Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pertarungan Wajah Lama

Hendra Efison • Sabtu, 4 November 2023 | 14:25 WIB
Photo
Photo
Oleh : Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Aura dan dinamika kompetisi dalam satu wilayah tak akan selalu sama. Setiap masa selalu saja ada perubahannya. Jika dalam 10 tahun belakangan pertarungan politik di Dapil (Daerah Pemilihan) 2 Sumbar terbilang tajam, kini justru sebaliknya. Label "grup neraka" justru berpindah ranah dari Dapil 2 ke Dapil 1 Sumbar untuk Pileg DPR-RI.

Benarkah? Mari kita telisik satu persatu Caleg DPR-RI di Dapil 2 Sumbar. Dapil yang terdiri dari Pariaman, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Bukittinggi, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota ini justru terlihat "melandai landai" saja.

Tak begitu terasa persaingannya. Kalaupun ada yang agresif itu tak lebih karena dia merupakan pendatang baru. Secara logika orang yang baru membuka jalan tentulah harus meneruka. Sementara bagi yang sudah berpengalaman, mereka cukup merawat dan menjaga konstituennya.

Ada kharakter dan psikologis pemilih yang cukup berbeda antara Dapil 1 dengan Dapil 2 DPR RI asal Sumbar. Kalau di Dapil 1 warganya cendrung agak rasional justru sebaliknya di Dapil 2 agak fanatisme dan lokalisme.

Selain karakter pemilih yang berbeda, geopolitik bagi para kontestan pileg juga berbeda. Masing masing tokoh yang bertarung memiliki basis daerah yang dapat dimaintanance dan di jaga. Lihatlah satu persatu. Nyaris ke enam incumbent memiliki wilayah basis yang berbeda. Rezka Oktoberia (Demokrat) berasal dari Limapuluh Kota, Ade Rezki Pratama (Gerindra) berasal dari Bukittinggi, Guspardi Gaus (PAN) berasal dari Agam, Iqbal (PPP) berasal dari Maninjau, Jhon Kenedy Azis (Golkar) berasal dari Padang Pariaman dan Nelvi Irwan Prayitno berbasis di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Kini ke Enam incumbet dari partai yang berbeda ini kembali ikut bertarung. Diinternal partai masing masingnya juga masih didominasi nama lama. Kalaupun ada pembeda itupun re rata terjadi pada urutan 3 ke atas. Begitu juga dengan geopolitiknya. Kalau sebelumnya Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat menjadi "pasar bebas" Kini justru ada penghuninya.

Dominasi Wajah Lama

Nyaris tak banyak berubah. Selain pesertanya Geopolitik pileg di dapil 2 juga relatif sama. Tak ada lagi wilayah "pasar bebas" yang dapat menjadi wilayah rebutan. Semua wilayah sudah terisi dengan tokoh dan peserta yang siap baku hampeh dalam mendapatkan suara.

Benarkah? Mari kita bicara data. Dari Enam incumbent plus 1 PAW nya semuanya sama sama memiliki peluang yang sama. Kalaupun ada pendatang baru namun wajah lama yang akan menjadi rising star itupun tak akan lebih dari satu atau dua.

Kita coba telisik satu persatu tokoh yang bertarung. Di Demokrat ada dua tokoh besar yang diturunkannya. Ada Rezka Oktoberia dan Mulyadi. Partai Bintang Mercy ini diyakini masih bisa mengaman satu kursi di dapil 2.

Secara logika, Mulyadi tentulah memiliki peluang besar. Selain posisi sebagai ketua DPD Partai Demokrat Sumbar, Mulyadi adalah kader Demokrat yang sudah malang melintang. Periode lalu Mulyadi merupakan peraih suara terbanyak di Sumbar. Raihan suaranya mampu melampaui perolehan suara tokoh politik di dapil 1. Padahal dapil 1 jauh lebih luas dan banyak pemilihnya.

