Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dampak Pajanan Pestisida Terhadap Kesehatan Petani di Sumatera Barat

Heri Sugiarto • Sabtu, 29 Juni 2024 | 16:20 WIB

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, Nelmi Silvia. (Foto: Dok. PRI)
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, Nelmi Silvia. (Foto: Dok. PRI)
Oleh: Dr. dr. Nelmi Silvia, MKK, Sp.Ok. Sp.KKLP, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.

SUMATERA BARAT merupakan salah satu provinsi yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian. Data Badan Pusat statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 6% dari penduduk Sumatera Barat tersebut tergolong ke dalam penduduk miskin dengan berbagai permasalahan sosial hingga kesehatan yang dialaminya sebagai kelompok masyarakat marginal.

Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa terdapat 751.992 petani pengguna lahan pertanian dan 402.610 petani gurem di Sumatera Barat. Jenis komoditas pertanian yang paling banyak diusahakan yaitu padi sawah inbrida, kelapa sawit dan pinang.

Produk pertanian yang dihasilkan telah memberikan kontribusi yang sangat strategis bagi pemenuhan pangan bagi masyarakat di Provinsi Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya. Produksi pertanian telah didistribusikan ke provinsi-provinsi lainnya.

Hal ini bermakna pula bahwa dalam keterbatasan yang ada, namun petani Sumatera Barat, telah memiliki kontribusi cukup besar terhadap daerah.

Sektor pertanian tidak hanya berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan warga Sumatera Barat, namun juga berperan penting terhadap perekonomian melaui besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Di sisi lain, dengan latar belakang tingkat sosial ekonomi, pendidikan serta pengetahuan dan kesadaran petani yang masih rendah terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Maka pekerjaan di sektor pertanian ini tidak disadari oleh petani sesungguhnya juga memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, petani berisiko terpajan berbagai pajanan di tempat kerja, baik fisik, kimia, biologi, ergonomi maupun psikososial. Salah satu pajanan yang sangat berisiko menimbulkan penyakit akibat kerja adalah bahan kimia pestisida.

Pestisida merupakan salah satu sarana budi daya pertanian yang berperan penting dalam produksi pertanian.

Pestisida sangat diperlukan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman yang disebabkan oleh hama tanaman, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan produksi pangan.

Pestisida ini berperan cukup besar dalam mengurangi kerugian panen yang disebabkan oleh hama. Namun di sisi lain pestisida juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan para petani.

Petani dapat terpajan pestisida ketika melakukan proses penyimpanan, pencampuran, penyemprotan dan pembuangan pestisida. Apalagi jika tidak dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai, akan semakin meningkatkan risiko terpajan pestisida. Pestisida masuk ke dalam tubuh terutama melalui kulit dan inhalasi.

Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), pestisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh hama seperti hewan pengerat, serangga atau tanaman.

Ada berbagai macam jenis pestisida yang digunakan untuk perlindungan tanaman pertanian mencakup insektisida, fungisida, herbisida, rodentisida, moluskisida, dan nematisida.

Insektisida merupakan jenis pestisida yang paling sering digunakan. Petani yang terpajan pestisida dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan baik akut maupun kronik.

Dampak kesehatan akut antara lain iritasi kulit berupa rasa terbakar, perih, gatal, ruam dan lepuh. Selain itu keluhan lain yang juga umum terjadi adalah sakit kepala, pusing, mual dan diare.

Sementara itu dampak kesehatan secara kronik yang paling sering dilaporkan adalah kanker, gangguan neurologis, gangguan reproduksi dan gangguan perkembangan.

Efek karsinogenik dari pestisida dapat menyebabkan terjadinya kanker. Jenis kanker yang sering dilaporkan antara lain multiple myeloma, limfoma non Hodgkin, kanker prostat, leukemia dan kanker payudara. Berbagai gangguan neurologis dapat terjadi pada pekerja yang terpajan pestisida.

Paparan pestisida dosis tinggi dan jangka lama dapat merusak sel-sel syaraf, sehingga meningkatkan risiko mengalami penyakit Parkinson.

