PADEK.JAWAPOS.COM- Pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Jalan-jalan desa mulai di aspal, jembatan diperbaiki, akses antar wilayah dibuka lebih luas, hingga berbagai fasilitas umum dibangun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pemerintah meyakini bahwa pembangunan infrastruktur merupakan kunci utama mempercepat pembangunan daerah.
Namun di tengah masifnya pembangunan fisik tersebut, muncul satu kenyataan yang sulit
dibantah: semakin banyak pemuda nagari tetap memilih pergi merantau.
Baca Juga: Irigasi Putus Total di Tigo Jangko Tanahdatar, 700 Hektare Sawah Terancam Kekeringan
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan mendasar masyarakat, terutama terkait lapangan pekerjaan dan masa depan generasi muda di kampung halaman.
Hari ini banyak nagari memiliki jalan yang lebih bagus dibanding beberapa tahun lalu, tetapi aktivitas ekonomi masyarakat tidak berkembang signifikan.
Infrastruktur memang mempermudah mobilitas, namun belum tentu mampu menciptakan kesempatan kerja yang memadai bagi masyarakat lokal. Akibatnya, pembangunan hanya menghadirkan perubahan fisik tanpa diikuti perubahan kesejahteraan yang nyata.
Baca Juga: Conor McGregor Resmi Kembali ke UFC Lawan Max Holloway Setelah 5 Tahun Absen
Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan teori pembangunan manusia (human development) yang dipopulerkan Mahbub ul Haq dan dikembangkan dalam konsep UNDP.
Dalam teori ini, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi dari peningkatan kualitas hidup manusia, seperti pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan kemampuan masyarakat mengembangkan potensinya.
Artinya, keberhasilan pembangunan bukan sekadar tentang banyaknya proyek yang dibangun, melainkan apakah pembangunan tersebut benar-benar mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Baca Juga: Pria Lansia Ditemukan Tewas Mengapung di Banda Bakali Parak Gadang
Di banyak daerah di Sumatera Barat, pembangunan masih cenderung berfokus pada infrastruktur fisik. Jalan dibangun, kantor diperbesar, taman diperindah, tetapi pengembangan
ekonomi produktif masyarakat sering belum menjadi prioritas utama.
Padahal persoalan utama generasi muda hari ini bukan hanya akses jalan, melainkan minimnya peluang ekonomi di kampung sendiri. Banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak di daerahnya. Akhirnya, merantau tetap dianggap sebagai pilihan paling realistis untuk memperbaiki kehidupan.
Tradisi merantau memang menjadi bagian dari budaya Minangkabau. Namun kondisi hari ini berbeda. Dahulu merantau dilakukan untuk memperluas pengalaman dan memperkuat ekonomi keluarga, sementara sekarang banyak pemuda pergi karena merasa kampung halaman tidak mampu menyediakan masa depan.
Baca Juga: Penelitian Ungkap Roblox Gunakan Sistem Belanja dalam Game yang Dapat Menyesatkan Anak
Jika kondisi ini terus berlangsung, nagari akan kehilangan sumber daya manusia produktifnya. Nagari ini hanya akan dihuni kelompok usia tua, sementara generasi muda berkembang di luar
daerah. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal dan melemahkan kapasitas pembangunan nagari itu sendiri.
Masalah lainnya ialah pembangunan ekonomi lokal yang belum berbasis potensi masyarakat. Banyak daerah memiliki potensi pertanian, perikanan, pariwisata, hingga UMKM, tetapi belum
dikelola secara maksimal. Pemerintah sering lebih fokus pada pembangunan proyek jangka pendek dibanding membangun sistem ekonomi yang berkelanjutan.
Padahal jika pembangunan diarahkan pada penguatan ekonomi lokal, pemuda sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang di daerah sendiri. Pertanian modern, industri kreatif
berbasis budaya Minangkabau, hingga pengembangan usaha digital dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi generasi muda.
Baca Juga: Truk Rusak di Sitinjaulauik, Jalur Solok-Padang Alami Perlambatan Arus
Karena itu, pembangunan daerah perlu bergeser dari sekadar pembangunan fisik menuju pembangunan manusia. Infrastruktur tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan
kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan penciptaan lapangan kerja lokal.
Nagari juga perlu diberi ruang lebih besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif sesuai potensi masing-masing wilayah. Pemuda harus dilibatkan sebagai pelaku utama pembangunan,bukan hanya penonton dari proyek-proyek pemerintah.
Jika tidak, pembangunan hanya akan menghasilkan jalan yang mulus untuk mempermudah orang meninggalkan kampung halaman.
Baca Juga: Satpol PP Padang Amankan 22 Orang dalam Operasi Pekat, 9 Botol Minol Disita di Siti Nurbaya
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan diukur dari seberapa banyak bangunan berdiri, tetapi dari seberapa besar masyarakat terutama generasi mudanya mau bertahan, berkembang, dan membangun masa depan di tanahnya sendiri. (*)
Editor : Tandri Eka Putra