Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Agenda Ramadhan, Dari Kuantitas Menuju Kualitas

Novitri Selvia • Rabu, 27 Maret 2024 | 11:08 WIB

Awis Karni, Guru Besar UIN Imam Bonjol.(Padek.co)
Awis Karni, Guru Besar UIN Imam Bonjol.(Padek.co)
SUBUH pertama Ramadhan tahun ini ustadz yang akan memberikan tausiah tidak datang. Saya naik mimbar sebagai pengganti. Hal itu sering terjadi dan sudah berlangsung lama di mushalla di tempat saya tinggal.

Karena masih hari pertama, dalam rangka berbagi saya sampaikan ke jamaah bahwa kita perlu membuat agenda Ramadhan, mulai dari masalah pabukoan sampai masalah ibadah wajib dan lainnya sebagai pendamping kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan.

Saya ingat ibu ketika masih hidup. Menjelang Ramadhan beliau sudah menyiapkan gula tebu (saka) atau tangguli dalam menyambut Ramadhan. Bagi ibu, air saka atau tangguli itu adalah campuran utama untuk banyak jenis pabukoan.

Seperti; cindur, sarabi, apam, kolak pisang, bubur kacang hijau, roti amba; puncaknya nanti ibu membuat sari kayo telur yang dimakan bersama lamang ketan. Pokoknya air saka itu boleh dikatakan wajib sebagai pendamping utama pabukoan.

Suatu waktu pabukoan tidak sempat disiapkan ibu dan kakak saya karena harus bekerja di sawah sampai sore. Maka kami sekeluarga hanya berbuka dengan nasi seperti di luar Ramadhan. Setelah Tarawih, ibu mengatakan, “sepertinya kita belum berbuka saja karena tidak ada makan kolak atau bubur.”

Beliau mencari-cari sesuatu yang bisa disirami dengan air saka. Tidak ada yang didapatkan oleh ibu kecuali nasi, sisa makan berbuka yang sudah dingin. Akhirnya ibu menyirami nasi dingin itu dengan kuah saka. Kemudian beliau makan, kami tidak ikut.

Ayah saya mengatakan kepada kakak tertua saya, nanti jangan sampai tidak ada perbukaan yang akan disirami amak kalian dengan air saka. Ayah kasihan kepada ibu berbuka dengan nasi dingin disirami air saka.

Ibu juga punya jadwal secara natural mengundang orang berbuka di rumah. Mulai dari keluarga terdekat sampai murid-murid ayah (anak siak). Demikian ibu saya berkaitan dengan perbukaan.
Akan halnya ibadah shalat, ayah mewajibkan anak-anaknya dan beberapa anak siak yang tinggal di rumah kami atau di rumah sebelah untuk shalat berjamaah bersama ayah.

Rumah kami seperti surau tempat mengaji bagi anak siak, baik di luar maupun dalam bulan Ramadhan. Hari ini, sekarang kita bisa membuat agenda Ramadhan lebih tertib bisa dibantu dengan kertas atau teknologi yang ada di tangan kita. Android bisa mengingatkan kita kapan mau membaca Al Quran, Shalat Dhuha, Tahajud.

Dari segi kuantitas bisa kita agendakan untuk ditingkatkan. Umpama Shalat Duha selama ini dua rakaat ditambah jadi empat, dari empat menjadi delapan, sampai maksimal dua belas rakaat. Mungkin dari tidak pernah sebelumnya kita lakukan shalat sunat, puasa Ramadhan tahun ini kita mulai.

Begitu juga jumlah bacaan zikir kita bisa ditingkatkan secara kuantitatif. Jumlah uang atau sesuatu yang mau kita sedekahkan bisa juga ditingkatkan secara kuantitatif, biasanya dua ribu rupiah menjadi lima ribu rupiah, lima ribu rupiah menjadi sepuluh ribu; begitulah seterusnya (tidak perlu posting di media jenis apa saja).

Saya pernah dapat kiriman lewat media sosial berapa upah (pahala) akan diterima seseorang kalau dapat menamatkan membaca Al Quran satu juz perhari. Pahala yang diberikan Allah perhuruf, bukan perkata atau ayat. Bagi yang mau menghitung silahkan dihitung, begitu juga kerja baik lainnya termasuk sedekah, infak, zakat yang kita berikan.

