Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kampanye Kita Diam-diam Sudah Dibantu AI

Yayuk Lestari • Senin, 13 Juli 2026 | 07:10 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Penulis : Yayuk Lestari - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Sebuah video kampanye mun­cul di beranda. Kandidat berbicara lancar, menanggapi isu yang baru ramai beberapa jam sebelumnya. Suaranya terdengar meyakinkan, ekspresinya pas, dan pesannya seperti dibuat untuk menjawab kegelisahan kita. Masalahnya, belum tentu seluruh bagian video itu pernah benar-benar diucapkan atau direkam oleh sang kandidat.

Kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang kampanye politik dengan cara yang nyaris tidak terasa. Ia membantu menyusun pesan, membuat gambar dan video, mengolah suara, membaca kecenderungan pemilih, bahkan menyiapkan balasan komentar yang terdengar personal. Di layar ponsel, teknologi ini membuat kandidat tampak selalu hadir, cepat merespons, dan me­ngerti persoalan warga.

Bagi tim kampanye, kemampuan semacam itu tentu menggiurkan. Produksi konten menjadi lebih cepat dan murah. Satu pesan dapat diubah ke dalam banyak versi, lalu disesuaikan dengan kelompok pemilih yang berbeda. Kandidat tidak perlu selalu berada di depan kamera untuk tetap terlihat aktif. Kampanye pun bisa berlangsung hampir tanpa jeda.

Namun, kemudahan itu membawa persoalan yang tidak kecil. Ketika teknologi mampu meniru wajah, suara, dan gaya bicara seseorang, publik semakin sulit membedakan mana komunikasi politik yang benar-benar berasal dari kandidat dan mana yang merupakan hasil rekayasa digital.

Rasa Dekat yang Dibuat oleh Data

Daya tarik kampanye berbasis AI bukan hanya terletak pada tam­pilannya yang lebih menarik. Ke­kuatan utamanya justru ada pada kemampuan membuat pesan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari pemilih. Seseorang yang sering mencari informasi tentang harga pangan mungkin lebih banyak menerima konten kampanye tentang kebutuhan pokok. Warga yang mengeluhkan kemacetan dapat disuguhi janji perbaikan transportasi. Pemilih muda yang terbiasa menonton video pendek akan menerima pesan politik dalam format yang ringan, cepat, dan mudah dibagikan.

Kesan yang muncul adalah kandidat memahami kebutuhan kita secara pribadi. Padahal, kedekatan itu sering dibangun dari jejak digital: apa yang kita tonton, sukai, komentari, atau cari di internet. Data tersebut dibaca, dikelompokkan, kemudian digunakan untuk memilih pesan yang paling mungkin menarik perhatian kita. Di titik ini, pemilih perlu membedakan antara didengar dan dipetakan. Keduanya bisa terasa sama, tetapi prosesnya berbeda. Didengar berarti ada hu­bungan dan tanggung jawab. Dipetakan berarti perilaku kita dihitung untuk memperkirakan respons politik yang paling menguntungkan pengirim pesan.

Masalahnya Bukan Hanya Deepfake

Perbincangan tentang AI dalam politik sering langsung mengarah pada deepfake. Kekhawatiran itu beralasan. Saat ini, rekaman suara atau video palsu dapat dibuat dengan perangkat yang semakin mudah dijangkau. Dalam suasana politik yang panas, potongan video palsu tidak memerlukan waktu lama untuk menyebar. Klarifikasi biasanya datang belakangan, ketika kemarahan atau kecurigaan telanjur ter­bentuk.Akan tetapi, ancaman AI tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan besar yang mudah disebut palsu. Manipulasi juga dapat bekerja melalui perubahan kecil: intonasi yang diperhalus, ekspresi yang diperbaiki, jawaban yang disusun agar terdengar lebih empatik, atau iklan yang hanya memperlihatkan informasi tertentu kepada kelompok tertentu. Konten seperti itu mungkin tidak sepenuhnya bohong. Justru karena tampak masuk akal, ia lebih sulit dipersoalkan. Publik tidak selalu tahu bagian mana yang dihasilkan mesin, data apa yang digunakan untuk menyusun pesan, dan siapa yang bertanggung jawab ketika materi tersebut menyesatkan. Jika keadaan ini dibiarkan, dampaknya bukan hanya merugikan satu kandidat atau satu kelompok pemilih. Kepercayaan terhadap informasi politik secara keseluruhan dapat menurun. Setiap video bisa dicurigai palsu, sementara konten palsu dapat dengan mudah dibela sebagai hasil manipulasi pihak lain. Pada akhirnya, publik kehilangan pegangan untuk menentukan apa yang layak dipercaya.

