Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Penulisan Puisi Dengan Teknik Permainan Kata Berantai

Novitri Selvia • Selasa, 26 Juli 2022 | 10:26 WIB
Photo
Photo
Menulis puisi merupakan hal yang dianggap rumit bagi peserta didik. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan pembelajaran menulis puisi masih mengalami berbagai hambatan. Hambatan-hambatan tersebut berasal dari peserta didik maupun guru. Peserta didik cenderung lebih suka menulis diari atau mengarang popular dari pada menulis puisi.

Menulis puisi kadang menjadi beban terberat bagi peserta didik. Hal ini karena mereka beranggapan bahwa menulis puisi terlalu berat dari segi bahasa baik penggunaan diksi, penyimbolan, dan penafsiran. Belum tercapainya tujuan pembelajaran menulis puisi di SMA 1 Batusangkar disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor guru dan peserta didik.

Penyebab utama belum tercapapainya pembelajaran puisi antara lain karena rendahnya kompetensi guru dalam membimbing menulis puisi. Bahkan mereka para guru bahasa Indonesia tidak pernah atau tidak suka menulis puisi. Guru bahasa Indonesia ketika mengajarkan hanya menggunakan metode ceramah.

Peserta didik hanya mendengarkan ceramah guru setelah itu langsung memerintahkan peserta didik membuat sebuah puisi tampa mencontohkan bagaimana cara membuat puisi yang baik dan benar. Kebanyakkan guru hanya bisa menyuruh tetapi tidak bisa mencontohkan. Tentu dalam hal ini peserta didik juga tidak medapatkan contoh pembelajaran yang baik.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan masalah utama rendahnya kompetensi peserta didik menulis puisi disebabkan beberapa hal, diantaranya: peserta didik merasa tidak berbakat dalam menulis puisi, peserta didik merasa tidak mempunyai inspirasi, ia beranggapan menulis puisi itu sulit, dan menganggap menulis puisi tidak ada gunanya.

Selain itu, peserta didik belum mendapatkan bimbingan yang inofatif dari guru dalam proses pembelajaran puisi. Melihat fenomena di atas. Jelas hal ini harus menjadi perhatian serius bagi guru bahasa Indonesia. Dengan diberlakukannya merdeka belajar, guru diberikan kebebasan untuk merancang pembelajaran.

Terutama pembelajaran tentang menulis puisi. Dalam merancang pembelajaran ini diperlukan kreativitas independen guru untuk mendesain pembelajaran menulis puisi yang menarik kepada peserta didik.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis menawarkan suatu solusi yang menurut penulis sangat tepat agar menulis puisi menjadi pelajaran yang menarik bagi peserta didik yaitu dengan menggunakan teknik permainan kata berantai. Cara ini dianggap efektif untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis teks puisi.

Selain teknik ini praktis cara ini juga menyenangkan karena disajikan dalam bentuk permainan. Teknik ini melibatkan secara berkelompok. Menjawab fenomena di atas sangat diperlukan kreativitas guru menemukan inovatif-inovatif pembelajaran terutama dalam pembelajaran menulis puisi yaitu dengan teknik bermain kata berantai.

Pada kegiatan pendahuluan peserta didik berinteraksi dengan guru memperbincangkan pengalamannya bersentuhan dengan puisi baik dalam konteks mendengarkan, membaca, atau menulis puisi. Melalui interaksi yang hangat, peserta didikakan merasakan betapa penting dan bermanfaatnya penguasaan kompetensi menulis teks puisi.

Kegiatan Inti

Teknik kata berantai merupakan teknik kerja sama yang dilakukan oleh peserta didik dengan peserta didik lainya.Teknik ini mirip dengan teknik bisik berantai, hanya saja dilakukan dengan dituliskan. Supaya menarik dan lebih menambah semangat peserta didik dalam berkarya, bentuklah beberapa kelompok kerja.

Dalam satu kelas bisa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota antara 4 hingga 6 peserta didik.Masing-masing peserta didik mendapatakan nomor urut. Bila pesertanya 5 maka nomor urut 1 sampai dengan 5.

Pengelompokkan peserta didik bisa berdasarkan urut absen maupun random, tetapi diusahakan agar peserta didik tidak memilih sendiri anggota kelompoknya sehingga kemampuan pesertanya bisa homogen.Semakin homogen semakin baik.

Berikan nama kelompok sesuai yang ditentukan guru, agar menambah semangat dan antusias peserta didik berkarya. Misalnya kelompok  Amir Hamzah, Putu Wijaya, W.S Rendra dll. Ini hanya untuk memudahkan memanggil dan mengidentifikasi tema yang akan diusung masing-masing kelompok.

Langkah selanjutnya adalah masing-masing kelompok mencabut tema yang sudah disediakan guru. Setelah mendapat tema, semua merenung diam sejenak untuk mencari inspirasi  memilih diksi yang baik, dan langkah selanjutnya memberi kesempatan peserta didik dengan nomor urut 1 untuk menuliskan kata pertama dari puisi tersebut.

Kata pertama yang ditulis menjadi patokan untuk menulis kata pada baris berikutnya. Tentukan waktu berimajinasi sehingga tidak molor. Pindahkan kertas dari peserta didik nomor 1 ke peserta didik nomor 2. Selanjutnya peserta dengan nomor urut 2 merenung beberapa saat untuk melanjutkan menulis kata sambungan dari kata pertama tadi dengan pena tinta yang berbeda.

Tentu saja kata-kata yang dituliskan harus terorganisasi dari konsep kata dan nuansa yang dibangun sebelumnya.Demikian seterusnya hingga sampai pada peserta ke enam. Setelah peserta ke enam selesai ia memberikan lagi ke peserta pertama untuk menyambung kata berikutnya.

Sampai selesai sebuah puisi tersebut permainan kata berantai ini masing-masing peserta bisa mendapat bagian menulis empat sampai enam kata. Setelah satu puisi selesai, peserta didik secara bersama-sama merumuskan judul dari puisi tersebut serta menyunting kembali hasil karya mereka.

Membaca larik demi larik dan memperbaiki kembali kalimat yang dianggap kurang pas menurut ukuran kemampuan mereka.Langkah editing ini perlu sekali sebagai bentuk kebersamaan dalam kelompok untuk memperoleh hasil optimal. Langkah terakhir dalam pembelajaran puisi adalah dengan membacakan hasil karya kelompok di depan kelas.

Kelompok lain diperkenankan untuk bertanya ataupun memberikan masukan pada peserta yang tampil. Alhasil dengan tips dan trik di atas  dapat merangsang peserta didik untuk berimajinasi dengan ringan tanpa terbebani bayangan sulit menulis puisi. Tumbuh pula rasa percaya diri untuk mengekspresikan diri. (*)(Noflismen Anas, Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Batusangkar) Editor : Novitri Selvia
#Noflismen Anas #Penulisan Puisi Dengan Teknik Permainan Kata Berantai #SMAN 1 Batusangkar