Secara geopolitik, Mulyadi jelaslah basis politiknya. Agam dan Bukittinggi selalu saja menjadi penyumbang suaranya. Mulyadi berbasis di luhak Agam dan mendapat pasokan suara yang nyaris merata dari enam kabupaten dan kota lainnya di dapil 2 Sumbar.

Begitu juga Rezka Oktoberia. Saat ini, bundo kanduang ini merupakan satu satunya wakil rakyat asal Luhak nan Bungsu. Walau berstatus incumbent PAW namun jangan pernah meremehkannya. Kerja politik dan pokok pikirannya jelaslah mampu menjaga dan maraup suara, setidaknya di kampung halaman yang menjadi daerah asalnya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Partai Gerindra. Ade Rezki Pratama yang sudah dua periode menjadi anggota DPR RI diyakini masih mampu mengamankan suaranya. Berbekal kerja politik dan je jearing relawannya Ade diyakini masih akan melenggang ke senayan. Lagian Ade juga merupakan politisi santun yang bekerja nyata dimata publik Dapil 2 Sumbar.

Sama dengan periode sebelumnya, Ade didampingi oleh Erizal Chaniago. Putra Luhak nan Bungsu ini periode sebelumnya juga cukup besar raiahan suaranya. Bagi Erizal, pengalaman periode lalu menjadi bekal dan modal untuk meraup suara lebih banyak diperiode berikutnya.

Dinamika politik yang cukup menajam justru terjadi pada Partai Golkar. Jhon Kenedy Azis sebagai incumbent mendapatlan lawan tanding yang sepadan. Jhon kenedy yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman kini mendapatkan kompetitor sepadan dari Pasaman. Dua tokoh ini diyakini bisa menaikan elektoral partai Golkar di Dapil 2 Sumbar.

Benarkah? Mari kita analisa. Jhon Kenedy adalah putra Padang Pariaman dan sudah dua periode menjadi anggota DPR RI. Di daerah basis (Padang Pariaman-Pariaman) Jhon Kenedy periode lalu berhasil mempertahankan suaranya. Padahal waktu itu persaingan cukup terbilang berat dan ketat. Selain wilayah basis, Jhon Kenedy cukup lumayan besar mendapatkan suara dari Pasaman dan Pasaman Barat.

Benny Utama yang diusung mendampingi Jhon Kenedy Azis diyakini membuat pembeda. Sebagai pendatang baru wajah lama, Benny Utama tak bisa dipandang sebelah mata. Ketokohan Benny Utama di Pasaman dan Pasaman Barat sangatlah kuat dan teruji.

Jejaknya ada. Dua kali ikut pileg Benny Utama selalu menang dengan suara yang nyaris melampaui bilangan pembagi pemilih. Baik untuk DPRD Pasaman maupun untuk DPRD Sumbar. Lihatlah jejak digitalnya.

Secara track record Benny Utama juga temasuk politisi role model. Benny Utama tercatat sebagai politisi yang pernah menempati tiga posisi yang berbeda. Pernah menjadi Wakil Bupati, pernah menjadi Ketua DPRD dan tiga kali menjadi Bupati. Selain itu, Benny Utaka merupakan satu satunya Politisi di Sumbar yang bertarung dengan kotak kosong saat pilkada. Satunya lagi, Benny merupakan salah satu tokoh kharismatik yang maju dari Pasaman dan Pasaman Barat untuk DPR RI.

Dinamika yang hampir sama juga terjadi pada Partai Amanat Nasional. Incumbent Guspardi Gaus juga mendapat lawan sepadan diinternalnya. Arizal Azis sebagai pendatang baru tidaklah bisa di pandang sebelah mata. Kekuatan jaringan politik dan jaringan usaha Arizal Azis jelaslah menjadi modal politik untuk bertarung. Arizal Azis sebagai awner Indah Kargo berpotensi menjadi rising star di dapil 2.