Beberapa studi juga menunjukkan bahwa pestisida meningkatkan risiko terjadinya penyakit Alzheimer dan gangguan kognitif. Gangguan resproduksi dapat terjadi pada pekerja laki-laki ataupun perempuan yang terpajan pestisida di tempat kerja.

Gangguan reproduksi pada laki-laki berupa gangguan infertilitas akibat penurunan kualitas sperma baik dalam jumlah, motilitas, morfologi dan kerusakan DNA.

Begitu juga dengan pekerja perempuan yang terpajan pestisida berisiko mengalami gangguan reproduksi seperti menstruasi yang tidak teratur, penurunan kesuburan, gangguan ovarium dan gangguan fungsi hormonal.

Selain itu pada pekerja wanita hamil yang terpajan pestisida di tempat kerja dapat terjadi gangguan pada kehamilan dan perkembangan janin seperti abortus spontan, lahir mati, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kelainan perkembangan dan cacat lahir pada anak.

Berbagai faktor berkontribusi terhadap timbulnya dampak kesehatan tersebut pada petani. Masih banyak ditemukan petani menggunakan APD yang tidak memadai.

Hal ini dapat disebabkan karena ada biaya yang harus dikeluarkan untuk meyediakan APD tersebut, kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya APD, merasa tidak nyaman saat memakai APD, adanya persepsi bahwa APD tidak penting dan adanya kebiasaan menggunaan APD seadanya yang terjadi di kalangan petani.

Selain faktor APD, faktor perilaku yang tidak aman saat bekerja dengan pestisida, seperti makan, minum dan merokok saat menggunakan pestisida, tidak mencuci tangan atau mandi setelah menggunakan pestisida.

Di samping itu faktor lainnya adalah masih kurangnya pengetahuan petani mengenai cara penggunaan pestisida yang aman.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara menghindari atau mencegah dampak pajanan pestisida terhadap kesehatan petani?

Dalam konteks kedokteran kerja, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil dalam mencegah dampak kesehatan pestisida pada petani, di antaranya, pertama petani hendaknya menggunakan APD yang memadai ketika bekerja dengan pestisida baik saat menyimpan, mencampurkan, menyemprot maupun saat membuang pestisida.

APD apa saja yang harus dipakai biasanya tertera pada label produk. APD yang diperlukan dapat berupa pakaian pelindung, sepatu boots, sarung tangan, apron, respirator, kaca mata pelindung dan tutup kepala, tergantung jenis pestisidanya dan proses yang mau kita lakukan, mencampur atau menyemprot.

Kedua melakukan perilaku yang aman saat menggunakan pestisida. Tidak makan, minum atau merokok saat menggunakan pestisida, mencuci tangan atau mandi setelah menggunakan pestisida akan dapat meminimalisir pajanan yang masuk ke tubuh.

Ketiga, memberikan pelatihan penggunaan pestisida yang aman secara rutin pada petani juga perlu dilakukan sehingga diharapkan petani dapat melakukan penanganan pestisida sesuai dengan prosedur.

Keempat, pemerintah melalui puskesmas mengaktifkan kembali Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) petani yang sudah ada dan membentuk pos UKK baru pada kelompok tani yang belum memiliki pos UKK.

Pos UKK petani ini merupakan wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan petani yang teratur dan berkesinambungan yang dikelola dan dilaksanakan dari, oleh dan untuk petani dan puskesmas sebagai pembinanya.

Melalui kegiatan rutin Pos UKK minimal sekali sebulan petani bisa mendapatkan edukasi kesehatan kerja termasuk mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak buruk pestisida terhadap kesehatan.

Kelima diperlukan perhatian lebih dari pemerintah melalui kebijakan yang pro petani, termasuk pembinaan serta perlindungan kesehatan kerja petani, sehigga petani menjadi profesi yang mendapat perhatian dan perlindungan yang cukup dari negara yang memang sudah selayaknya dilakukan pemerintah saat ini dan seterusnya.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Nelmi Silvia #petani Sumatera Barat #kesehatan petani #apd #kanker #dampak pestisida #keamanan pangan #gangguan reproduksi