Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Aliansi 4 Negara Muslim: Mungkinkah?

Tandri Eka Putra • Selasa, 28 April 2026 | 20:01 WIB
Aliansi 4 Negara Muslim: Mungkinkah?
Aliansi 4 Negara Muslim: Mungkinkah?

 

Oleh Shofwan Karim

(Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

 

PADEK.JAWAPOS.COM- Gelombang konflik di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangan udara Israel ke Doha, Qatar (September 2025) dan serangan gabungan AS–Israel ke Iran (Februari2026). Dua peristiwa ini menjadi titik balik yang mengguncang arsitektur keamanan regional. Empat negara besar Muslim—Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi—mulai menghitung ulang strategi pertahanan mereka.

Aliansi yang digagas disebut mirip dengan NATO, denganprinsip collective defense: serangan terhadap satu anggotadianggap serangan terhadap semua. Keempat negara inimemiliki bobot besar. Populasi gabungan 500 juta jiwa, PDB total USD 3,87 triliun, serta kombinasi kekuatan nuklirPakistan, dana Saudi, militer Mesir, dan industri pertahananTurkiye.

Pertemuan menteri luar negeri di Antalya Diplomacy Forum (April 2026) menegaskan keseriusan pembahasan. Latihan militer gabungan Mesir–Pakistan, inisiasi persiapan semakinintensif. Ini menjadi tanda bahwa ide ini bukan sekadarwacana. Apa tujuan aliansi, bagaimana respon Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan negara lain, tantangan, masalahdan bagaimana prospeknya?

Baca Juga: 133 JCH Kota Pariaman Dilepas ke Tanah Suci, Berangkat 30 April 2026

Tujuan Aliansi

Seruan untuk membentuk aliansi pertahanan bersama negara-negara Muslim makin menguat menyusul serangan Israel kesebuah kompleks perumahan di Doha yang menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar di ujungtahun lalu.

Dalam pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Qatar pada Senin (15/9/2025), Mesir dan Iran tampil di garis depan mendorong lahirnya pakta militer mirip NATO di kawasan Timur Tengah.

Ketar ketir menghadapi ekspansionisme Israel dalam konsepdan strategi melahirkan Israel Raya. Sejalan dengan ituestimasi bahwa dengan aliansi ini dapat mengurangi dominasieksternal di kawasan.

Baca Juga: Hari Otda XXX di Pariaman, Yota Balad Tekankan Inovasi Daerah dan Penguatan PAD

Harus dibangun kemandirian keamanan regional. Latihan gabungan, produksi senjata dan koordinasi intelijen. Inginmelahirkan saluran diplomasi yang diharapkan lebih solid mencari. Solusi konflik AS-Israel-Iran. Mencegah eskalasiyang lebih luas dan semakin tajam.

Diperlukan kepalan solidaritas Muslim  menghadapi ancamanbersama dalam pendekatan realistis dan pragmatis. Selama iniOKI dianggap belum mempunyai kuasa dalam hal pertahanandan menghadapi ancaman pihak eksternal.  Padahal 57 Negara Anggota itu signifikan.

Tujuan berdirinya OKI adalah untuk mempromosikan kerjasama dan solidaritas antar umat Islam secara internasional. Mendorong terciptanya rasa solidaritas antar umat Islam.Meningkatkan perdamaian melalui kerja sama. Menyelesaikanpermasalahan dan konflik yang melibatkan anggota OKI dan umat Muslim. Membantu perjuangan kemerdekaan Palestina.Melindungi tempat suci umat Islam dan mendukungkeamanan serta perdamaian internasional. Padahal belum adasuatu fakta  yang solid dan melekat dalam tatanan aliansipertahanan milliter.

Baca Juga: Wuling Eksion Meluncur di Padang, SUV Hybrid-Listrik Ini Dibanderol Mulai Rp404 Juta

Respon OKI & Dunia

Meski begitu, OKI tampaknya menyambut gagasan ini dengansangat hati-hati. Ada dukungan atas solidaritas militer, terutama setelah serangan ke Gaza, Lebanon dan Iran. Namun, sebagian besar anggota lainnya lebih menekankandiplomasi damai daripada blok militer. OKI cenderungmelihat aliansi ini sebagai inisiatif parsial, bukan representasipenuh dunia Islam.

Lalu bagaiman dengan (AS), NATO sendiri, EU, Rusia dan China?  Bagi AS, NATO dan EU mungkin menoleransi jikaaliansi ini mampu mencegah perang regional lebih besar, tetapi tetap khawatir akan tetap dianggap melemahkan NATO dan pengaruh Washington. Sementara Rusia dan China lebihkepada “wait and see”.

Di sisi lain Iran, yang belum disebut bergabung kepadarencana aliansi itu, diperkirakan akan melihat seberapa jauhmenguntungkan mereka. Atau memang belum adapendekatan. Di kacamata Iran, mungkin 4 negara muslim yang kini terus mempersiapkan aliansi adalah di antaraanggota OKI lebih dekat ke EU dan AS. Maka boleh jadi, aliansi ini sebagai upaya isolasi, sehingga bisa memperkuatsentimenenya untuk perkokoh hubungan dengan Rusia dan China.

Baca Juga: Aksi Sosial Hari Kartini, PLN UP3 Solok Bantu Perempuan Tangguh di Tanah Garam

Lalu India, niscaya tetap waspada karena Pakistan dan Turkiye sudah menunjukkan solidaritas militer yang bisaberimbas pada rivalitas Asia Selatan.

Tantangan & Masalah

Kerentanan diplomatik dan sejarah masa lalu ada bias keretakan antara Ankara–Riyadh–Kairo, diestimasi akan tetapmembayangi. Ketergantungan Saudi & Mesir pada AS bolehjadi sulit melepaskan diri sepenuhnya dari Washington.

Lalu fragmentasi dalam OKI sendiri. Ada selalu resikoeskalasi karena aliansi bisa memicu perlombaan senjatadengan Iran dan Israel di kawasan ini.

Baca Juga: Seleksi Baznas Sijunjung 2026–2031: 12 Kandidat Lolos Administrasi, Siap Uji Kompetensi

Paling absurd dan alit untuk diramalkan, mungkinkah ada legitimasi internasional. Menurut beberapa dalil sulit diterimasebagai blok resmi tanpa mandat PBB atau dukungan luasOKI.

Ikhtiar Eksperimen

Aliansi empat negara Muslim ini adalah eksperimengeopolitik besar. Ia lahir dari luka sejarah, dari serangan yang mengguncang, dan dari keinginan untuk berdiri tegak tanpabergantung sepenuhnya pada Barat. Namun, jalan menuju“NATO Muslim” penuh liku. Diplomasi internal yang rapuh, ketergantungan eksternal, serta fragmentasi dalam tubuh dunia Islam sendiri.

Seperti halnya NATO yang kini diguncang perpecahan denganAmerika Serikat, aliansi baru ini bisa menjadi momentum perubahan struktur pertahanan global. Tetapi apakah ia akanmenjadi benteng kokoh atau sekadar bayangan solidaritas, masih bergantung pada kemampuan empat negara inimenjembatani perbedaan dan meraih dukungan lebih luas daridunia Islam. (*)

 

Editor : Tandri Eka Putra
#NATO #aliansi 4 negara musim #geopolitik #Shofwan Karim #timur tengah