Kemampuan mengenali konten buatan AI juga tidak merata. Sebagian orang terbiasa memeriksa sumber, membandingkan pemberitaan, dan mencari versi lengkap sebuah video. Sebagian lainnya menerima informasi dari grup percakapan keluarga, potongan video pendek, atau akun yang mereka percaya sejak lama. Perbedaan ini bukan sekadar soal siapa yang lebih mahir menggunakan teknologi. Literasi digital juga dipengaruhi oleh akses informasi, pendidikan, kebiasaan bermedia, dan lingkungan sosial. Di wilayah atau kelompok masyarakat yang pilihan sumber informasinya terbatas, satu video yang terlihat meyakinkan dapat memiliki pengaruh jauh lebih besar.

Karena itu, pembicaraan tentang AI dalam kampanye tidak bo­leh berhenti pada kecanggihan alat. Persoalannya juga menyangkut ketimpangan. Teknologi yang sama dapat menjadi sarana kreativitas bagi satu kelompok, tetapi menjadi alat manipulasi terhadap kelompok lain yang tidak memiliki kesempatan cukup untuk memeriksa kebenarannya.

Transparansi Tidak Bisa Ditunda

Menghindari AI sama sekali bukan pilihan yang realistis. Teknologi ini akan terus digunakan dalam komunikasi politik karena efisien dan mudah dikembangkan. Yang perlu dibangun adalah aturan main yang jelas. Partai politik dan tim kampanye semestinya terbuka ketika menggunakan AI untuk menghasilkan atau mengubah materi kampanye. Publik berhak mengetahui apakah suara, gambar, atau pernyataan yang mereka terima merupakan dokumentasi asli, hasil pe­nyuntingan biasa, atau konten sintetis. Pemberian label bukan solusi sempurna, tetapi setidaknya memberi kesempatan kepada pemilih untuk menilai pesan dengan lebih sadar.

KPU dan Bawaslu juga perlu menempatkan penggunaan AI sebagai bagian dari pengawasan kampanye, bukan sekadar isu teknologi. Batas antara kreativitas, manipulasi, dan pemalsuan harus dirumuskan secara tegas. Mekanisme pelaporan serta penelusuran pihak yang memproduksi dan menyebarkan konten menyesatkan juga harus mudah digunakan, terutama menjelang pemungutan suara ketika dampak sebuah informasi dapat berlangsung sangat cepat. Media massa memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya. Verifikasi politik kini tidak cukup hanya memeriksa isi pernyataan. Keaslian gambar, video, dan suara juga perlu diuji. Jurnalis daerah bahkan memiliki keunggulan karena mengenal kebiasaan, gaya bicara, serta konteks sosial tokoh-tokoh setempat. Kejanggalan yang luput dari alat pendeteksi dapat terlihat oleh wartawan yang memahami medan.

Pemilih memang tidak mungkin memeriksa setiap konten dengan perangkat khusus. Namun, langkah sederhana tetap dapat dilakukan: menelusuri sumber awal, mencari pemberitaan pembanding, memeriksa versi lengkap video, dan tidak langsung membagikan konten yang memancing emosi. Karena itu, ma­syarakat membutuhkan literasi digital, yaitu kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan informasi digital secara kritis.

Pada akhirnya, AI tidak mengubah tujuan kampanye politik, yaitu memperoleh kepercayaan, tetapi mengubah cara kepercayaan itu dibentuk. Kedekatan kini dapat diproduksi melalui data, penam­pilan diperbaiki oleh mesin, dan respons dibuat seolah datang langsung dari kandidat. Pemilih tidak perlu memusuhi teknologi, tetapi harus lebih kritis terhadap kemudahan yang ditawarkannya. Dalam demokrasi, keputusan politik seharusnya lahir dari informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar gambar dan suara yang tampak meyakinkan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
opini Opini Padek