Sementara itu kader. Muhamadiyah Guspardi Gaus jangan pernah melupakannya. Puluhan tahun berpolitik dan jatuh bangun dalam berpolitik pastilah menjadi bekal. Guspardi adalah petarung politik yang sudah matang. Apalagi lima tahun menjadi anggota Komisi II DPR RI Guspardi dipandang berprestasi.

Secara geopolitik, antara Arizal Azis dan Guspardi memiliki basis yang berbeda. Arizal Azis putra Padang Pariaman sementara Guspardi Gaus putra Guguak Kabupaten Agam. Dua kader ini yakini akan mampu meningkatkan suara Partai Amanat Nasional.

Walau didominasi wajah lama, Partai Nasdem siap dan bisa saja menyeruduk. Setelah tiga periode tak mendapatkan kursi di parlemen, kini justru berubah arah. Besar kemungkinan Nasdem akan dapat menyegel kursi. Setidak satu slot bisa di dapatkannya.

Kenapa? Anies Effect. Kefiguran Anies sebagai Capres Nasdem diyakini akan memberi dampak elektoral. Tanda tanda itu dilapangan mulai terasa. Sejumlah kadernya pun tak kenal lelah dalam bersosialisasi. Ada politisi perempuan muda Chindy Monica Salsabila. Selain muda dan energik, jejaring politiknya terbilang kuat.

Chindy didampingi Agus Susanto. Putra Pasaman Barat ini tidaklah bisa diabaikan. Agus Susanto pernah tercatat sebagai anggota DPRD Sumbar dan pernah duduk menjadi anggota DPR RI. Agus Susantopun pernah tercatat sebagai calon Bupati Pasaman Barat.

Selain Agus Susanto ada juga Irfendi Arbi. mantan Bupati Limapuluh Kota dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota ini juga termasuk tokoh politik yang diperhitungkan. Raihan suaranya dalam tiga kali kontestasi Pilkada menjadi bukti bahwa Irfendi cukup dikenal dan disukai masyarakat. Setidaknya masyarakat Limapuluh Kota dan Payakumbuh.

Sementara itu di kubu PKS dan PPP kondisinya tidaklah se dinamis partai lain. PKS kembali mengusung Nelvi Irwan Prayitno. Peraih suara terbanyak di PKS ini juga berhasil menjalankan amanahnya sebagai anggota DPR RI. Kerja kerja politiknya sangat terasa. Rajin turun ke dapil menjadi kata kunci untuk menjaga konstituen.

Nelvi tidak sendiri, mantan Walikota Payakumbuh dua periode Riza Pahlevi turut mewarnai pertarungan. Dilihat dan dikaji dari sudut manapun Riza pastilah menghasilkan dampak elektoral. Bisakah PKS membuka sejarah baru? Kita tunggu hasil pileg ini.

Begitu juga dengan PPP. Walau terkesan landai landai saja namun PPP selalu sukses mengirim M Iqbal setiap lima tahun ke DPR RI. Sama dengan tahun sebelumnya kali ini Hariadi kembali ikut bertarung dibiduk partai berlambang ka, bah itu. Apakah akan ada kejutan kita tunggu saja.

Lago Sakandang

Jangan pernah menganggap tokoh di luar partai sebagai lawan tanding. Mereka mereka itu pada hakikinya adalah sahabat yang dapat membantu dalam memenangkan kontestasi.

Lawan sejati seorang politisi adalah kawan satu partai. Kawan itu lah nanti manjadi kompetitor sejati. Sepanjang kita bisa memuncaki raihan suara diinternal maka kitalah yang menang. Peraih suara kedua akan melengkapi suara untuk peraih suara pertama. Bukankah itu lawan sejatinya?

Kini peluit pertadingan sudah ditiup. Bolapun sudah digulirkan. Setiap kontestan sudah mulai bertarung. Bertarunglah dengan fair. Ingat, proses tak akan mengkhianati hasil. Siapa yang bekerja keras akan muncul menjadi pemenang. Selamat bertarung wahai politisi. (***) Editor : Hendra Efison
#pileg 2024 #Pertarungan Wajah Lama