Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pariwisata Bukittinggi, Bertahan atau Tertinggal

Adriyanto Syafril • Jumat, 8 Mei 2026 | 06:56 WIB
Gusrizal Datuak Salubuak Basa.
Gusrizal Datuak Salubuak Basa.

Penulis: Gusrizal Datuak Salubuak Basa Pemerhati Pariwisata

Bukittinggi pernah menjadi “Mahkota”pariwisata Sumbar. Selama puluhan tahun, Bukittinggi menjadi ikon pariwisata di Sumatera Barat. Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Japang, Pasa Ateh, itu diantaranya sederetan tempat wisata yang sudah dikenal baik domestik maupun mancanegara.

Sektor ini menjadi nadi ekonomi. Begitu juga hotel, kuliner, tranportasi, oleh-oleh, jasa pemandu wisata, dari sinilah warga hidup dari wisatawan yang datang.

Tapi mahkota itu bukan hak paten. Kabupaten/Kota lain tidak tinggal diam. Sekarang tetangga kita “ngebut”. Padangpanjang yang dikenal dengan Serambi Mekkah, sekarang juga sudah dapat julukan yang lain yaitu sebagai Kota Kuliner dan Film. Ada juga PDIKM, Mifan, Desa wisata Kubu Gadang yang viral.

Begitu juga Payokumbuah dan Limapuluh Kota dengan Lembah Harau yang sudah mulai “Go lnternasional”, Geopark Harau, Event Pacu Jawi sekarang sudah mendunia. Saya baru saja mengikuti Harau Running Festival-”RunTheValley” dan juga sempat nginap di Harau. Waduh keren, banyak saya temui home stay yang dikelola dengan baik. 

Ups, tunggu dulu, Home staynya bukan kaleng-kaleng, sudah dengan model kekinian yang memanjakan mata yang menawarkan kombinasi arsitektur tradisional Minangkabau dengan nuansa alami modern dengan pemandangan langsung ke tebing batu dan sawah.

Belum lagi Agam dengan Danau Maninjau, Lawang Park, Puncak Taruko, tentu saja di tampilkan dengan konsep kekinian. Tidak hanya itu, Tanahdatar dengan Istano basa, Nagari Tuo Pariangan, serta diikuti dengan festival budaya masif.

Kabupaten lainnya pun tidak ketinggalan berbenah. Pesisir Selatan dengan pulau Mandeh itu dijuluki “Raja Ampatnya Sumbar”. Bila ini tidak diperhatikan oleh kepala daerah, itu semua akan menjadi ancaman bagi Kota Bukittinggi atau bahkan Bukittinggi bisa tertinggal.

Kepala daerah dari masing-masing kabupaten kota yang saya sebutkan di atas, terus melakukan investasi infrastruktur, digitalisasi tiket, bikin iven kalender wisata, serta membangun “branding” kuat di medsos. Sekarang wisatawan punya banyak pilihan baru.

Ini tentu saja akan berdampak jika Bukittinggi tidak berbenah. Bukittinggi tentu saja bisa “Stuck” dengan wajah lama, ini yang bakal terjadi, dampaknya kunjungan wisatawan tentu akan bisa turun secara pelan-pelan.

Wisatawan akan bosan, karena objek yang sama, parkir yang semrawut, PKL tidak tertata, harga nggak standar. Para wisatawan akan pilih destinasi baru yang lebih “fresh” dan nyaman.

Ini tentu saja akan berdampak pada ekonomi warga. Omzet pedagang Pasa Ateh, hotel, angkot, tentu saja akan ikut turun. Lapangan kerja serapan sektor wisata akan menyusut. PAD dari retribusi dan pajak hotel/resto akan “Stagnan” Citra Kota, dari “Kota Wisata Utama” jadi “Kota yang Terlambat Berubah”.

Branding Jam Gadang saja ndak cukup, bisa kalah, karena fasilitas sama dengan daerah lain.

Investor lebih pilih bangun hotel/cafe di Agam atau Tanahdatar atau kabupaten Kota lainnya karena dinilai lebih prospektif dan didukung Pemda yang agresif.

Anak muda Bukittinggi malah kerja di sektor wisata di luar kota karena di sini peluangnya tidak berkembang. Pemda tentu saja harus berbenah di sana-sini. Tahun 2007, saya pernah menulis di salah satu media cetak, “Sumbar bukan Bali”. Secara garis besar saya sampaikan, “Pariwisata Sumbar tidak perlu harus meniru Bali.

Sumatera Barat punya landasan yang kuat dengan filosofi ABS-SBK, itu seharusnya yang dikuatkan. Para wisatawan ingin sesuatu yang berbeda, dan perbedaan itulah sesungguhnya yang dicari”.

Di samping itu, Bukittinggi yang katanya punya label sebagai “Kota Wisata”, itu harus mempunyai “Tourism Center”, ini kita tidak punya. Minimnya informasi wisata serta transportasi yang tidak nyaman untuk para wisatawan serta toilet yang kotor, semrawut, macet. Ini menjadi horor saat libur.

Begitu juga dengan parkir liar, pedagang yang menutup trotoar serta pedagang yang ndak dilatih “Hospitality” serta sampah yang numpuk, itu semua akan mengikis secara pelan-pelan sektor wisata di kota ini.

Sebagai saran untuk kepala daerah, sekarang pilihan ada di tangan kita. Perlu diingat, pariwisata itu pasar yang menjadi rebutan. Wisatawan punya uang dan waktu terbatas.

Kalau Bukittinggi mau tetap jadi primadona, ndak ada jalan lain, selain berbenah, kota harus ditata, perbaiki layanan, ciptakan atraksi baru, kolaborasi dengan anak muda dan digital, kalau tidak, Bukittinggi akan jadi kota yang indah untuk dikenang, tapi bukan untuk dikunjungi. Mahkota bisa pindah dan ekonomi warga yang paling kena getahnya. (***)

Editor : Adriyanto Syafril
#wisata bukittinggi #wisata sumbar #Pariwisata Bukittinggi #jam gadang #ikon wisata Sumatera Barat