Penulis : Bunga Sepfiolha dkk - Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang
Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang saat ini menjadi perhatian adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kehadiran AI membuka berbagai peluang baru dalam proses pembelajaran, mulai dari membantu guru menyusun perangkat ajar, membuat media pembelajaran yang menarik, hingga menyediakan sumber belajar yang lebih kreatif dan interaktif.
Di tengah perkembangan tersebut, Sekolah Dasar (SD) sebagai fondasi pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Saat ini, peserta didik hidup di era digital yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Mereka tumbuh bersama internet, gawai, dan berbagai aplikasi digital yang terus berkembang.
Kondisi ini menuntut dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai sumber utama informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik dalam memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul pertanyaan penting: siapkah guru menghadapi era AI di sekolah? Pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam dunia pendidikan belum sepenuhnya berjalan optimal. Masih ditemukan guru yang mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kondisi ini menjadi tantangan karena keberhasilan transformasi pendidikan digital tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang menggunakannya.
Berdasarkan observasi di beberapa SD di Padang, kompetensi guru dalam penggunaan teknologi digital dan AI masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Hal ini terlihat pada salah satu SD swasta di Padang yang telah memiliki tim penggerak teknologi untuk membantu pengembangan media pembelajaran digital seperti video pembelajaran dan Canva.
Namun, belum semua guru mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara mandiri dan optimal. Akibatnya, kualitas pembelajaran yang diterima peserta didik belum merata.
Guru yang memiliki kemampuan digital yang baik cenderung mampu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, kreatif, dan interaktif. Mereka dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyajikan materi dengan cara yang lebih mudah dipahami peserta didik.
Sebaliknya, guru yang masih memiliki keterbatasan dalam penguasaan teknologi cenderung menggunakan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi digital yang perlu segera diatasi.
Padahal, jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna bagi guru. Berbagai aplikasi berbasis AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, merancang soal evaluasi, membuat media pembelajaran, hingga memberikan inspirasi kegiatan belajar yang lebih inovatif.
Guru juga dapat memanfaatkan AI untuk membuat cerita bergambar, menyusun latihan soal sesuai tingkat kemampuan peserta didik, atau merangkum materi pembelajaran secara lebih cepat.
Kehadiran AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Masih terdapat anggapan bahwa AI dapat menggantikan peran guru di masa depan. Padahal, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan peran guru sepenuhnya.
Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai karakter, membangun hubungan emosional, serta membimbing perkembangan sosial peserta didik.
Namun, rendahnya kompetensi digital guru tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utamanya adalah masih terbatasnya pelatihan berkelanjutan terkait pemanfaatan teknologi dan AI dalam pembelajaran.
Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa penggunaan AI merupakan sesuatu yang rumit, padahal banyak aplikasi AI yang sebenarnya mudah digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Selain peningkatan kompetensi digital, pemanfaatan AI dalam pendidikan juga perlu disertai dengan pemahaman etika penggunaan teknologi. Guru perlu membimbing peserta didik agar menggunakan AI secara bertanggung jawab, tidak sekadar menyalin informasi yang dihasilkan, tetapi mampu mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna.
Dengan pendampingan yang tepat, AI dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kemandirian belajar peserta didik tanpa mengabaikan nilai kejujuran dan karakter.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk meningkatkan kesiapan guru menghadapi era AI di sekolah. Sekolah perlu menyediakan pelatihan yang berkelanjutan, pemerintah perlu mendukung penyediaan sarana dan program peningkatan kompetensi, dan guru juga perlu memiliki kemauan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, tantangan sebenarnya bukan terletak pada hadirnya AI, melainkan pada kesiapan manusia dalam memanfaatkannya secara bijaksana.
Guru yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi akan lebih siap menciptakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Dengan kesiapan tersebut, sekolah dapat menjadi ruang belajar yang inovatif, adaptif, dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan abad ke-21. (*)
Editor : Adriyanto Syafril