Kebijakan ini diberlakukan bagi atlet yang daerah asalnya belum atau memutuskan tidak ikut ambil bagian dalam Porprov.
Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menegaskan bahwa atlet yang memiliki KTP Sumatera Barat tetap diperbolehkan berlaga meski tidak membela daerah asalnya. Menurutnya, kebijakan tersebut diambil demi melindungi hak dan masa depan atlet.
“Selagi ber-KTP Sumatera Barat, silakan turun di Porprov. Jika daerahnya tidak ikut, boleh membela daerah lain,” ujar Hamdanus saat pembukaan Tes Kemampuan Calon Atlet Binaan Pelatda Sumbar 2026 di Padang.
Ia menilai atlet menjadi pihak paling dirugikan apabila daerah dan KONI kabupaten/kota tidak responsif terhadap agenda Porprov. “Kasihan atlet kehilangan kesempatan hanya karena pemerintah daerah dan KONI-nya tidak siap,” tambahnya.
Salah satu atlet yang terdampak adalah atlet teqball andalan Sumatera Barat, Zikrha Dwi Putri. Atlet asal Kota Pariaman yang meraih medali perak SEA Games 2025 itu mengaku kecewa jika Porprov gagal digelar atau daerah asalnya tidak berpartisipasi.
“Kalau Pariaman tidak ikut, saya pindah ke daerah lain. Tapi sampai sekarang belum ada yang menghubungi,” kata Zikrha.
Menurutnya, Porprov bukan sekadar kompetisi antar daerah, melainkan ajang penting untuk menjaga jam terbang, mengasah kemampuan, serta menunjukkan hasil pembinaan atlet kepada publik dan pembina olahraga.
Ancaman perpindahan atlet juga muncul dari cabang olahraga sepatu roda. Sejumlah atlet sepatu roda asal Kota Pariaman dikabarkan siap membela daerah lain apabila Pariaman tidak ikut Porprov.
Mereka di antaranya Salsabila Ghina Fitri, peraih medali emas BK PON Aceh–Sumut, serta Hana Fatihatul Aulia, Dafa Muhammad Alfauzen, dan Dimmy Nobel Alhamdi yang masing-masing meraih medali perak dan perunggu pada ajang yang sama.
Ketua Harian Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Sumbar, Arfan Rosyda, mengungkapkan persoalan tersebut sudah sering disampaikan atlet dan orang tua kepada pengurus.
“Bukan hanya atlet sepatu roda dari Pariaman. Atlet dari daerah lain di Sumatera Barat juga menyampaikan hal serupa. Jika daerahnya tidak ikut Porprov, mereka akan memilih membela daerah lain. Ini murni demi karier atlet, bukan soal loyalitas,” ujar Arfan.
Porprov dinilai sebagai ajang krusial bagi atlet daerah untuk mengukur kemampuan, menjaga kontinuitas prestasi, sekaligus menjadi jembatan menuju kompetisi tingkat nasional. Ketidakpastian keikutsertaan daerah justru menempatkan atlet pada posisi paling dirugikan. (juf)
Editor : Adetio Purtama