Oleh: DASRUL SS MSI/ PENGIAT PARIWISATA DAN BUDAYA DI KOTA PADANG
PADEK.JAWAPOS.COM- Kota Padang tidak pernah kehabisan cerita untuk diceritakan lewat piring. Dari uap rendang yang mengepul di dapur nagari hingga suara sendok di piring sate Padang pada malam hari, kuliner Minangkabau sudah lama melampaui fungsi sebagai pengisi perut. Ia adalah bahasa budaya, penanda identitas, dan kini, menjadi mesin penggerak pariwisata. Melalui program unggulan “Padang Pusat Gastronomi Indonesia”, kota ini berpeluang menempatkan dirinya bukan hanya sebagai persinggahan, tetapi sebagai tujuan utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang autentik.
Gastronomi berbeda dari sekadar makanan. Ia merangkum sejarah, ekologi, sistem sosial, dan cara pandang sebuah masyarakat terhadap hidup. Rendang lahir dari kebiasaan menyimpan daging di daerah tropis tanpa lemari es. Sate Padang merefleksikan jaringan dagang pesisir barat Sumatera yang sejak abad ke-15 sudah bersentuhan dengan Arab, India, dan Tionghoa. Bahkan cara penyajian nasi kapau dengan aneka lauk di atas meja panjang mencerminkan nilai gotong royong dan keterbukaan masyarakat Minangkabau. Ketika wisatawan datang ke Padang, mereka sesungguhnya sedang diundang masuk ke dalam narasi panjang ini. Tugas kita adalah memastikan pintu itu terbuka dengan cara yang benar.
Pelua ng ekonomi yang terbuka dari sektor ini sangat nyata. Festival Rendang, Lebaran Ketupat, dan maraknya rumah makan Padang di berbagai kota besar membuktikan bahwa pasar sudah ada. UMKM kuliner, pengrajin kerupuk jangek, pembuat karak kaliang, hingga petani cabai di Solok dan Agam merasakan dampaknya. Jika dikelola secara sistematis, rantai nilai gastronomi bisa menyerap tenaga kerja lokal dari hulu ke hilir. Wisata kuliner tidak lagi berhenti pada transaksi makan, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang melibatkan pertanian, kerajinan, seni pertunjukan, dan jasa pemanduan wisata.
Namun peluang besar ini dibayangi oleh tiga persoalan utama. Pertama, komodifikasi tanpa konteks. Banyak rumah makan di Padang maupun di rantau menyajikan rendang instan, menggunakan bahan baku impor, dan menghilangkan proses memasak tradisional yang memakan waktu delapan jam. Wisatawan yang datang ke Padang sering kali mendapatkan pengalaman yang tidak jauh berbeda dengan makan di Jakarta atau Surabaya. Narasi budaya menjadi tipis, dan daya tarik destinasi menurun dalam jangka panjang.
Kedua, fragmentasi pelaku pariwisata. UMKM kuliner, komunitas seni, pemandu wisata, dan pengelola destinasi di Padang masih bekerja secara terpisah. Tidak ada jalur pengalaman yang jelas yang menghubungkan kunjungan ke Pasar Raya, workshop memasak di nagari, pertunjukan randai, dan kunjungan ke desa wisata sekitar. Akibatnya, wisatawan hanya singgah sebentar, belanja sedikit, lalu pindah ke Bukittinggi atau Danau Maninjau. Potensi spend per wisatawan tidak maksimal.
Ketiga, lemahnya kemampuan bercerita. Banyak pelaku kuliner tahu cara memasak, tetapi tidak mampu menjelaskan filosofi di balik setiap hidangan. Mengapa rendang dimasak perlahan? Apa makna katupek dalam adat pernikahan Minangkabau? Tanpa narasi, makanan menjadi konsumsi biasa. Dengan narasi, makanan menjadi memori. Sayangnya, pelatihan storytelling untuk pelaku UMKM masih jarang dilakukan secara sistematis.
