Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Merajut Keistimewaan Ramadhan di Era Berkemajuan

Novitri Selvia • Rabu, 5 April 2023 | 10:29 WIB
Leonardy Harmainy Ketua Badan Kehormatan DPD RI
Leonardy Harmainy Ketua Badan Kehormatan DPD RI
RAMADHAN adalah bulan penuh hikmah bagi siapapun yang memiliki kesempatan merenungi dalam suasana batin paling khusuk dan tawaduk. Apalagi dengan menjalankan seluruh perintah dan sunnah yang mengiringi ibadah puasa, terasa Ramadhan sebagai arena olah jiwa-raga agar menjadi manusia sempurna (insan kamil).

Mari kita bersyukur, masih bertemu dengan bulan suci Ramadhan tahun ini. Bila ingat masa pandemi tiga tahun belakangan, dunia terasa akan berakhir saja. Runtuhnya sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi, membuat banyak usaha yang tersungkur. Begitu juga korban nyawa. Begitulah Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya di atas kepongahan umat manusia.

Alhamdulillah, kini kita bisa menikmati ibadah puasa sebagaimana semula sehingga banyak yang sudah pergi menunaikan umrah ke Tanah Suci, sudah bisa tarawih tanpa jarak di masjid, sungguhpun kita harus tetap waspada akan gejala virus korona.

Kewaspadaan dan tawakal harus ditempatkan pada posisi ini agar jangan lupa. Sang Khalik selalu tahu apa yang dilakukan oleh para makluk. Keistimewaan bulan Ramadhan itu, salah satunya adalah perbedaan antara pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya.

Belasan dan puluhan bulan suci Ramadhan yang sudah dilewati semasa hidup, sesungguhnya selalu ada perbedaan pengalaman. Selain masa pandemi yang sangat menyentakkan umat, tentu secara personal kita memiliki pengalaman-pengalaman unik, secara budaya dan spiritual.

Penulis merasakan pengalaman berkesan berbeda setiap Ramadhan yang dilalui. Salah satunya cara pandang (perspektif) yang terus berkembang, berubah dan menjadi keniscayaan.

Ternyata begitu beda makna bulan suci Ramadhan ketika masa kecil, remaja, muda, dewasa hingga tua dan memiliki cucu yang segera pula beranjak remaja. Sungguh dunia cepat berubah bahkan, dunia itu adalah perubahan itu sendiri.

Karena itu pula, bila kita tidak berubah, waktu akan mengubah. Tak perlu kita sangsikan itu. Persoalannya, kita diubah waktu atau kita mengubah sendiri jalan hidup itu? Inilah pilihan bagi orang-orang yang berpikir. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

Ibadah puasa di bulan Ramadhan dapat menggunggah perasaan untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Ini bagian dari keistimewaan sebagai sarana latihan spiritualitas yang sangat agung, disiapkan bagi orang-orang beriman semata.

Artinya, tidak semata setelah beriman lalu tak perlu latihan. Senyatanya beriman seseorang sebagai pintu masuk untuk latihan lagi agar menuju tingkat lebih tinggi, menuju manusia terbaik dan sempurna (insan kamil).

Menjadi manusia terbaik tentu saja sulit namun semua itu bisa dijalani dengan tahapan menjadi manusia baik terlebih dahulu. Dua filosof dunia muslim, Ibn Arabi (1165-1240 M) dan Al-Jilli (1365-1424), menyatakan, insan kamil ialah manusia yang sempurna karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Sang Khalik.

Al-Jili membagi insan kamil atas tiga tingkatan, yaitu: tingkat permulaan (al-bidayah), merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi pada dirinya; tingkat menengah (at-tawasut), menghaluskan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (al-haqaiq ar-rahmaniyah); Dan tingkat terakhir (al-khitam), merealisasikan citra Tuhan secara utuh.

Tahapan inilah membuat manusia memiliki kualitas dan kesempurnaan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Kini manusia modern telah hidup dengan teknologi informasi yang diciptakan atas ilmu pengetahuan yang dikembangkan.

Era digital membuat semua serba mudah, telah pula membuat rasa angkuh dan tinggi hati. Keangkuhan manusia modern adalah menganggap kesempurnaan dapat dicapai semata dengan ilmu pengetahuan tanpa disertai dengan spiritualitas.

Pada titik ini posisi ibadah puasa di bulan Ramadhan kian terasa hampir tidak relevan bagi orang modern sampai hidupnya memiliki persoalan spiritual. Ketika keseimbangan terganggu antara rasionalitas dan spiritualitas, manusia umumnya akan mencari sesuatu yang berbeda.

Banyak kasus, rasionalitas ternyata punya batas dan sering sekali penalaran terganngu dengan hawa nafsu. Di sinilah spiritualitas bisa menjawab masalah manusia modern. Sungguh pun bagi manusia dengan era kecanggihan kemajuan teknologi, puasa bisa jadi sebatas ritual berlapar-lapar semata.

Pada sisi lain, ibadah puasa tetaplah istimewa dipandang oleh orang-orang beriman. Keistimewaan yang sulit diceritakan karena merupakan pengalaman batin. Sekalipun dapat diungkapkan, tiadalah seutuhnya keistimewaan itu tuntas diceritakan.

Bila dari perspektif spiritual, ibadah puasa telah membawa seseorang mampu menahan hawa nafsu. Penulis sebagai bagian orang yang hidup di dunia tarekat, merasakan dunia sufi dan tasawuf dapat membungkam keinginan kecuali rindu kepada Sang Khalik.

Sementara itu, dari perspektif filosof seperti Ibnu Arabi dan Al-Jilli menjadi manusia sempurna (insanul kamil) sebagaimana halnya Nabi Muhammad Saw, ibadah puasa adalah salah satu jalan kecil yang bisa dilalui oleh siapapun ummat Islam.

Pada perspektif manusia modern yang mengutamakan penalaran logika, ibadah puasa bisa hanya menjadi penghambat produktivitas dunia industri. Sungguh pun pada sisi lain, budaya hidup bulan suci Ramadhan meningkatkan daya beli yang memaksakan produksi dilakukan sebelum Ramadhan tiba.

Begitulah, dari berbagai perspektif bulan Ramadhan adalah rahmat terbesar yang diberikan Allah SWT. Puasa laksana sebuah perang besar ke dalam diri untuk menjadi fitri, melebihi perang-perang terbesar yang pernah ada pada masa Islam ditegakkan.

Bagi mereka yang mampu melihat hikmah lain, Ramadhan akan selalu memiliki hikmah bagi sebuah kelompok, keluarga, negara bahkan terhadap seseorang yang sedang sendiri dalam kesepian.

Sekalipun segala teknologi informasi di era berkemajuan ini telah membuat “tuhan” tersendiri di dalam diri manusia, ibadah puasa di bulan suci Ramadhan adalah salah satu jawaban dari hati yang kering dan sepi. (Leonardy Harmainy, Ketua Badan Kehormatan DPD RI) Editor : Novitri Selvia
#Leonardy Harmainy #Era Berkemajuan #Merajut Keistimewaan Ramadhan