Luar biasa pahala yang diberikan oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita tinggal masuk surga saja lagi. Aamiin. Bagi seorang muslim yang akan menjadi hamba Allah dalam arti yang sesungguhnya, dia tidak berhenti pada kuantitas, tetapi harus menuju kualitas.

Kualitas didapatkan tentu melalui proses yang panjang. Contoh dalam ibadah shalat yang paling sering dibahas para guru di mimbar. Shalat yang berkualitas dimulai dari terpenuhi dan terlaksana ketentuan pelaksanaannya secara syar’i, baik itu syarat dan rukunnya.

Memahami apa yang dilakukan dan dibaca ketika shalat. Disertakan dengan keikhlasan hati dan seterusnya. Di antara tanda shalat yang berkualitas ada berpengaruh dalam kehidupan, membawa orang melakukan kebajikan dan mencegah orang dari perbuatan yang tidak baik (kemungkaran), bukan mendukungnya.

Puncaknya nanti adalah seseorang yang shalatnya berkualitas adalah yang dia harapkan hanya (ridha) Allah SWT Yang Maha Kaya. Dia yakin bahwa seluruh prilakunya, baik yang bersifat duniawi dan ukhrawi yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dia betul-betul memasukkan dirinya kekelompok orang yang sujud. Ibadah yang dia lakukan mendatangkan keyakinan pada dirinya bahwa ia punya keterbatasan; sesuatu yang dia punyai ada batasnya.

Hal di atas adalah kesan dan pesan yang dapat diambil dari Firman Allah SWT Surat Al-Hijr ayat 98-99. “....maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.”

Walaupun ayat di atas berkaitan dengan kegundahan, kekhawatiran Nabi Muhammad SAW tentang respons penduduk Mekah dengan dakwah Islam yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan secara terbuka. Maka bersujud dan menyembah Allah SWT sebagai obat agar beliau tidak sesak nafas menghadapi komentar orang kafir Quraisy.

Begitu hendaknya secara ideal (kualitas) seluruh pengabdian (ibadah) kita kepada Allah SWT, bukan hanya shalat, tapi juga puasa, haji, zakat dan ibadah sunnah lainnya sebagai “enghambaan” diri kita kepada-Nya. Semuanya berujung kepada bahwa Allah-lah segalanya dan seluruh kebesaran dan kesempurnaan hanya milik Allah, kita hanya hamba-Nya.

Allah SWT juga memberikan ciri siapa yang termasuk hamba-Nya lewat firman-Nya yang kita jadikan sebagai alat ukur untuk mengaca siapa sesungguhnya yang benar-benar sebagai hamba Allah itu; apakah kita termasuk di dalamnya atau sudah menuju jalan kesana.

Di antaranya termaktub dalam Surat Al-Furqan, ayat 63-65. “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ’salam,’ Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri; Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal.”

Secara sederhana dapat dipahami bahwa hamba Allah itu adalah orang yang rendah hati (tidak sombong), menyebarkan kedamaian dalam kondisi apapun, menggunakan waktu malam untuk beribadah serta dia takut akan azab Allah.

Ramadhan tahun ini masih tersisa beberapa hari lagi. Aada waktu bagi kita mengevaluasi hari-hari yang sudah kita lalui dalam rangka mengoreksi agenda Ramadhan kita yang belum terisi dengan kebajikan.

Ada waktu bagi kita untuk melakukan perbaikan seandainya agenda Ramadhan kita belum diisi secara maksimal, baik kuantitatif maupun kualitatif. Dengan demikian tujuan dari puasa Ramadhan sebagai bulan latihan, membakar dosa, meningkatkan takwa bisa kita dapatkan.

Nanti kita kembali kepada-Nya dengan damai. Kita ditunggu di syurgaNya sebagai tamu istimewa, dikelompokkan menjadi Al-Saabiquun atau Al-Ashhaab al-yamiin. Aamiin, semoga Aamiin Aamiin ya rabbal aalamiin. (Awis Karni, Guru Besar UIN Imam Bonjol)

Editor : Novitri Selvia
#agenda ramadhan #Kuantitas Menuju Kualitas #Awis Karni