Dalam musim yang penuh tantangan, Martin mengunci gelar dengan finis ketiga di Sirkuit Catalunya, Grand Prix Barcelona, mengungguli rival utamanya, Francesco Bagnaia dari Ducati Lenovo Team, dengan selisih 10 poin.
Meski hanya mencatatkan tiga kemenangan dari 20 balapan musim ini—dibandingkan 11 kemenangan Bagnaia—konsistensi luar biasa Martin di paruh kedua musim menjadi kunci keberhasilannya.
Ia hanya dua kali gagal naik podium di balapan Minggu dari putaran kelima hingga balapan terakhir.
Kisah di Balik Kemenangan Martin
Martin mengungkapkan bahwa dirinya sempat menangis di balik helm selama lap-lap terakhir di Barcelona karena terselimuti rasa haru yang begitu kuat.
“Di lap-lap terakhir saya bahkan tidak bisa berkendara, saya mulai menangis. Ini adalah balapan yang sangat mengharukan,” ungkap Martin usai balapan.
Pebalap kelahiran 29 Januari 1998 ini menambahkan, “Ini untuk keluarga saya, untuk orang-orang yang mendukung saya. Perjalanan saya panjang, penuh dengan kecelakaan dan cedera besar, tetapi akhirnya saya berada di sini. Terima kasih untuk semua orang, termasuk para penggemar. Hal paling penting sekarang adalah meninggalkan tekanan dan menikmati momen ini.”
Kemenangan ini juga menjadi pelipur lara bagi Martin setelah kegagalannya meraih gelar pada 2023.
Dalam musim sebelumnya, ia harus puas sebagai runner-up meski sempat memimpin pertarungan melawan Bagnaia.
Perjalanan Karier Jorge Martin
Seperti dilansir dari laman MotoGP, Jorge Martin memulai debutnya di ajang balap dunia pada 2015 bersama Mapfre Mahindra. Naik kelas setelah memenangkan Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Tahun 2017, Martin mengukuhkan posisinya di depan saat ia pindah ke Del Conca Gresini Moto3, mengawali tahun di podium ketiga di Qatar
Prestasi besar pebalap Madrid ini datang pada 2018 ketika ia menjadi Juara Dunia Moto3 bersama Del Conca Gresini, berkat torehan tujuh kemenangan dan rekor 11 pole position.
Untuk pertama kalinya, Martin menjadi Juara Dunia, karena kepindahannya ke Moto2 bersama Red Bull KTM Ajo sudah di depan mata.
Pindah ke Moto2 pada 2019, perjalanan Martin tidak mudah. Namun ia menunjukkan potensi besar yang membawanya ke kelas utama MotoGP pada 2021 bersama Prima Pramac Racing.
Debutnya di tim ini langsung menarik perhatian ketika ia meraih pole position pada balapan keduanya dan finis ketiga di GP Doha.
Namun, musim rookie-nya tidak lepas dari tantangan besar. Sebuah kecelakaan hebat di Portimao mengakibatkan delapan patah tulang dan memaksanya absen dalam empat balapan.
Meski begitu, Martin bangkit dengan gaya luar biasa, memenangkan GP Styria dari pole position dan meraih podium ketiga di akhir pekan berikutnya.
Musim rookie-nya diakhiri dengan finis kedua di Valencia, menunjukkan potensi besar untuk masa depan.
Namun, musim 2022 tidak berjalan sesuai harapan. Start yang sulit membuat Martin kesulitan menunjukkan performa maksimalnya. Ia mengakhiri musim dengan empat podium tanpa kemenangan, dan menjadikannya sebagai tahun yang penuh pembelajaran.
Tahun 2023 menjadi titik balik dalam karier Martin setelah musim 2022 yang sulit.
Meski awal tahun diwarnai dua kegagalan finis di balapan Minggu dari tiga balapan pertama, Martin mulai menunjukkan konsistensinya dengan finis P4 di Jerez dan kemenangan Sprint di Prancis.
Dari pertengahan musim, Martin menjadi "Sprint King," memenangkan tujuh dari sembilan Sprint terakhir dan tiga balapan Minggu di paruh kedua musim.
Walaupun gagal meraih gelar juara dunia setelah mengalami kegagalan finis di Valencia, Martin menjadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk kembali lebih kuat di 2024.
Kunci Sukses di 2024: Konsistensi
Musim 2024 diawali dengan kemenangan Sprint dan podium ketiga di Qatar, disusul kemenangan penuh di Portugal.
Setelah putaran kedua, Martin memimpin klasemen dan hanya sekali kehilangan posisi teratas dari Bagnaia sepanjang musim.
Di antara putaran kelima hingga ke-18, Martin hanya gagal naik podium Minggu dua kali: saat terjatuh di Jerman dan akibat strategi ban yang gagal di San Marino.
Puncaknya, kemenangan di Indonesia dan serangkaian podium di Jepang, Australia, serta Thailand menjadikannya favorit juara dunia.
Di Malaysia, Martin mengunci keunggulan 17 poin atas Bagnaia setelah meraih kemenangan Sprint.
Dalam balapan utama, ia finis kedua, memastikan keunggulan 24 poin menuju putaran terakhir di Barcelona.
Di Barcelona, Martin hanya perlu finis di posisi kesembilan atau lebih baik untuk menjadi juara dunia.
Ia menyelesaikan balapan dengan aman di posisi ketiga, cukup untuk memastikan gelar juara dunia pertamanya di MotoGP.
Konsistensi Martin sepanjang musim, ditambah kemampuannya menghadapi tekanan besar di akhir musim, membuktikan bahwa tim satelit mampu bersaing di level tertinggi.
Keberhasilan Jorge Martin juga menjadi tonggak sejarah bagi Prima Pramac Racing sebagai tim satelit pertama yang meraih gelar juara dunia di era MotoGP.
Dominasi Bagnaia Tak Cukup
Francesco Bagnaia menunjukkan performa terbaiknya di GP Barcelona. Ia memimpin sesi latihan Jumat, meraih pole position pada Sabtu, dan memenangkan Sprint Race.
Bagnaia juga mengamankan kemenangan di balapan utama pada Minggu, tetapi usahanya tidak cukup untuk merebut gelar dari tangan Martin.
Bagnaia, yang pernah menjadi rekan setim Martin di Moto3, memberikan ucapan selamat kepada sang juara dunia. “Saya pikir dia layak atas apa yang telah dia capai. Hari ini miliknya,” ujar Bagnaia seperti dilansir dari Autosport.(*)
Editor : Heri Sugiarto