetap ada. “Sebab, Timur Tengah merupakan pusat penting produksi dan distribusi minyak dunia,” katanya.

Menurut dia, skenario terburuk seperti blokade Selat Hormuz atau terganggunya produksi dan distribusi energi dari Iran dan negara sekitarnya bisa memberikan efek domino ke pasar keuangan global.

“Indonesia bisa terdampak dalam bentuk tekanan inflasi, perlambatan pemulihan ekonomi, hingga meningkatnya sentimen risk-off di kalangan investor,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan tak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pasca serangan Israel ke Iran. Saat ini setidaknya ada 386 WNI berada di negeri yang beribu kota di Teheran itu, mayoritas tengah studi di Qom.

Juru Bicara Kemenlu Rolliansyah Soemirat dalam keterangannya pada Minggu (15/6) mengungkapkan, KBRI Teheran terus menjalin komunikasi dengan para WNI di Iran.

Meski belum melakukan evakuasi, ia memastikan bahwa Kemenlu dan KBRI Teheran sudah menyusun rencana kontinjensi. Sebab, sejak Juli 2024 KBRI Teheran telah menetapkan status Siaga 2. (agf/mia/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#konflik iran dan israel #Rolliansyah Soemirat #harga minyak dunia #apindo #Shinta Widjaja Kamdani