Baca Juga: Pria Penderita Gangguan Mental Tewas dalam Sumur saat Hendak Mandi di Kuranji Padang
Solusinya harus bersifat aplikatif dan bisa dikerjakan langsung oleh pelaku pariwisata di Padang dan Sumatera Barat. Pertama, susun paket wisata “Raso Basamo” berbasis nagari. Paket ini menghubungkan dapur, pasar, dan panggung budaya dalam satu alur pengalaman. Misalnya, pagi hari wisatawan diajak menumbuk cabai dan memilih rempah di Pasar Raya Padang. Siang hari mereka belajar memasak rendang bersama mamak di nagari Sungai Sariak. Sore hari ditutup dengan pertunjukan tari piring di balai adat. Paket seperti ini bisa dijual melalui travel agent lokal dan platform digital dengan harga yang memotong rantai perantara. Hasilnya, pendapatan langsung masuk ke masyarakat nagari, bukan hanya ke agen besar di Jakarta.
Kedua, ciptakan sertifikasi “Dapur Budaya Minangkabau”. Sertifikasi ini tidak perlu rumit. Cukup tiga kriteria: mempertahankan metode memasak tradisional, menggunakan minimal 70 persen bahan lokal, dan mampu menceritakan asal-usul hidangan kepada pengunjung. Rumah makan yang lulus sertifikasi mendapat papan penanda khusus dan dimasukkan ke dalam peta digital wisata gastronomi Padang. Bagi wisatawan, ini menjadi penanda kepercayaan. Bagi pelaku, ini menjadi insentif untuk menjaga standar dan keaslian.
Ketiga, percepat digitalisasi narasi budaya. Generasi wisatawan sekarang mencari destinasi lewat Instagram, TikTok, dan YouTube. Video 60 detik tentang “mengapa sambal lado mudo rasanya berbeda” atau “proses membuat lamang tapai di nagari” lebih efektif menarik minat daripada brosur tebal. Dinas Koperasi & UKM bersama komunitas kreatif Padang bisa mengadakan pelatihan pembuatan konten singkat untuk 100 UMKM kuliner per tahun. Konsistensi konten akan memperkuat citra Padang sebagai pusat gastronomi di ruang digital.
Baca Juga: Cuaca Payakumbuh Hari Ini 18 Mei 2026: Pagi Cerah Berawan, Siang Mulai Berawan
Keempat, buat kalender event bulanan yang mengaitkan kuliner dengan seni dan kerajinan. Festival tahunan bagus, tetapi tidak cukup. Perlu ada “Minggu Rendang” di kawasan Batang Arau, pasar malam sate Padang di Pantai Padang setiap akhir pekan, dan workshop saluang di Kawasan Kota Tua. Libatkan perantau Minang di Jabodetabek sebagai pasar sekaligus duta. Mereka membawa jaringan, modal sosial, dan rasa rindu kampung halaman yang bisa dikonversi menjadi kunjungan nyata.
Peran pemerintah kota dan provinsi di sini adalah sebagai fasilitator. Dinas Pariwisata perlu menyediakan data kunjungan, memfasilitasi perizinan, dan menghubungkan pelaku dengan pasar. Dinas Kebudayaan dan Dinas Koperasi & UKM bisa membantu kurasi konten dan pelatihan. Sementara itu, pelaku swasta, komunitas, dan nagari harus menjadi eksekutor lapangan yang menjaga keaslian sekaligus berani berinovasi. Tanpa keseimbangan ini, program gastronomi hanya akan menjadi slogan di atas kertas.
Mengelola wisata budaya di Padang sejatinya adalah soal menjaga integritas rasa. Setiap gigitan rendang, setiap sendok gulai, setiap kerupuk jangek yang renyah membawa cerita tentang tanah, adat, dan manusia Minangkabau. Jika cerita itu hilang, yang tersisa hanya makanan. Jika cerita itu hidup, Padang akan selalu punya alasan untuk membuat wisatawan kembali.
Baca Juga: Sopir Ekspedisi di Payakumbuh Ditangkap usai Diduga Gelapkan Uang Operasional Rp5,8 Juta
Program “Padang Pusat Gastronomi Indonesia” tidak akan berhasil jika hanya diurus oleh pemerintah. Ia membutuhkan kolaborasi aktif dari pelaku pariwisata, dari pemilik rumah makan kecil di Pasar Raya hingga pemandu wisata di nagari. Ketika rasa bertemu dengan cerita, dan cerita dikelola menjadi pengalaman, maka Padang tidak hanya menjadi destinasi kuliner. Ia menjadi ruang hidup budaya Minangkabau yang terus bertumbuh dan relevan bagi generasi mendatang.
Editor : Tandri Eka Putra